Derita Penderita HIV/AIDS di Batam: Ditulari Lalu Ditinggal Pergi

2385
Pesona Indonesia
Aktivis HIV AIDS Yayasan Komunikasi Informasi dan Edukasi (YKIE) Kota Batam, Sibuan Abdurrahman sedang menerima keluhan perempuan muda yang divonis positif AIDS, belum lama ini. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos
Aktivis HIV AIDS Yayasan Komunikasi Informasi dan Edukasi (YKIE) Kota Batam, Sibuan Abdurrahman sedang menerima keluhan perempuan muda yang divonis positif AIDS, belum lama ini. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

Angka penderita AIDS di Kota Batam kian mengkhawatirkan. Hingga September 2015, Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat 539 warga kota ini terinfeksi penyakit mematikan itu.

YUSUF HIDAYAT, Batam

Suara hujan di atas genteng Balai Pengobatan Klinik Keluarga Kita masih terdengar satu-satu, akhir Desember tahun lalu.  Sibuan Abdurrahman, konselor yang sehari-hari bertugas di klinik itu, berkali-kali memencet tombol telepon genggamnya. Wajahnya agak risau.

“Janjinya jam 4 mau datang, mungkin gak jadi karena hujan,” kata Sibuan menebak-nebak.

Klinik tersebut adalah rumah tipe 27 di atas lahan seluas 6 x 11 meter yang disulap menjadi balai pengobatan. Yang membedakan dengan rumah di sekitarnya adalah papan nama besar yang terpampang di depan pintunya.

Meskipun terbilang kecil, klinik milik Yayasan Komunikasi Informasi dan Edukasi (YKIE) Kota Batam itu sudah punya ruang tindakan, laboratorium, ruang konseling, serta ruang tunggu.

Waktu terus berjalan. Hari bertambah gelap. Lelaki yang akrab disapa Buan itu tetap bersabar menunggu.

Tak lama kemudian, suara mesin sepeda motor matic terdengar berhenti di depan klinik. Ternyata pengendaranya adalah seorang cewek berambut panjang. Setelah melepas helmnya, cewek berparas manis itu masuk ke klinik.

“Assalamualaikum,” ucapnya. “Maaf, nunggu hujan reda, Bang.”

“Kata Bu Kristin (salah satu pengurus YKIE Batam), adik lagi sakit batuk ya?” tanya Buan. Wanita itu mengiyakan, sesekali ia menutup mulutnya karena batuk.

Sudah sebulanan Anjar (bukan nama sebenarnya) rajin mengunjungi klinik yang ada di Perumahan Villa Mas Blok A8 Nomor 12A Sei Panas, Batam Kota itu, setelah dia divonis positif mengidap AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) oleh YKIE Batam.

Anjar diperiksa di tempat kerjanya di sebuah pub di Nagoya. Di pub tersebut ia bekerja sebagai public relation yang disingkat PR. Tugasnya menemani tamu yang ingin enjoy, termasuk minum minuman beralkohol.

Dari pekerjaannya tersebut ia hanya digaji sebesar Rp 900 ribu per bulan. Namun, Anjar akan mendapat bonus jika target dari tempat kerjanya tercapai. Yakni target 15 nota atau 15 tamu dalam sebulan. “Kalau tercapai saya akan dapat gaji Rp 1,3 juta. Kalau tidak, hanya 900 ribu saja,” ungkap Anjar kepada Batam Pos.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari di Batam dari gajinya tersebut tentu tidak cukup. Anjar berjualan bed cover untuk menambah penghasilannya. Pelanggannya adalah kawan-kawannya sendiri. “Lumayan juga hasilnya. Apalagi sekarang saya sudah tidak menerima tamu lagi (untuk dibooking, red) semenjak tahu positif (AIDS, red),” ungkapnya.

Dilihat dari pekerjaannya, orang tidak akan heran jika Anjar akan terjangkit AIDS. Namun, ia menyangkal kalau virus yang belum ditemukan obatnya itu didapat dari pekerjaannya sebagai cewek malam yang baru dijalaninya selama 4 bulan. Anjar meyakini virus mematikan itu ditularkan oleh mantan suaminya.

