Wanita 58 Tahun Ini Berlumuran Darah Dihajar Empat Orang

237
Pesona Indonesia
Jamilah saat diobati tim dokter kepolisian di Mapolresta Barelang, Selasa (8/12). Foto: yashinta/batampos
Jamilah saat diobati tim dokter kepolisian di Mapolresta Barelang, Selasa (8/12). Foto: yashinta/batampos

batampos.co.id – Jamilah babak belur dihajar empat orang petani. Wanita berusia 58 tahun ini pun mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.

Didampingi sang sang suami, Abdul Rahman, Jamillah membuat laporan ke Polresta Barelang.

Di lobi Polresta Barelang, Jamilah meringis menahan sakit. Pakaian yang dikenakannya tampak berlumuran darah. Mulut perempuan ini juga masih mengeluarkan darah.

Tak berapa lama, tiga orang dokter dari Polda Kepri langsung membersihkan lukanya. Jamilah juga diminta membuat laporan ke SPK Polresta Barelang kemudian melakukan visum.

“Saya dikeroyok semua badan saya sakit. Empat orang menghajar saya bersamaan,” ujar Jamilah sambil menangis dan menghapus luka yang terus keluar dari mulutnya.

Wanita berkaos merah muda itu tampak menghela nafas panjang. Ia terus menangis dan sang suami mencoba menenangkannya.

“Mereka tiba-tiba datang, dan langsung memukul saya. Saya sudah minta ampun, tapi mereka tetap menghajar saya,” jelas Jamilah.

Diceritakannya, kejadian penganiayaan yang dialaminya terjadi sekitar pukul 09.30 WIB, Selasa (8/12). Saat itu ia baru saja sampai di kebunnya yang berada di daerah Nongsa persisnya di belakang Polda Kepri.

Bersama suami, Jamilah langsung membersihkan kebunnya. Namun tiba-tiba empat orang yang dia kenal datang, tiga laki-laki dan satu perempuan. Empat orang itu mendekatinya. Tanpa mengeluarkan satu patah katapun, keempat orang itu langsung menghajarnya.

“Mereka Rauf, Udin, Irsyad, dan istrinya mendatangi dan memukul saya. Tak satupun orang yang menghentikannya. Mereka baru berhenti setelah puas,” ungkap Jamilah kembali menangis.

Sementara Abdul Rahman, saksi mata yang saat itu melihat istrinya dianiaya mengaku tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menatap pasrah sambil berteriak agar penganiayaan itu berhenti. Apalagi, keempat orang itu tampak membawa kayu dan parang.

“Saya mencoba melawan tapi ditahan dengan yang lain. Warga lain yang mencoba membantu pun juga diancam. Mereka pun meninggalkan istri saya setelah terjatuh di tanah,” jelas Abdul Rahman.

Abdul Rahman menduga penganiayaan yang dialami istrinya berawal dari permasalahan kelompok tani yang mereka bentuk. Kelompok tani itupun dibubarkan karena tak menemukan jalan keluar.

“Jadi bubar karena kesepakatan awal tak dijalankan. Mereka ini yang bekerja di lahan saya. Mereka mengingkari janji dengan menanam tanaman yang usianya lebih dari satu tahun. Padahal kesepakatan awal paling lama enam bulan,” jelas Abdul Rahman. (she)

Respon Anda?

komentar