Pembunuh Siswi SMAN 1 Batam Teridentifikasi dari Tes DNA

6568
Pesona Indonesia
Nia, saat masih hidup. Foto: facebook Nia
Nia, saat masih hidup. Foto: facebook Nia

batampos.co.id – Ucapan Direktur Ditreskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Adi Karya, bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna benar adanya. Sehebat apapun pelaku menghilangkan jejak, pasti ada yang tertinggal yang bisa diidentifikasi untuk melacak pelakunya.

Begitupun dengan kasus pembunuhan Dian Milenia Trisna Afiefa alias Nia, siswi SMAN 1 Batam yang ditemukan tewas di hutan Seiladi, Ahad 27 September 2015 dengan kondisi mengenaskan.

Polisi benar-benar dibuat kesulitan melacak pelaku karena minim bukti atau petunjuk.

Namun kerja keras Polda Kepri bersama jajarannya di Polresta Barelang, serta dukungan penuh tim DVI Mabes Polri dan Tim Forensik Medan, akhirnya setelah satu bulan, pelaku pembunuh Dian alias Nia, sudah berhasil diidentifikasi.

“Kami sudah menemukan sejumlah bukti kuat yang mengarah pada seorang tersangka,” ujar Adi Karya, Rabu (28/10/2015).

Namun Adi enggan membeberkan bukti otentik itu karena menyangkut teknis penyidikan.

Selain bukti otentik itu, Adi menyebut ada sejumlah bukti lain yang sedang didalami. Namun dia memastikan, semuanya identik dan mengarah pada orang yang sama.

Adi mengatakan, polisi juga sudah mengantongi identitas jelas dari terduga pelakunya. Sehingga dia optimis, pengungkapan kasus pembunuhan sadis ini tinggal menunggu waktu saja.

“Tagetnya sudah ada,” ucapnya singkat.

Meski Adi enggan menyebutkan bukti otentik itu, namun informasi yang dikumpulkan dari lapangan menyebutkan, salah satu bukti otentik itu adalah hasil tes DNA barang bukti yang ditemukan di tubuh korban yang ditinggalkan pelaku, identik dengan DNA terduga pelaku.

Sekadar pemahaman, DeoxyriboNucleic Acid (DNA) merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika.

Tes DNA umumnya digunakan untuk dua tujuan. Pertama, tujuan pribadi seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak. Kedua, tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur, sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan terduga keluarga korban. Juga untuk pembuktian kejahatan kasus pemerkosaan atau pembunuhan.

Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA. Tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku.

Untuk kasus-kasus forensik, sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA.

Nah, dalam kasus Nia, tim DVI Mabes Polri maupun Tim Forensik yang melakukan olah TKP beberapa kali dan melakukan autopsi jasad Nia, berhasil menemukan sampel bilogis itu.

Lalu sampel biologis apa yang ditemukan di jasad Nia? Polisi dari Polda Kepri dan Polresta Barelang atau Mabes Polri yang lebih berhak membeberkan. Mereka pun sudah berjanji dalam waktu dekat akan membeberkannya.

Namun ada di antara sampel biologis yang dipaparkan di atas yang bisa dicek DNA-nya. Salah satunya rambut. Rambut bagian mana pelaku yang menempel di jasad korban, polisi juga yang lebih berhak menjelaskannya.

Sekadar pemahaman juga, dengan merujuk beberapa literatur tentang DNA, bahwa DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua macam. Yaitu DNA mitokondria dan DNA inti sel.

Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada dalam sel. Satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel. Sedangkan yang satu lagi terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria.

Untuk tes DNA, sebenarnya sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes DNA adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah. DNA dalam mitokondria dapat berubah.

Sebagai contoh untuk sampel sperma dan rambut. Yang paling penting diperiksa adalah kepala spermatozoanya karena di dalamnya terdapat DNA inti. Sedangkan untuk potongan rambut yang paling penting diperiksa adalah akar rambutnya.

Untuk akurasi kebenaran dari tes DNA hampir mencapai 100 persen akurat. Kalau ada kesalahan, itu terjadi pada kemiripan pola DNA. Tetapi sangat kecil kemungkinannya. Dalam beberapa literatur, kesalahannya satu berbanding satu juta.

Kalaupun terdapat kesalahan itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interprestasi fragmen-fragmen DNA oleh operatornya (manusia).

Tetapi dengan menerapkan standard of procedur yang tepat kesalahan human error dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan.

Di Indonesia, terdapat dua laboratorium yang dapat melayani tes DNA yaitu Laboratorium Pusdokkes Polri Jakarta Timur dan di Lembaga Bio Molekuler Eijkman Jakarta Pusat.

Berangkat dari akurasi tes DNA yang tinggi itu yang bisa jadi membuat kepolisian dari Polda Kepri dan Polres Barelang serta tim DVI Mabes Polri yakin betul pria terduga pembunuh Nia itu adalah benar pelakunya.

“Bukti yang dikantongi polisi kali ini dipastikan akan membuat pelaku tak bisa mengelak lagi,” ujar sumber di kepolisian.

Selain bukti otentik itu, polisi juga telah memeriksa beberapa saksi sebelumnya.

Diantara saksi yang diperiksa polisi adalah seorang wanita korban penculikan yang berhasil lolos.

Dari keterangan saksi ini, pelakunya diduga sama. Selain dari ciri-ciri fisik yang identik, modus pelaku juga serupa, yakni mengaku sebagai polisi saat melancarkan aksinya.

“Pelaku ini, sudah beberapa kali mencoba menghentikan perempuan dengan cara berpura-pura sebagai polisi,” ujar sumber di internal kepolisian.

Polisi juga sudah mengidentifikasi ciri fisik pelaku. Bahkan baju dan pisau yang digunakan untuk membunuh Nia juga sudah terindentifikasi.

Sebelumnya, Kombes Pol Adi Karya juga menyampaikan pihaknya sudah mengetahui jenis motor, jaket, dan postur badan pelaku. Ia mengatakan saat ini hasil penyelidikan dari Polda Kepri itu telah diserahkan ke Polresta Barelang.

“Semua berkasnya sudah di Polresta Barelang, kan di sana penyidiknya,” ungkapnya. (ska/she/nur/jpgroup)

Baca Juga: Pembunuh Nia Teridentifikasi, Keluarga Minta Bukti

Respon Anda?

komentar