“Saya gak mau mengungkit-ngungkitnya kepada mantan suami karena sekarang dia sudah berkeluarga lagi. Saya gak mau dibilang merusak rumah tangga orang,” katanya.

Ketika masih tinggal di Lobam, Bintan, diakuinya, ketika masih pacaran dengan mantan suaminya tersebut, dia sering ke diskotik atau ke karaoke. Merokok aktif dan tak canggung melakukan hubungan layaknya suami istri. “Kalau malam minggu saya sering dijemput dan diajak dugem ke Pinang (Tanjungpinang, red),” ujar mantan operator di sebuah pabrik garmen di Lobam, Bintan ini.

Gaya hidup seperti itu dijalani mereka berdua hingga berumah tangga. “Namanya ineks sudah tak asing, meskipun saya hanya menemaninya duduk di meja,” ungkapnya.

Rumah tangganya tak langgeng. Kemudian mereka bercerai tanpa kehadiran anak. “Saya yakin (ditularkan, red) dari dia (mantan suami), karena selama ‘kerja’ tamu saya pakai kondom semua. Kalau tamu nolak pakai kondom dan komplain ke Bunda (sebutan untuk mucikarinya), Bunda gak akan marah, malah tamu yang akan dimarahi,” tuturnya.

Sebelum kerja di pub, Anjar mengaku telah bekerja di sebuah klub malam di sebuah hotel berbintang yang juga di bilangan Nagoya. Di klub tersebut, selain menemani minum, Anjar mengaku juga melayani tamu yang ingin membookingnya.

Ia tergiur dengan penghasilan kawan-kawannya yang bekerja di klub tersebut. Awalnya Anjar sering diminta mengantar kawan-kawannya tersebut, baik ke tempat kerja atau sekadar berbelanja, karena dia yang punya sepeda motor. Lama kelamaan ia tergiur juga bekerja di klub malam apalagi kawan-kawannya yang juga tetangga kosnya itu sering membujuknya.

“Saya akhirnya mau juga kerja di situ,” aku cewek asal Medan yang tidak menamatkan sekolah dasarnya ini.

Pertama kerja dia dapat tamu lokal. Selain diajak menemani minum, Anjar juga di-booking untuk menemani tamu tersebut semalaman. Meskipun sudah lama merokok, Anjar mengaku tidak suka minuman beralkohol. Namun apa daya, dia harus memberi kesan “baik” kepada pelanggan pertamanya itu. Maka dia terpaksa minum wiski merek Chivas Regal yang disodorkan kepadanya.

“Malam itu saya mabok berat, mau diapain aja ya terserah. Dibopong..diboponglah ke hotel,” ucapnya sembari tertawa kecil.

Warna kulitnya yang eksotis dan wajahnya yang manis menjual terutama buat turis. Ini diakuinya, bahwa bule banyak yang ingin mem-booking-nya tapi karena tak bisa berbahasa Inggris maka ia selalu menolaknya.

Tak hanya bule yang sering enjoy di klub tersebut. Tamu asal Korea, Jepang, dan Singapura juga banyak yang bertandang. Tamu Asia inilah yang sering diladeni Anjar. “Yang paling sering (booking, red) orang Korea. Kalau orang lokal jarang, tapi kalau pun ada biasanya bos perusahaan atau orang kapal,” ungkapnya.

Penghasilan sebagai PR plus-plus jauh lebih banyak dari pada sekadar ngojek kawan-kawannya. Dari tarif Rp 1,8 juta per booking, Anjar dapat bagian Rp 1,5 juta. “Kalau hanya menemani duduk dapat Rp 250 ribu dari charge Rp 300 ribu,” bebernya.

Tak heran jika saldo tabungan Anjar terus bertambah selama bekerja malam. Hingga ia bisa membeli sebidang tanah di Bintan. “Saya punya keinginan punya rumah sendiri, makanya saya rajin nabung.”

