Jalan Berliku Mengendus Jejak Tersangka Pembunuh

 POLISI menangkap Wardiaman Zebua di rumah kontrakannya Taman Pesona Indah, Batuaji, Jumat (30/10). Selain itu, polisi juga mengamankan anak dan istri tersangka beserta sejumlah barang bukti.

POLISI menangkap Wardiaman Zebua di rumah kontrakannya Taman Pesona Indah, Batuaji, Jumat (30/10). Selain itu, polisi juga mengamankan anak dan istri tersangka beserta sejumlah barang bukti.

batampos.co.id – Proses pengungkapan kasus pembunuhan Dian Milenia Trisna Afiefa atau Nia benar-benar menguras tenaga jajaran kepolisian. Polisi butuh waktu satu bulan lebih sebelum akhirnya menangkap tersangka, Jumat (30/10).

Keberhasilan ini tak terlepas dari kerja keras tim Polda Kepri. Dimana mereka mengumpulkan serpihan demi serpihan bukti yang ada. Mulai dari pengakuan wanita pernah dicegat Wardiaman Zebua, lalu pisau yang digunakan untuk membunuh Nia, sepeda motor, jaket, helm, sepatu, postur tubuh, dan juga profil DNA pelaku yang tertinggal di tubuh Nia.

Seorang perwira di Polda Kepri yang terlibat dalam perburuan pelaku pembunuhan ini bercerita, ada seorang wanita yang pernah dicegat di Seitemiang, Sekupang mendatangi polisi. Wanita itu menceritakan, bahwa apa yang ia alami sama persis seperti yang dialami Nia, yaitu dicegat seorang lelaki yang mengaku sebagai polisi. Kebetulan pula, lokasi ia dicegat sama dengan lokasi Nia diberhentikan. Hanya saja, peristiwa yang ia alami lebih dulu dibanding Nia.

Wanita itu mendatangi polisi setelah membaca pemberitaan di media tentang modus yang digunakan pelaku. Tujuannya membantu polisi membongkar kasus ini.

Wanita muda ini mengenali ciri pelaku dari alis dan matanya.

“Sebab pelaku saat itu menggunakan masker dan helm,” kata perwira polisi tersebut.

Ketika Wardiaman ditangkap pada Rabu (21/10) karena dilaporkan melakukan pencegatan seorang wanita di Temiang, Sabtu (17/10), korban pertama yang lolos, yang kemudian bercerita kepada polisi tadi, diundang ke Polres. Ia diperlihatkan wajah Wardiaman. Wanita itu menyatakan keyakinannya Wardiaman-lah orang yang dulu mencegatnya. Ia juga mengenali Wardiaman dari sepatu yang dikenakannya.

Berdasarkan laporan itu pula, polisi kemudian membawa Wardiaman “berkeliling” rute yang diyakini sebagai rute kematian Nia. Namun, ketika berada di hutan Seiladi, lokasi tempat mayat Nia ditemukan, Wardiaman melarikan diri.

Keesokan harinya, Kamis (22/10), keluarga Wardiaman mengantarkan yang bersangkutan ke Markas Polres Barelang. Saat itulah polisi mengambil sampel DNA dan rambut kemaluannya untuk diuji di Mabes Polri. Setelah itu, ia dilepas lagi, namun tetap dalam pengawasan ketat polisi.

Pada Senin (26/10) hasil uji DNA dan rambut kemaluannya keluar. Polisi meyakini, Wardiaman adalah pelaku pembunuhan Nia.

“Setelah mengetahui hasil tes DNA ini, polisi mulai mendekati keberadaan pelaku,” ujar perwira tersebut.

Cerita itu dibenarkan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Pol Adi Karya Tobing. Adi Karya menuturkan, suatu hari, anggotanya melihat seorang pria menghentikan wanita pengendara sepeda motor di dekat hutan Temiang-Mata Kucing, tempat Nia dicegat sebelum ditemukan tewas.

“Benar, ada anggota yang melihat ada perempuan yang diberhentikan oleh seorang pemuda,” katanya.

Polisi langsung mendatangi pemuda yang belakangan diketahui bernama Wardiaman Zebua itu. Namun saat itu Wardiaman berdalih menghentikan wanita itu karea motornya diserempet.

“Saya meminta dia untuk berhati-hati, tak ada maksud lain. Lalu saya pergi,” ungkap Wardiaman, seperti ditirukan Adi Karya.

Namun anggota kepolisian yang berada di sana tak langsung mempercayai ucapan Wardiaman. Polisi yang diketahui merupakan perwira pertama Polda Kepri ini langsung mencatat nomor plat sepeda motor Wardiaman. Polisi juga mengorek data diri Wardiaman, termasuk tempat kerjanya. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 17 Oktober sekitar pukul 07.30 pagi.

Polisi disebar untuk mengawasi gerak gerik Wardiaman. Hingga pada tanggal 20 Oktober polisi mengecek rumah kontrakannya di Tanjunguncang, Batuaji. Namun polisi tak menemukan bukti apapun.

Tanggal 21 Oktober, anggota Polda Kepri mendatangi tempat kerja Wardiaman. Kepadanya, polisi mengajukan beberapa pertanyaan, termasuk soal kebiasaan Wardiaman membawa pisau ke tempat kerjanya.

Setelah diinterogasi, Wardiaman dibawa berkeliling dengan mobil. Dia juga dibawa ke hutan Seiladi, tempat jasad Nia ditemukan. Di sana, polisi kembali menanyakan soal pisau. Setelah beberapa kali mengelak, Wardiaman mengakui pernah membawa pisau. Namun kata dia, pisau itu sudah dibuang di hutan Temiang.

Polisi kemudian mendatangi teman Wardiaman untuk menanyakan jenis pisau yang pernah dibawanya. Hasilnya, ada kesesuaian antara jenis pisau Wardiaman dengan luka di leher Nia. (ska)

Respon Anda?

komentar