Mau Tahu Tentang Universitas Entrepreneurship Syariah? Baca Ini!

459
Pesona Indonesia
Mantan Mentri BUMN Dahlan Iskan menandatangani lounching Universitas Entrepreneurship Syariah yang disaksikan Chairman Riau Pos Group Rida K Liamsi, Datuk Sri Syed Hussein Al Habshee, Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka, pada puncak acara Al Ahmadi Award 2015 se-Sumatera serta Seminar dan Business Matching 3 Negara di Hotel Harmoni One Batamcenter, Minggu (6/12). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Mantan Mentri BUMN Dahlan Iskan menandatangani lounching Universitas Entrepreneurship Syariah yang disaksikan Chairman Riau Pos Group Rida K Liamsi, Datuk Sri Syed Hussein Al Habshee, Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka, pada puncak acara Al Ahmadi Award 2015 se-Sumatera serta Seminar dan Business Matching 3 Negara di Hotel Harmoni One Batamcenter, Minggu (6/12). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Batam Pos Entrepreneur School (BPES) segera membuka Universitas Entrepreneurship Syariah di tahun 2016 nanti. Menggandeng International Islamic College, Malaysia, BPES akan memberikan pemahaman dasar berbisnis secara syar’i kepada para pesertanya.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Lisya Anggraini duduk di kantornya, Graha Pena Batam lantai 9, Senin (7/12) sore. Ia memandang ke jendela. Matanya menerawang menembus kaca menuju langit biru di atas bangunan ruko dan gedung di luar sana.

“Bisnis yang cepat hancur itu bisnis yang terlalu spekulatif,” katanya masih sambil menerawang.

Direktur Eksekutif Batam Pos Entrepreneur School (BPES) itu memalingkan wajahnya kemudian. Berbicara dengan nada datar. Volume suaranya rendah.

“Dia terlalu berani mengambil risiko tanpa pernah mengukur dampak risiko itu,” lanjutnya.

Spekulatif. Itu satu ciri ekonomi liberal. Demi asas bisnis, semuanya boleh dilakukan. Ini sistem ekonomi yang bebas sebebas-bebasnya.

“Nah, dalam konsep ekonomi syariah, tidak ada yang namanya spekulan,” ujarnya lagi.

Pelaku bisnis syariah telah mengetahui risiko dan akibat dari setiap tindakan yang ia ambil. Maka ia telah mempersiapkan strategi menghadapi risiko setiap kali mengambil langkah. Semua yang diambil dan dihadapi sudah terukur.

Dengan kata lain, safety. Konsep syariah menjamin keamanan dalam berbisnis. Satu hal itulah yang kini mulai banyak dicari orang. Dunia perbankan sudah memulainya. Mereka memberi pilihan jasa layanan perbankan yang berkonsep syariah di samping konsep konvensional.

Dan begitulah yang akan terjadi dalam tubuh BPES awal tahun nanti. BPES akan memberi pilihan baru kepada masyarakat, terutama para calon wirausahawan. Yakni, pilihan berwirausaha dengan konsep syariah.

BPES akan membuka program pendek berwirausaha dengan konsep syariah. Programnya ada dua. Yaitu, pengenalan konsep syariah dan kelas keuangan syariah. BPES menggandeng International Islamic College (IIC) Malaysia untuk mewujudkan program itu.

“Ini bukan peralihan. Ini langkah awal kami supaya orang nanti bisa memilih mau berbisnis dengan cara apa,” tutur wanita yang kala itu mengenakan hijab hitam.

Berteman setoples keripik pisang, Lisya menceritakan lebih banyak tentang konsep syariah. Konsep syariah, katanya, lebih mengutamakan kejujuran. Intinya ada pada kepercayaan.

Satu contoh bisnis yang telah mengusung konsep syariah adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu. Kepercayaan muncul dalam setiap transaksi. Akad jual-beli, misalnya, dilakukan dengan harga yang telah disepakati sebelumnya.

“Dan tidak ada biaya-biaya tambahan lainnya,” katanya.

Biaya tambahan itu, salah satunya, denda. Biasanya, dalam setiap transaksi kredit, pemberi kredit akan menyampaikan besaran denda jika uang tak dibayarkan dalam kurun waktu tertentu. Ketentuan besaran denda inilah yang ternyata lebih bisa memaksa masyarakat untuk membayar.

BMT tak mengakomodir denda. Sebab, dalam konsep syariah, hutang memang harus dibayarkan. Jika tidak, ada akibat yang harus ia tanggung. Akibat itu sangat berhubungan dengan akhirat.

Sayang, bangsa Indonesia masih bermental denda. Jadi, ketika tidak ada denda dalam akad kredit itu, mereka merasa ini peluang. Makanya, banyak juga BMT yang gulung tikar.

“Masih banyak masyarakat kita yang tidak paham dengan konsep syariah,” ujar Lisya lagi.

Padahal, banyak yang ingin mengembangkan konsep syariah. Sayang, pikiran mereka telah dipenuhi dengan hal-hal rumit. Hingga pandangan mereka tentang syariah menjadi sempit. Mereka akhirnya merasa, aturan-aturan yang mengatur bisnis itu beban. Mereka merasa tidak leluasa bergerak.

BPES ingin menghapus pandangan sempit itu. “Biasanya, pebisnis lebih bisa nyambung berbicara dengan pebisnis juga. Nah, yang akan mengampu kelas ini itu para pakarnya langsung,” tambah wanita yang sudah lima tahun membangun BPES itu.

Dengan program ini, Lisya juga ingin bisa menjangkau lembaga berbasis keagamaan. Misalnya, masjid dan pesantren. Masjid itu bisa dijadikan sebagai pusat ekonomi. Bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah.

Misalnya saja, cara mengelola sumbangan masjid. Bukan langsung dihabiskan untuk berbelanja barang. Tetapi bisa dialihkan ke hal lain yang ternyata dapat lebih produktif lagi.

“Nah, pesantren ini ketika tumbuh bisa jadi daya dorong ekonomi,” tuturnya.

Pesantren dapat dikelola dengan sudut pandang entrepreneurship. Lisya ingin mengumpulkan semua pemimpin pondok pesantren dalam satu ruang kelas dan memberikan pelatihan wirausahawan berbasis syariah. Dengan harapan, para pemimpin itu dapat menularkan ke seluruh santriwan-santriwatinya. Sehingga, gerakan berwirausaha ini akan lebih besar lagi.

“Tapi itu masih jangka panjang. Sekarang, kami mulai dengan ini saja dulu,” tambahnya.

Program pendek itu rencananya akan dimulai akhir Februari atau awal Maret nanti. Lama waktu belajarnya dua bulan saja. Ketika ditanyai target peserta program, Lisya kembali menerawang.

“Apakah menentukan target capaian ini masuk dalam konsep syariah?” tanyanya.

Pertanyaan itu lebih ia tujukan ke dirinya sendiri. Lalu ia sejenak diam, berpikir. Ia kembali mengulang pernyataannya. Banyak orang yang ingin menjalankan bisnis syariah. Hanya saja tidak tahu jalannya.

“Saya optimis program ini dibutuhkan. Orang banyak membutuhkan program ini,” katanya. ***

Respon Anda?

komentar