Sebagai perempuan yang masih terbilang muda, Anjar juga menginginkan belaian kasih sayang dari seorang lelaki yang tulus menyayangi. Namun hasrat itu dia pendam dalam-dalam karena sudah trauma dengan nasib rumah tangganya dulu.

“Pacar gak punya, tapi ada teman dekat untuk curhat. Sudah gagal dalam rumah tangga jadi males pacaran,” ungkapnya.

Dia mengakui godaan untuk punya pacar selalu membayangi, apalagi kawan-kawan kosnya selalu menggandeng pasangannya masing-masing. “Semuanya punya bronces. Wajarlah, mereka masih muda sementara saat ‘bekerja’ yang dilayani mereka bapak-bapak,” tukas Anjar lantas tertawa.

Gaya hidup anak malam seperti itu, kata Buan, menambah panjang cerita penularan virus HIV di Batam. Meskipun aturan di tempat kerja ketat namun di luar mereka tidak terkontrol. “Di tempat kerja mereka disiplin, sementara sama pacarnya bebas.”

Kini, setelah positif mengidap AIDS, perlahan-lahan diskriminasi mulai dirasakannya. Paling tidak di tempatnya bekerja. Rekan-rekan sekerjanya mulai menjauhi. “Kawan-kawan awalnya hanya tahu saya sakit kista dan usus buntu, tapi sekarang mereka tahu,” ucapnya lirih.

Setelah ditelusurinya, ternyata yang membocorkannya adalah “Bunda”nya (mucikari) sendiri. Kondisi seperti itu dia hadapi dengan sabar. Bahkan dia masih ingat kepada Tuhannya. “Kalau sedang galau, kadang saya salat.”

Ia pun pelan-pelan mengurangi minum alkohol dan mengurangi rokok.

Meskipun belum memutuskan untuk mengonsumsi ARV (Anti Retro Viral)- sebuah obat yang digunakan dalam terapi bagi ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS)- yang butuh tekad kuat untuk menjalaninya karena sekali meminumnya maka seumur hidup harus meminumnya, Anjar mulai rajin berkumur-kumur dengan air garam setiap bangun tidur.

Berkonsultasi dengan orang yang tepat seperti di YKIE Batam adalah jalan untuk menguatkan mentalnya. Biar bagaimanapun nasi sudah jadi bubur. Dan hidup harus terus dijalani. “Sekarang saya pengen lebih sehat dan hidup lebih baik,” ujarnya mantap.

Perempuan yang sewaktu kecil diinginkan ibunya menjadi Polwan ini, bertekad memenuhi impiannya yang belum tercapai, yaitu ingin punya usaha sendiri dan bisa membangun rumahnya sendiri di sisa hidupnya. “Kalau sudah punya usaha saya lega, nanti kan ibuku bisa melanjutkannya,” ucapnya serius.

Bahkan ia punya target berhenti dari kerja malamnya sebagai PR. “Bulan lima atau enam saya akan berhenti kerja jadi PR,” tekad cewek yang sewaktu kecil diasuh oleh bibinya di sebuah kota pelabuhan di Sumatera Utara ini.

Oktober lalu, Anjar pulang kampung ke Tanjunguban. Dia tinggalkan dunia malam yang telah menjerumuskan hidupnya. “Kondisinya baik-baik saja, meskipun belum minum obat (ARV). Paling cuma sakit demam dan flu, biasalah itu bagi penderita,” kata Buan, Selasa (12/1).

Cerita lebih miris menimpa Ratih (bukan nama sebenarnya, red). Ratih adalah salah satu dari 60 persen perempuan yang positif HIV hasil pemeriksaan di RSBK.

Hingga sekarang Ratih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya terinveksi virus HIV (human immunodeficiency virus). Bagaimana tidak, wanita 40 tahun itu merasa tak pernah melakukan hal-hal buruk yang berpotensi bisa tertular virus mematikan yang belum ditemukan obatnya tersebut.

“Jangankan narkoba atau gonta ganti pasangan, pacaran atau merokok saja tidak pernah,” ucapnya saat ditemui usai menghadiri pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya di Yayasan Embun Pelangi, Perumahan Anggrek Permai, Baloi, Kamis (20/11/2014).

