Kepri Punya RBM Untuk Penyandang Disabilitas

545
Pesona Indonesia
 RBM3
 Rekaveny Soerya Terpilih Jadi Ketua

batampos.co.id – Keinginan untuk membantu para penyandang disabilitas (sebutan untuk penyandang cacat) di Kepulauan Riau membuat Rekaveny Soerya dan Sri Soedarsono memelopori pendirian Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) untuk Provinsi Kepulauan Riau.
Pada kesempatan Musda Jaringan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (JRBM) Kepri ke 1 di Aula RSBK,  25-26 November 2015 lalu, Rekaveny pun terpilih sebagai ketua.
Dalam kesempatan itu, Rekaveny memaparkan  perlunya dibentuk Rehabilitasi Berbasis Masyarakat di Kepri.

”Agar nantinya kegiatan rehabilitasi penyandang disabilitas di Kepri bisa dilakukan serempak dan terkoordinir. Apalagi di daerah lain sudah ada RBM dan sudah melakukan beragam strategi serta  program sejak tahun 1980 an,”katanya.
Rekaveny dan Sri Soedarsono juga sudah mengikuti Kongres  Community Based Rehabilitation (CBR) di India tahun 2012 dan yang baru-baru ini Kongres ketiga CBR di Jepang.
”Saya lihat sendiri, bagaimana orang-orang dengan kondisi cacat di Jepang saling menolong satu dengan yang lainnya. Bahkan semua fasilitas umum untuk mereka ada,” kata Rekaveny.
Sri Soedarsono, yang menjadi ketua rombongan saat kongres ke Jepang itu, merasakan manfaatnya setiap kali ikut konggres. Selain  bertemu anggota RBM atau CBR seluruh dunia, ajang ini bisa menjadi tempat saling berbagi pengalaman dalam merehabilitasi penyandang disabilitas di negara kita.
”Saya sudah punya sekolah khusus untuk anak-anak disabilitas juga berkebutuhan khusus. Pastinya yang disini anak-anak dari keluarga yang mampu. Nah, yang tidak mampu bagaimana? Melalui RBM inilah kita bisa membantu mereka,” kata Sri Soedarsono yang sudah mendirikan sekolah Luar Biasa (SLB) Kartini dibawah Yayasan Pembina Asuhan Bunda (YPAB) tahun 1985.
Rekaveny juga merasakan hal yang sama, ia mulai terpanggil membantu hingga membina penyandang disabilitas. Saat itu ia yang masih menjadi ketua Piswan DPRD Kota Batam (Persatuan Isteri – Isteri DPRD) , sering melakukan kunjungan kerja ke panti asuhan juga pondok pesantren.
”Disana  saya temukan penyandang disabilitas. Hati suka bergetar, kasihan melihat ketidakberdayaan mereka.  Nah makin terbuka jalan begitu menjadi ketua LKKS Kepri yang bidangnya memang sosial,” kata Rekaveny Soerya.
Diakuinya, walaupun belum semua orang disabilitas/cacat bisa dibantu, tapi paling tidak ada yang sudah terbantu. Selama memimpin LKKS, Rekaveny bersama anggota sudah melakukan berbagai kegiatan seperti sunatan massal untuk 100 anak berkebutuhan khusus dan disabilitas di Batam dan Tanjungpinang. Pemeriksaan mata/low vision Siswa SLB Kartini, bakti sosial low vision dan pemeriksaan THT, lomba membatik dan menggambar untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas, launching salon Kiki Miss Tuna Rungu Indonesia tahun 2014, pelatihan pembuatan krupuk bagi kelompok usaha disabilitas di Lingga, pembuatan kaki / tangan palsu, bantuan alat bermain outdoor untuk SLB Legenda dan pusat layanan Autis, bantuan alat musik untuk SLB Kartini, bantuan Al Quran Brailee, bantuan alat pacheting kelompok usaha disabilitas Lingga.
Suranto, ketua RBM Pusat sejak tahun 1950 ini juga mendukung  terbentuknya RBM di Kepri. ” Lembaga ini perlu, walau banyak lembaga yg menangani anak disabilitas. Tapi hanya sekadar nama. Harus direvisi lagi, karena banyak yang fiktif. Terima dana tapi tidak ada tindakan,” kata Suranto lagi.
Saat ini data anak cacat rumahan yang butuh bantuan orang lain sekitar  200 lebih. Mereka dikategorikan anak-anak dengan kondisi cacat berat.
” Saya titip 5 S (selesai, dikerjakan serius, harus sukses, harus selamat dunia dan akhirat).  Pakailah filososfi lilin,” kata Suranto lagi.
Agus Diono, Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Orang Dengan Kecacatan Luar Panti Kementerian Sosial RI, yang hadir sebagai pembicara dalam Musda mengajak agar RBM Kepri yang sudah terbentuk ini bisa fokus pada R (rehabilitasi) dan BM (berbasis masyarakat) maksudnya adalah RBM akan menjadi  penghubung ke Disnaker, Depkes juga Dinsos.
” Dalam kebijakan pusat, kami  mendukung dan disesuaikan ketentuan berlaku. Misal dana harus ada proposal,”kata Agus mencontohkan.
Nanti, kata Agus Lagi, akan ada pembahasan RUU Disabilitas No 4 no 97. Akan lebih baik arahnya dibandingkan 10 tahun lalu.
 ”Dulu lebih kepada kesejahteraan sosial, charity dan belas kasihan. Sekarang sudah pada kemandirian dan  pekerjaan yang layak. Karena itu UUD nantinya perlu direhabilitasi untuk pemenuhan hak baik itu pendidikan, ekonomi, kesehatan. Ketenagakerjaan juga agama. Sekarang masih proses edukasi bahwa orang disabilitas itu setara. Jika punya kemampuan komputer diarahkan kesana.  Jangan dipaksa  buat keset atau tukang pijat. Dengan RBM ini maka program rehabiltasi dari masyarakat bisa mudah terwujud, ”harap Agus yang menjadi satu-satunya penyandang Disabilitas di Kementerian Sosial RI. (agn)

Respon Anda?

komentar