Pertama di Kepri, Kuliah S1, Tapi Ijazah D3, Loh Kok Bisa..??? (2 Habis)

1116
Pesona Indonesia
Mahasiswa STIE GICI saat berdiskusi dengan kuasa hukum mereka, Ampuan Situmeang (pegang mic) belum lama ini. Foto:Angggie/batampos
Mahasiswa STIE GICI saat berdiskusi dengan kuasa hukum mereka, Ampuan Situmeang (pegang mic) belum lama ini. Foto:Angggie/batampos

batampos.co.id – Pada 14 Maret 2015 lalu, merupakan hari bersejarah bagi Rahma. Wanita berhijab ini menjalani wisuda oleh kampus GICI Business School Batam dengan Diploma III jurusan Manajemen Bisnis di Swiss Bel Hotel, Harbourbay. Segala sesuatu ia persiapkan untuk membuat hari bersejarah itu semakin spesial. Salah satunya dengan menghadirkan ibunya dari kampung halaman.

“Sekarang wisuda D3 dulu, satu bulan kemudian kami baru diwisuda S1. Rencananya diwisuda di Jakarta,” kata Rahma kala itu.

Namun selang dua bulan kemudian, Rahma tak juga mendapat kabar tentang wisuda S1 dari kampus. Ia dan teman-temannya semakin bingung. Namun kampus tetap berjanji akan mewisuda mereka. Namun waktunya belum pasti.

Ketidakjelasan itu membuat Rahma semakin galau. Rahma tak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk bercerita kepada rekan satu tempat tinggalnya pun ia masih enggan. Takut jika ia mendapat respon kurang bagus. Dan membuat pikirannya semakin gundah. Apalagi, jika nanti ibunya tahu. Ia harus menjawab apa?. Melukai, itu pasti, pikirnya.

“Jangankan S1, gelar DIII untuk Manajemen Bisnis pun tak kami dapatkan. GICI Batam hanya memberi DIII Akutansi, itupun atas nama Sekolah Tinggi Permata Harapan. Sementara kami kurang paham tentang akutansi, jurusan kami manajemen bisnis,” keluh Rahma.

Beberapa minggu setelah rasa gundah itu, Rahma mendapat kabar. Jika Kemenristek Dikti memantau GICI Batam. Kampus ini diketahui tak memiliki izin S1 bahkan D3 untuk jurusan apapun. Dikti akhirnya melarang Gici untuk mewisuda ratusan mahasiwa kampus itu ke Jakarta.

Dan untuk mahasiswa yang terlanjur diwisuda beberapa bulan sebelumnya, Dikti memberikan kemudahan. Dikti meminta GICI Batam melakukan transfer mahasiswanya untuk mendapatkan gelar sarjana di kampus lainnya di Batam. Tapi hal itu tak berjalan lancar. GICI Batam dianggap kembali menyalahi aturan hingga tiga pekan lalu, Kemenristek Dikti menonaktifkan kampus tersebut.

“Meski kini berstatus nonaktif, kami masih berharap GICI bisa aktif lagi. Dan kami diwisuda atas nama GICI,” terang Rahma.

Rahma mengaku tak punya pilihan lain, selain berharap GICI kembali aktif. Sebab, ia telah menempuh pendidikan di kampus tersebut selama 3,5 tahun. Tak hanya waktu, ia juga telah mengeluarkan puluhan juta untuk bisa mengikuti pendidikan di GICI Batam.

Diakui Rahma, saat mendaftar di GICI Batam pada tahun 2011 lalu, pihak kampus tak bisa menyebutkan akreditasi jurusan. Bahkan, untuk izin S1 belum didapat, meski di brosur dan iklan-iklan, GICI Batam menawarkan S1 jurusan Manajemen Bisnis dan jurusan lainnya. Namun keraguannya itu terbuang jauh-jauh saat manajemen GICI menyakinkan dirinya, jika izin S1 akan di dapat saat ia wisuda nanti. Jadi dirinya tak perlu untuk diwisuda di Jakarta.

“Saya bisa yakin karena kampus itu sudah beroperasi sejak tahun 2007. Bahkan sudah banyak yang menjadi alumni GICI Batam,” terang Rahma.

Memang, Rahma mengakui banyak ilmu yang ia peroleh dari GICI Batam. Salah satunya pembentukan karakter hingga sikap disiplin. Setiap mahasiwa yang ingin mengikuti mata kuliah diwajibkan memakai kemeja dan dasi, atau jas jika tak punya dasi. Mereka juga bisa menganti pakaian itu dengan batik. Tapi denganĀ  satu syarat bawahan harus tetap celana dasar dan sepatu pantovel. Begitu juga dengan mahasiswi yang diwajibkan memakai blazer atau batik. Jika melanggar, mereka tak bisa mengikuti mata kuliah.

“Tak boleh pakai jins. Kami juga tak bisa telat, satu menit telat, kami dilarang masuk. Awalnya memang kesal, tapi lama-kelamaan, kami mengerti jika diajarkan disiplin,” jelas Rahma.

Sementara itu, Rena mahasiwa semester tiga jurusan Manajemen Bisnis GICI Batam masih bingung dengan status kampusnya. “Sudah satu bulan saya tak masuk kampus,” katanya.

Menurut Rena, GICI Batam terlalu berambisi menerima mahasiwa meski tahu belum memiliki izin. Dia sendiri mengaku tertarikmasuk GICI karena kampusini membuka jurusan yang sesuai minatnya. Apalagi, ia pernah mendengar jika mahasiwa GICI Batam diwajibkan bekerja. Dan bagi yang belum bekerja, akan difasilitasi untuk bekerja.

“Saya sempat ragu, tapi di dekat rumah ada yang sudah jadi senior GICI dan sudah bekerja. Makanya saya yakin, dari awal mereka bilang wisuda dua kali. Pertama untuk DIII dan kedua untuk S1,” terang Rena.

Kini, Rena berharap agar GICI Batam bisa memindahkannya ke kampus yang jelas. Ia tak mengharapkan ganti rugi materi, karena waktunya telah habis tiga semester di kampus tersebut. Rena pun enggan melanjutkan kuliah di GICI Batam. (she/bpos)

Respon Anda?

komentar