Dengan emosional Ratih mengisahkan bagaimana dia bisa tertular virus yang menyerang sistem kekebalan manusia tersebut. “Malapetaka ini bermula ketika saya menikah,” katanya.

Waktu menikah usianya telah mencapai 29 tahun. Ketika itu dia telah tujuh tahun bekerja di sebuah perusahaan di Kawasan Industri Batamindo, sebagai operator.

Dia tak banyak meminta persyaratan ketika teman-teman dekatnya menjodohkannya dengan pria yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Mengingat usianya yang terbilang telat bagi seorang perempuan untuk membina rumah tangga.

Bungsu tujuh bersaudara ini pun meminta persetujuan keluarga besarnya. Pertama yang dia hubungi adalah bapaknya, karena ibunya telah meninggal. Bapaknya setuju, begitu pun dengan kakak-kakaknya.

Selama pendekatan mereka hanya berhubungan lewat telepon karena calon pasangannya tinggal di Medan, Sumatera Utara. Tak menunggu terlalu lama, akhirnya dua keluarga setuju menggelar pesta pernikahan di Medan di tahun 2004.

“Bagi kami orang Batak, perempuan dipinang atau dipilih itu sebuah kehormatan apalagi pernikahannya digelar dengan sakral,” ujar Ratih.

Dirayakanlah hari istimewa yang telah lama dia nanti-nantikan itu dengan suka cita. Keluarga, kerabat dan handai tolan semua diundang untuk menghadiri pernikahannya.

Setelah menikah Ratih kembali lagi ke Batam. Suaminya ia boyong ke Batam. Dia tetap bekerja seperti biasa. Karena suaminya belum ada pekerjaan, sementara Ratih lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Saya carikan kerja untuk dia. Karena dia punya pengalaman sebagai sopir di Jakarta, maka saya carikan kerja sebagai sopir dump truck di sini.”

Setahun dua tahun kehidupannya berjalan normal. Di tahun ketiga, fisiknya tiba-tiba drop. Batuknya tak kunjung sembuh. Padahal biasanya kalau batuk tak sampai seminggu sudah sembuh.

“Saya kira itu batuk biasa saja, mungkin karena kecapaian atau karena cuaca yang sedang tidak bagus,” tuturnya.

Karena tak kunjung sembuh, ia periksa ke RSUD Embung Fatimah. Oleh dokter ia divonis mengidap TB (tuberkulosis). Tak puas berobat di RSUD, Ratih memeriksakan diri lagi ke RS Budi Kemuliaan.

Bagai kiamat, dia terkejut bercampur tak percaya ketika dokter membeberkan hasil pemeriksaan darahnya yang terinveksi virus HIV. “Darimana penyakit ini datang? Dari tulisan yang sering saya baca bahwa AIDS dikarenakan penderitanya sering bergonta-ganti pasangan atau makai narkoba. Sementara saya gak pernah begituan,” Ratih dengan mimik wajah sedih dan suara yang tertahan.

Ketidakpercayaannya dengan kenyataan pahit itu terus terngiang-ngiang dalam pikirannya. dr Fransisca L Tanzil, Dokter Klinik HIV Center RSBK yang menangani Ratih, memintanya agar suaminya juga diperiksa.

“Suamiku tak mau, dia selalu menolak kalau diminta tes darah.”

Pikiran buruk akan dijauhi orang-orang terdekatnya maupun masyarakat selalu menghantuinya. Selera makan dan semangat untuk hidup turun. Bahkan ia sempat berpikiran menyudahi hidupnya dengan bunuh diri.

Beban itu tak hanya menggerogoti pikirannya tapi juga menggerogoti fisiknya. Bibirnya juga mulai berjamur. “Berat badanku sempat turun hingga 24 kilogram, padahal sebelum nikah 59 kilogram,” ungkapnya.

Dengan bobot 24 kilogram, fisik Ratih seperti tulang dibungkus kulit saja. Kondisinya yang seperti itu mulai membuat kerabat dan tetangganya khawatir. Sejak itu, tetangganya silih berganti menjenguknya. Bahkan ada yang menganjurkan berobat ke dukun. “Saya menolaknya dan tetap yakin dokterlah yang bisa menangani ini.”

