Pengusaha Khawatir Kelangsungan Dam Duriangkang

574
Pesona Indonesia
Anggota Marinir SBY Setokok Barelang dan BP Batam saat membersihkan eceng gondok di Dam Duriangkang, Tanjungpiayu, Seibeduk,. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Anggota Marinir SBY Setokok Barelang dan BP Batam saat membersihkan eceng gondok di Dam Duriangkang, Tanjungpiayu, Seibeduk,.
Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Pengusaha khawatir akan kelangsungan dam Duriangkang, sebagai dam yang paling besar di Batam. Ini dikarenakan terus terjadinya pendangkalan dan juga pertumbuhan eceng gondok yang terus meningkat.

“Saya sudah lihat sendiri dam Duriangkang itu. Pendangkalan di dam karena ditumbuhi eceng gondok sudah luas. Ini sangat menkhawatirkan,” kata Johanes Kennedy, pengusaha, pemilik kawasan industri Panbil.

Kennedy mengatakan dam duriangkang yang dulunya dipenuhi air bersih, kini sebagian besar sudah berubah menjadi dataran warna hijau. Ia memperkirakan dalam periode 5 tahun kedepan, kalau tidak dilakukan normalisasi atau pengerukan maka setengah dari dam tersebut akan berubah menjadi daratan.

“Ini sangat disayangkan. Kita ketahui bersama. Air bersih di Batam ini sebagian besar tergantung dari dam Duriangkang,” katanya.

Menurutnya, BP Batam sebagai institusi yang menerima hasil dari dam tersebut harus bertanggung jawab penuh terhadap kebutuhan air di Batam. Di mana menurutnya juga, air bersih ini menjadi kebutuhan pokok untuk investasi.

“Masalah air ini menjadi kebutuhan pokok untuk investasi. Ini harus ada keseriusan dari BP Batam. Harus memikirkan ketersediaan air dalam jangka waktu panjang,” katanya.

Haripinto, anggota DPD RI dari dapil Kepri mengaku miris melihat kondisi Dam di Batam yang sudah mulai mengering dan banyaknya eceng gondok. Ia juga menyayangkan sikap BP Batam yang terkesan hanya pasrah, dan hanya mengandalkan air hujan. Padahal banyak langkah nyata yang harus dilakukan seperti melakukan penghijauan, pengerukan dan pembersihan dam.

“Di sekitar dam, daerah resapan air harus ramah lingkungan. Jangan setengah hati untuk melakukan penertiban,” kata Haripinto.

Haripinto mengaku sudah berjalan dan keliling dam duriangkang. Banyak pembalakan, banyak pembakaran hutan tetapi tidak ada upaya tegas dari BP Batam untuk melakukan penertiban. Bahkan banyak ditemui peternakan dan ladang. Padahal itu daerah resapan air yang memang harus hijau.

“Aktifitas di hutan di daerah resapan air itu harus ditertibkan. Jangan dibiarkan. Sikap tegas seperti yang belum kelihatan,” katanya.

Purnomo Andiantono, Direktur Promosi dan Humas Purnomo Andiantono mengatakan bahwa BP Batam terus melakukan perbaikan dan upaya normalisasi dam duriangkang. Pembersihan dam dari eceng gondok masih terus dilakukan. Dan BP Batam akan tetap fokus dalam pemeliharaan catchment area.

Selain itu, direncanakan juga pembuatan sedimen trap di inlet waduk. Ini untuk meminimalisirsedimen ke waduk yang menyebabkan pendangkalan. Selain itu juga direncanakan pengerukan. Untuk tahap awal di dam sei harapan. Usulan penghijauan, juga kemungkinan akan dilakukan oleh BP Batam.

“Kita terus melakukan penertiban, tetapi memang belum semua. Kita akan terus melakukan penertiban dan melindungi daerah resapan air. Kalau pengerukan ini memang butuh biaya besar. Dan harus diingat bahwa kita terus melakukan penertiban di sekitar dam,” katanya. (ian/bpos)

Respon Anda?

komentar