Kasus Korupsi Alkes, Dua Direktur Dijebloskan ke Penjara

1183
Pesona Indonesia
Kasi Pidsus Kejari Batam, Tengku Firdaus. Foto: asrulrahmawati.wordpress.com
Kasi Pidsus Kejari Batam, Tengku Firdaus. Foto: asrulrahmawati.wordpress.com

batampos.co.id – Dua Direktur perusahaan dijebloskan ke Rutan Tanjungpinang, Rabu (28/10) pagi. Keduanya adalah Suhadi, Direktur PT Mitra Bina Medika dan Direktur PT Dhyas Mitra Usaha, Euis. Mereka diduga kuat terlibat korupsi bersama Kabid Program Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Erigana, dalam pengadaan alat-alat kesehatan Pukesmas se-Kota Batam.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Batam (Kejari) Batam, Tengku Firdaus mengatakan kedua tersangka yang kini sudah menyandang status terdakwa dititipkan di Rutan Tanjungpinang. Hal itu dilakukan setelah penyidik Polresta Barelang menyerahkan kedua tersangka pada proses tahap 2.

“Suhadi dan Euis resmi menjadi tahanan Kejaksaan usai proses tahap 2 tadi pagi (kemarin,red),” kata Firdaus .

Menurut dia, pagi itu, penyidik hanya menyerahkan Euis kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) sekitar pukul 09.00 WIB. Sebab, Suhadi, sudah lebih dulu dikirim ke Tanjungpinang karena status Suhadi sebagai terpidana dalam kasus korupsi lainnya.

“Hanya Euis yang diserahkan, kalau Suhadi sudah beberapa hari lalu di sana. Usai penyerahan, Euis langsung kita bawa ke Tanjungpinang,” terang Firdaus.

Dijelaskan Firdaus, polisi menetapkan Euis sebagai tersangka karena tidak menjalankan proses yang semestinya. Dimana, perusahaan euis terpilih sebagai pemenang lelang dalam pengadaan alat-alat kesehatan. Namun pelaksanaan malah dilakukan perusahaan yang dipimpin Suhadi.

Pada pengadaan itu, Suhadi juga dinilai melakukan penggelembungan harga alat-alat. Sementara, dari keuntungan itu, Euis mendapat bayaran (fee) Rp 23.200.000.

“Terdakwa Euis sudah menitipkan uang sebesar fee yang diterima ke JPU,” terang Firdaus.

Dilanjutkan Firdaus, dari penggelembungan harga itu, Suhadi mendapat keuntungan Rp 380 juta dari harga yang telah ditetapkan.

Sedangkan, Erigana membantah menerima uang apapun. Namun, pihaknya berkeyakinan jika Erigana bersalah. Apalagi Erigana saat itu sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada kegiatan tersebut.

“Nanti kita buktikan di persidangan. Saat ini Erigana masih tahap esepsi. Kita berharap ketiganya dapat disidang bersamaah saat mendengar keterangan saksi,” tegas Firdaus.

Ketiganya dijerat dengan dijerat dengan pasal 2, pasal 3, pasal 9, dan pasal 18 Undang-Undang RI nomor 20 Tahun 2001, Tentang Tindak Pidana Korupsi, dan pasal 55 KUHP dan terancam 20 tahun penjara. (she/bpos)

Respon Anda?

komentar