Setahun berobat di Batam tidak ada perubahan berarti, akhirnya Ratih memutuskan berobat di kampungnya di Medan. Diantar kerabatnya dia menumpang KM Kelud ke Medan. Di Medan ia langsung memeriksakan diri lagi di sebuah rumah sakit, karena berpikiran siapa tahu diagnosa dokter di Batam salah.

“Sampel darahku dikirim ke Jakarta, sebulan kemudian hasilnya diketahui saya memang positif HIV AIDS,” tukasnya.

Selama di Medan ia tinggal di rumah mertuanya. Suaminya yang awalnya terus menolak untuk diperiksa, akhirnya mau setelah dipaksa oleh keluarganya. Ternyata dari hasil pemeriksaan darah, suaminya memang positif HIV AIDS.

“Setelah tahu positif dia (suami) kabur,” bebernya.

Lebih miris lagi, mertua dan keluarga dari pihak suaminya tidak percaya kalau penyakit tersebut dari suaminya. Bahkan mertuanya secara terang-terangan tidak menginginkannya tinggal di rumahnya. “Saya ditinggal sendiri di rumah itu. Mertua saya pergi ke rumah anaknya di kota lain.”

Di tengah kekalutan yang ia hadapi, Ratih masih punya keyakinan bahwa Tuhan tidak menutup mata dengan kondisinya. Dia menghubungi saudara-saudaranya yang tinggal di kota itu dan menceritakan apa yang baru ia alami dengan mertuanya.

“Abang-abang saya akhirnya memberi jalan agar saya mencari informasi tentang AIDS di Medan, jumpalah dengan Medan Plus (sebuah LSM yang peduli HIV AIDS, red),” katanya.

Dari Medan Plus itulah semangat hidupnya mulai muncul kembali. Ratih merasa tidak sendiri lagi. Di sana ia bertemu dengan sesama pengidap AIDS yang dikenal dengan ODHA (Orang dengan HIV AIDS). Sedikit demi sedikit mulai melupakan konflik dengan mertuanya dan kaburnya suami.

Sesekali suaminya menelponnya dan mengabarkan bahwa dia ada di Batam. “Saya ajak dia kembali dan menerima kenyataan, tapi dia selalu menghindar dan selalu bilang ada di Batam.”

Ratih kembali lagi ke Batam setelah setahun di Medan. Dia langsung mencari suaminya, namun yang dicari tak kunjung muncul. “Saya telpon katanya dia ada di Tanjungpinang, saya cari ke Tanjungpinang juga gak ada. Dia bohong,” katanya.

Beberapa hari kemudian dia menerima telepon dari keluarga suaminya, yang mengabarkan bahwa suaminya telah meninggal. “Ternyata di Dumai dia drop, mungkin telah lama mengidap AIDS.”

Setelah kematian suaminya, Ratih mulai menata kembali hidupnya dari awal, dan mulai mencari kerja. Namun, setiap kali dites kesehatan saat melamar kerja, dia tak lolos. “Selalu kalah di tes itu (kesehatan), padahal saya masih mampu bekerja seperti yang lain,” ucapnya.

Setelah usahanya mencari kerja gagal, ia minta pendapat kepada kakaknya yang bekerja sebagai kepada sekolah di sebuah sekolah swasta. Oleh kakaknya Ratih diminta menjadi penjaga perpustakaan sekolah.

Tak lama kemudian, desas desus kembali muncul di lingkungan kerja barunya itu. Guru dan karyawan yang tahu tentang penyakit yang diidap Ratih tak menginginkannya bekerja di sekolah tersebut. “Akhirnya saya dikeluarkan, kakak saya juga diganti orang lain,” ungkapnya.

Tak terima dengan diskriminasi itu, ia protes ke pihak sekolah dan mengadukannya ke Dinas Tenaga Kerja Pemko Batam serta DPRD Batam. “Saya sendirian mengadukan masalah ini ke dewan. Untung ada anggota dewan yang menerima saya dan mendengarkan apa yang saya alami tapi tak bisa mengubah nasibku,” katanya sedih.

