Bu Bidan PNS di Batam Ini Dijerat Banyak Kasus Terkait Panti Asuhan yang Ia Kelola

1364
Pesona Indonesia
Sebelas anak panti asuhan yang ditampung oleh yayasan LKSH Tembesi Kebun, Batuaji. Empat balita lainnya ditampung di panti asuhan di samping RSBK. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Sebelas anak panti asuhan yang ditampung oleh yayasan LKSH Tembesi Kebun, Batuaji. Empat balita lainnya ditampung di panti asuhan di samping RSBK. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Ditreskrimum Polda Kepri terus menyelidiki sejumlah pelanggaran hukum yang terjadi di panti asuhan Rizki Khairunisa yang digerebek angggotanya beberapa waktu lalu di Batuampar, Batam.

Selain pelantaran dan penganiayaan, polisi juga menemukan adanya dugaan kasus pelecehan seksual terhadap beberapa anak laki-laki di panti tersebut. Beberapa dari mereka mengaku pernah disodomi oleh orang terdekat di panti yang dikelola Ev tersebut.

“Banyak masalah yang kami ketahui begitu mendalami kasus ini. Saat ditanya siapa yang pernah digitukan (sodomi, red), ada yang tunjuk tangan,” ujar Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri AKBP, Edi Santoso, Rabu (28/10).

Dugaan ini diperkuat, dengan adanya luka di bagian dubur anak-anak tersebut. Edi menyebutkan dari 15 orang yang diamankan, ada enam orang yang mengakui hal itu.

Mengenai eksploitasi anak, Edi mengatakan Ev mematok harga jika ada orang yang ingin mengadopsi anak panti tersebut. Hal itu terbukti dari pengakuan orang yang ingin mengadopsi anak panti asuhan itu, beberapa waktu lalu.

“Tapi bukan dijual ya, tepatnya eksploitasi anak dan hal ini masih kami dalami,” ujarnya.

Penelantaran anak yang dilakukan Ev, sangat tidak bermoral. Sebab Ev mendirikan panti asuhan ini bukan karena hatinya tergerak mengatasi masalah sosial itu. Namun ingin memperkaya diri.

“Motif ekonomi, masih terus kami selidiki,” ucap Edi.

Edi mengungkapkan dari 15 anak yang diamankan dari panti asuhan milik bidan Ev itu, hanya dua orang yang bisa bersekolah. Itu pun bukan anak panti, namun anak yang dititipkan orang tuanya. Sedang anak panti yang dibesarkan di sana, tak ada yang bersekolah.

“Tak ada akte, tak ada dokumen lengkap anak-anak itu. Lalu anak-anak ini didapat dari mana, Ev tak bisa mengungkapkannya,” tuturnya.

Wajar saja, kata Edi, izin panti asuhan ini tak diperpanjang Dinsos sebab tak ada satupun dokumen anak-anak yang diasuh di panti tersebut.

Ia mengatakan pihaknya akan menjerat Ev dengan Undang-undang 35 tahun 2014 mengenai perlindungan anak-anak. “Pasal yang bakal kami kenakan yakni 77 B dan 80 ayat satu juga dua,” imbuhnya.

Sementara itu, mantan guru agama Panti Asuhan itu, Ruri sangat kaget mendengar kabar Ev tersangka penelantaran dan penganiayaan anak panti. Sebab waktu ia masih di panti asuhan, Ev tidak pernah seperti itu. Bidan yang juga pengelola panti itu, adalah pribadi yang baik.

“Setahu saya, ibu Ev baik orangnya. Saya disana pada tahun 2009, satu setengah tahun saya disana,” ungkapnya. (ska/bpos)

Respon Anda?

komentar