Merasa Dizalimi, Cagub Kepri Soerya Lapor Polisi

251
Pesona Indonesia

batampos.co.id РCalon gubernur Kepri Soerya Respationo dan beberapa timnya terusik. Banyak SMS beredar yang menyesatkan dan memburuk-burukkan citranya. Ia bersama timnya pun mendatangi Mapolda Kepri untuk membuat laporan di Polda Kepri, Senin (30/11).

Tiba di Mapolda Kepri, Soerya beserta rombongan langsung masuk ke ruang Kapolda dan disambut langsung oleh Brigjen Pol Arman Depari, Kapolda Kepri. Sebelum akhirnya rombongan berbincang di ruangan Kabid Humas Polda Kepri.

Soerya didampingi oleh Dwi Ria Lativa, anggota komisi III DPR RI, Asmin Patros, Jumaga Nadeak, dan sejumlah pengurus dari PDI Perjuangan.

Yang membuat laporan polisi ada tiga yakni Soerya Respationo dengan nomor laporan LP/B/103/2015/SPKT-Kepri. Kemudian Jumaga Nadeak dengan nomor polisi LP/B/104/SPKT-Kepri. Kemudian Asmin Patros dengan nomor polisi LP/B/102/2015/SPKT-Kepri.

Dwi Ria Lativa, Juru bicara ketiga pelapor tersebut mengatakan bahwa ketiga tokoh tersebut membuat laporan polisi karena merasa sudah menjadi korban dari beberapa kasus antara lain, fitnah, perbuatan tidak menyenangkan dan kejahatan IT.

”Kita melihat melalui cara-cara ini sudah menyebarkan fitnah dari beliau-beliau ini. Ini termasuk pembunuhan karakter,” katanya.

Dwi menjelaskan bahwa ada oknum yang seolah-olah menyebarkan SMS menggunakan ponsel Soerya Respationo. Di mana isi SMS nya, mengajak warga untuk mendukungnya dan akan menciptakan Batam menjadi Kota Judi, miras, prostitusi dan narkoba.

“Jadi ini sangat keji. SMS itu sudah sampai ke beberapa orang,” katanya.

SMS yang lain yang sudah beredar adalah seolah-olah dari ponsel milik Jumaga Nadeak, ketua DPRD Provinsi Kepri. Di mana dalam SMS itu seolah-olah Jumaga Nadeak mengajak warga dukung Soerya karena termasuk pimpinan yang tegas.

“Jadi di SMS itu, isinya adalah. Ayo dukung Soerya karena tegas. Ia berani menjual pulau untuk kesejahteraan,” kata Ria membacakan SMS itu.

Sementara SMS yang ketiga adalah SMS yang seolah-olah dikirimkan dari ponsel Asmin Patros. Isinya mengajak semua kader dan simpatisan yang ikut kampanye akbar beberapa waktu lalu untuk mengambil uang ke panitia, Rp 500 ribu.

“Dan itu tidak benar sama sekali. Itu sepertinya nomor pak Asmin di kloning.

Menurut Dwi, praktek-praktek seperti itu merupakan cara baru untuk membunuh karakter seseorang. Kita berharap masyarakat tidak langsung percaya akan bunyi SMS yang menyesatkan tersebut.

“Ini sangat menyedihkan. Dan ini menjadi preseden buruk. Kita minta jangan ada masyarakat yang percaya,” katanya.

Terkait siapa yang dilaporkan, Dwi menjelaskan bahwa hal itu menjadi ranah kepolisian. Ia berharap pihak Kepolisian, bisa memproses laporan tersebut dengan cepat.

AKBP Hartono, Kabid Humas Polda Kepri mengatakan bahwa pihaknya akan menyelidiki laporan tersebut. Di mana pelapor melaporkan bukan atas sebagai tim pemenangan atau calon gubernur.

“Mereka melaporkan secara pribadi. Intinya ini akan kita selidiki dulu. Sebagai institusi kepolisian, kita wajib melayani semua masyarakat,” katanya.

Hartono menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga kondusifitas Kepri. Ia berharap semua pihak untuk bisa mengkontrol diri dan mengutamakan kepentingan umum. (Ian)

Respon Anda?

komentar