Derita batinnya tak berhenti di situ. Abang yang dia harapkan bisa melindungi dan mengayominya seakan tak kuasa ketika istrinya tak menginginkannya tinggal di rumahnya lagi.

“Ipar gak mau saya tinggal di rumah itu, mereka khawatir (tertular AIDS) karena ada anaknya yang masih kecil,” bebernya.

Dunia terasa semakin sempit baginya. Hanya orang-orang yang senasib dengannya yang bisa diajak curhat. Setiap ada jadwal pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) di Yayasan Embun Pelangi, dia rajin menghadirinya. Di sana Ratih merasa tak sendiri.

“Saya hanya berharap jangan ada diskriminasi dan stigma. Kami juga bisa bekerja,” harapnya.

Menurut Afrizal, pengurus Yayasan Embun Pelangi, tak hanya tingginya angka penderita HIV dari kalangan ibu rumah tangga yang membuatnya miris. Kini pihaknya sedang mendampingi seorang pelajar SMA di Batam yang positif HIV. “Dari pengakuannya dia “jajan” sejak kelas dua SMP,” katanya.

Kini, Ratih memilih nyewa kamar kos dengan suaminya yang baru. “Kondisinya termasuk baik karena dia rajin berobat dan rajin konsultasi,” kata Afrizal, Selasa (12/1).

Masih di Batam, seorang suami rela tertular virus HIV dari istrinya atas dasar cinta. Sibuan Abdurrahman dari Yayasan Komunikasi Informasi dan Edukasi Kota Batam, yang mendampingi pasangan suami istri tersebut mengaku telah memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya virus HIV, namun rasa cinta telah mengalahkan rasa takut terhadap penyakit mematikan itu.

“Saya selalu mengingatkan agar memakai kondom saat berhubungan, namun suatu hari si suami ingin sekali-kali mencoba tidak menggunakannya. Maka terseranglah (virus HIV) dia,” ungkapnya.

Wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia Kepulauan Riau Bibiana Dyah Sucahyani, menyatakan perlu adanya peraturan semacam perjanjian pranikah antar calon pasangan pengantin, dimana di dalamnya ada pernyataan sehat secara lahir maupun batin. Tujuannya untuk memberi rasa aman bagi kedua belah pihak. Sehingga tidak ada keraguan untuk menjalankan bahtera rumah tangganya kelak.

“Ini hal positif, bukan hal yang tabu untuk dibicarakan baik secara psikologis maupun agama dan adat,” katanya kepada Batam Pos, Sabtu (22/11/2015).

Di dalam adat Jawa dikenal dengan istilah “Bibit Bobot Bebet”. Agama Islam, lanjutnya, juga sangat dianjurkan tahu siapa calon pasangannya. Baik secara fisik, kesehatan dan latar belakangnya. “Jadi, syarat itu untuk penguatan keturunan.”

Bagi Dea, begitu Bibiana Dyah Sucahyani akrab disapa, surat pernyataan bebas AIDS dan penyakit lainnya perlu didorong menjadi peraturan daerah.

“Tapi jika calon pasangan sudah punya komitmen dan mau menerima konsekuensinya ya gak masalah. Yang penting statusnya,” pungkasnya.

Menurut catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Batam kini mencapai 539 orang berdasar data per September 2015.

Angka yang dikumpulkan Dinkes dari seluruh rumah sakit itu, sebanyak 143 di antaranya berasal dari pelanggan seks. Kemudian, 119 pasangan resiko tinggi (resti), 71 berasal dari wanita penjaja seks, 81 lelaki yang melakukan hubungan seksual dengan lelaki, 2 berasal dari waria, 2 berasal dari injecting drug user (pengguna narkoba suntik), 6 berasal dari warga binaan permasyarakatan, 3 berasal dari pelanggan pekerja seks, dan sisanya diakibatkan penyebab lainnya.***

Respon Anda?

komentar