Harga Kebutuhan Pokok di Batam Makin Tak Terkendali, Pemko Pasrah

401
Pesona Indonesia
Pengunjung pasar sedang memilih cabe merah di pasar pagi Jodoh, Kamis (3/12). Cabe termasuk komoditas yang terus melonjak harganya di Batam. Foto: Johannes Saragih/Batam Pos
Pengunjung pasar sedang memilih cabe merah di pasar pagi Jodoh, Kamis (3/12). Cabe termasuk komoditas yang terus melonjak harganya di Batam. Foto: Johannes Saragih/Batam Pos

batampos.co.id – Harga pelbagai komoditas bahan pangan di Batam mulai dari beras, gula, cabai, dan bahan-bahan kebutuhan lainnya terus meroket.

Sayangnya, Pemerintah Kota (Pemko) Batam dalam hal ini Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi, Sumber Daya Mineral (Disperindag-ESDM) Kota Batam tak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan harga-harga tersebut.

“Batam mengandalkan kiriman dari daerah lain, tapi karena dari sana harganya sudah mahal, sampai Batam ya juga mahal,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag-ESDM Kota Batam, Rudi Sakyakirti, Kamis (3/12).

Selama ini, Batam menyandarkan kebutuhan komoditas pangan dengan membeli dari daerah lain lantaran kota industri ini bukan daerah penghasil pertanian. Meski begitu, Batam diklaim tak pernah kekurangan bahan makanan.

“Karena kan suplai terus ada, tapi memang harganya kadang mahal,” Rudi tak memungkiri.

Namun, sambung ia, itu tak lepas dengan kondisi yang terjadi di daerah asal komoditas itu berasal. Terutama, faktor alam yang biasanya mempengaruhi suplai dan berimbas terhadap kenaikan harganya.

“Misalnya cabai, kita datangkan dari Jawa, tapi kan di sana saat ini baru mulai musim penghujan setelah terkena dampak elnino, jadi wajar jumlahnya tak banyak sehingga harganya mahal,” bebernya.

Meski begitu, Kepala Dinas mengklaim pihaknya turut berupaya untuk mengintervensi pasar agar harga masih dalam batas kendali.

“Kemarin itu kan kita operasi pasar beras, tapi karena jumlahnya terbatas hanya 49 ton ya langsung habis dan belum bisa maksimal (menekan harga),” imbuhnya.

Terkait desakan impor beras maupun gula yang belum juga dikabulkan pemerintah pusat, Rudi mengatakan pihaknya masih menunggu upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kepri yang terus gencar melobi di tingkat pusat. Meskipun, ia tak menampik hingga kini belum ada kabar menggembirakan atas permintaan tersebut.

“Kita tetap mendukung upaya itu,” kata dia. (rna)

Respon Anda?

komentar