Industri Galangan Kapal Batam Masih Lesu, Pengusaha Tagih Janji Jokowi

1325
Pesona Indonesia
Kawasan Galangan Kapal di Tanjunguncang. Foto: Cecep Mulyana/batampos
Kawasan Galangan Kapal di Tanjunguncang. Foto: Cecep Mulyana/batampos

batampos.co.id – Para pelaku industri galangan kapal (shipyard) di Batam mempertanyakan keseriusan Presiden Jokowi memajukan sektor industri tersebut. Sebab faktanya, hingga saat ini industri shipyard di Batam masih tetap lesu.

Padahal, dalam kunjungannya beberapa waktu lalu, Jokowi berjanji akan mengarahkan kementerian dan BUMN untuk memesan kapal buatan Batam.

“Tapi yang saya dengar, sejauh ini baru Kementerian Perhubungan yang sudah menganggarkan pembelian kapal ke Batam,” kata Sekretaris Batam Shipyard Offshore Association (BSOA), Novi Hasni, Senin (26/10).

Itu pun, kata Novi, belum jelas berapa nominalnya. Selain itu, pemesanan bukan hanya di Batam, melainkan juga ke Surabaya.

Novi berharap agar Presiden Jokowi benar-benar menginstruksikan ke semua kementeriannya untuk memesan kapal dari Batam. Ini untuk menghidupkan kembali industri galangan kapal di Batam yang produktivitasnya menurun akhir-akhir ini.

Dia berharap apa yang disampaikan pak presiden saat ke Batam segera terwujud. Karena menurut Novi, janji presiden itu menyuntikkan semangat dan harapan baru bagi para pengusaha galangan kapal di Batam.

“Dan kami masih menunggu sampai sekarang,” katanya.

Selain sepi pemesanan dari dalam negeri, nilai ekspor kapal dari Batam juga tidak mengalami peningkatan. Industri galangan kapal saat ini malah semakin terpuruk karena masih tergantung pada komponen bahan baku dari luar negeri. Sementara dolar Amerika mengalami kenaikan.

Novi mengatakan ketersediaan komponen lokal untuk pembuatan industri galangan kapal masih sangat terbatas dan harganya lebih mahal dari komponen yang diimpor.

Ketua Apindo Kota Batam, OK Simatupang, juga mengakui industri galangan kapal di Batam belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sejumlah kementerian di pusat sejauh ini belum ada yang menandatangani kontrak pembuatan kapal di Batam.

“Sejauh ini belum ada. Kalau rencana pun belum ada yang langsung disampaikan ke kami,” katanya.

OK Simatupang mengakui, proses pemesanan kapal ini memang tidak bisa instan. Tetapi paling tidak sejak Juni lalu sudah ada tanda-tanda dalam waktu dekat dari kementerian untuk pesan kapal ke Batam.

“Kondisi di Tanjunguncang saat ini sangat memprihatinkan. Kalau dari semua kementerian beli kapal di Batam, bayangkan galangan kapal kita akan kembali hidup,” katanya.

Saat ini ada sekitar 110 perusahaan galangan kapal di Batam. Di mana semuanya berharap pemerintah pusat memberikan perhatian. Termasuk meminta dimudahkannya segala jenis perizinan.

Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono, juga mengaku hingga saat ini pemesanan kapal ke Batam dari luar negeri sangat minim. Ada beberapa negara yang sudah sempat melihat kapal ke Batam, tetapi hingga saat ini belum ada arahnya untuk tandatangan kontrak.

“Kalau Timor Timur sudah pernah ke Batam untuk melihat-lihat. Tetapi hingga kini belum ada arahnya ke sign contract,” katanya.

BP Batam sendiri juga mengklaim selalu rutin untuk mempromosikan galangan kapal Batam ke luar negeri. Ini untuk mendapatkan lebih banyak investor dan juga pelanggan yang ingin beli kapal buatan Batam.

“Baru-baru ini pak Fitrah, Deputi V berkeliling ke Jepang untuk promosi ini. Mudah-mudahan perusahaan di sana tertarik untuk beli kapal,” katanya.

Sebelumnya, Kepala perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, mencatat bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kontribusi kapal dan konstruksi terapung terhadap total ekspor cenderung terus menurun.

Ini dipengaruhi krisis di Timur Tengah dan penurunan pesanan kapal pengangkut hasil tambang pasca-diberlakukannya Undang-undang (UU) Minerba. Padahal, perusahaan galangan kapal Batam menghasilkan kapal maupun konstruksi terapung dengan standar internasional dan kualitas yang baik.

Sekitar 70 persen produk kapal Batam untuk ekspor, sedangkan 30 persen sisanya pesanan domestik. (ian/bpos)

Respon Anda?

komentar