Kata Badan Perlindungan Anak, Melakban Mulut Murid Itu Kekerasan

384
Pesona Indonesia
Ini anak yang dilakban mulutnya oleh gurunya. Foto: istimewa
Ini anak yang dilakban mulutnya oleh gurunya. Foto: istimewa

batampos.co.id – Melakban mulut anak sebagai hukuman adalah sebuah kesalahan. Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BPPPA-KB) Batam menilainya sebagai tindak kekerasan terhadap anak.

“Itu termasuk kekerasan fisik dan psikis,” kata Kepala BPPPA-KB, Nurmadiah, Senin (7/12).

Anak akan mengalami kesulitan bicara pada saat itu. Mulutnya dibekap oleh benda kasar yang tidak ramah dengan kulit. Ketika dibuka, rasa sakit mendera.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah dampak psikisnya. Peristiwa itu akan terpatri dalam benak anak sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan kepada orang yang ribut. Bukan tidak mungkin, ketika ia bertemu teman yang ribut, ia akan melakban mulut temannya itu.

“Karena gurunya sudah melakukan itu. Jadi ia merasa hukuman itu benar,” tuturnya.

Esensi pendidikan adalah mengubah dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak baik menjadi baik. Guru seharusnya memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Melakban mulut bukan contoh yang baik.

“Pendidikan apa coba yang terkandung dari ‘melakban mulut’ itu?” ujarnya lagi.

Nurmadiah mengakui, tantangan menjadi seorang guru muncul ketika berhadapan dengan anak-anak. Apakah anak itu susah diatur, lari ke sana ke mari, dan ribut sendiri. Tapi, begitulah anak-anak. Itu sifat alami mereka.

Anak-anak belum tahu kalau ‘ribut’ itu salah. Para guru dapat mengingatkan si anak melalui pendekatan kasih sayang. Seperti dengan menghampirinya, “lalu bercerita, ‘orang yang ribut itu, kawannya jadi tak bisa dengar cerita,” tambah Nurmadiah.

Jika tidak, guru juga dapat memanggil anak itu ke ruangan lain dan berbicara empat mata. Supaya anak itu tidak malu. Anak-anak itu diingatkan dengan kata-kata yang baik.

“Kami akan minta ke PGRI untuk mengevaluasi kembali guru tersebut. BPPPA-KB kurang setuju dengan tindakan itu,” ujar wanita yang pernah menjadi guru SD, SMP, hingga SMA itu lagi.

Senada dengan BPPPA-KB, Asisten Deputi Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ali Khasan juga menilai tindakan itu sebagai sebuah kekerasan. Ini bertentangan dengan Undang-Undang nomor nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Tentu ada sanksi pidana bagi mereka yang melanggar,” kata Ali Khasan.

Peraturan tentang perlakuan kekerasan terhadap anak diatur dalam pasal 76C. Pelanggarnya terancam hukuman pidana penjara paling lama tiga tahun enam bulan. Dan denda paling banyak Rp 72 juta.

“Membungkam anak itu sudah termasuk kekerasan fisik,” ujarnya.

Orang dewasa tidak boleh berlaku kasar pada anak. Terlebih orang-orang terdekat anak. Pendidik termasuk orang terdekat anak. Para pendidik harus mengubah sudut pandang pendidikan dengan pendekatan yang pro-aktif. Yakni, menerapkan suasana yang ramah anak. Sehingga menimbulkan rasa senang antara anak dan pendidik.

“Perlakuan yang ramah tentu akan membuat anak menjadi ramah,” ujarnya. (ceu)

Berita Terkait: Disdik Janji Tindak Guru yang Lakban Muridnya

Respon Anda?

komentar