Tim SAH Akan Laporkan Dandim

331
Pesona Indonesia
Alex (buka baju) Ketua PAC PDI P Bengkong yang juga koordinator saksi SAH wilayah Bengkong. Foto:Ist
Alex (buka baju) Ketua PAC PDI P Bengkong yang juga koordinator saksi SAH wilayah Bengkong.
Foto:Ist

batampos.co.id – Tim pemenangan Soerya Respationo- Ansar Ahmad mempertanyakan netralitas TNI dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilikada) di Kepulauan Riau. Mereka melihat adanya mobilisasi TNI, dengan senjata lengkap mendatangi TPS. “Ini gambaran kekhawatiran kami, tim pemenangan dari PDI Perjuangan. Demokrasi Pemilu aman tentram untuk menghasilkan sosok pimpinan bermartabat sedang diuji,”  kata Ketua Tim Hukum Pilkada DPP PDI Perjuangan, Sirra Prayuna, Rabu (9/12).

Ditangkapnya Alex koordinator saksi wilayah Bengkong, menurut Sirra bukti keberpihakan TNI dalam Pemilukada. “Problem kami ada keterlibatan TNI, Dandim,” katanya.

Padahal Ketua PAC Bengkong itu mempunyai tugas yang jelas membagikan honor serta kaos untuk para saksi. “Banyak saksi yang melihat pembagian itu, termasuk pihak TNI. Tapi waktu itu tak diamankan,” ungkapnya.

Namun sepuluh menit setelah berada di rumah, ada tujuh orang personel menuduhnya melakukan money politik. “Tiga orang menggunakan pakaian sipil, empat orang menggunakan seragam serta bersenjata lengkap,” ungkapnya.

Di berbagai Media, Dandim menyebutkan telah menangkap Alex atas dugaan money politik. Karenanya Sirra menuding Dandim memiliki motifasi tertentu dalam kasus itu, yang nyata-nyata bukan kewenangannya. “Ini aneh menurut saya. Dandim harusnya berhati-hati mengambil sikap, serta memposisikan dalam Pemilukada ini,” katanya.

Sirra mengimbau TNI, tak main-main politik praktis pada pemilukada. “TNI Harus bersikap netral, jangan masuk politik yang diluar tugas mereka,” katanya.

Meskipun hal tersebut benar adanya, idealnya TNI lanjut Sirra tak serta merta masuk ke wilayah itu. Ada Badan Pengawas Pemilu serta pihak Kepolisian.  “Harusnya Gakumdu, kenapa TNI. Kalau benar adanya, pasti akan kami proses, laporkan dan penjarakan,” katanya.

Sejak tahun 1999, TNI lanjut Sirra selalu mengambil posisi netral dalam setiap pelaksanaan Pemilu. Namun di Kepri, TNI malah melakukan keberpihakan. Bahkan keberpihakan Dandim dalam Pemilu itu, lanjut Sirra tak berdiri sendiri, namun dibelakangnya ada yang menggerakan. “Ini  yang sedang kami telusuri,” katanya.

Pihaknya akan melaporkan Dandim ke pihak terkait, PDI Perjuangan akan mengirim surat resmi. “Danrem dan panglima harus menedengar ini, agar anggotanya tak bermain-main hal sensitif seperti Pilkada,” ungkapnya.

Proses penekanan tersebut menurut Sirra sudah berlangsung sejak masa proses Kampenye. Dimana nomor telepon calon serta tim ini dirusak dengan cara mengkloning nomor telepon.  Hal tersebut merupakan varian dari cacatnya proses demokrasi di Kepri yang harus ditindaklanjuti oleh Bawaslu maupun Polri.

Terpisah, Alex menuturkan tujuh anggota yang mendatanginya itu mengetok pintu rumahnya dan mengaku sebagai Ketua RT. “Ternyata mereka tentara, mereka mendesak saya untuk masuk kedalam mobil. Namun saya menolak,” ungkap Alex.

Alex menyebutkan, hal tersebut merupakan hal yang aneh yang dialaminya. “Kalau mau ditangkap, kenapa tak saat membagikan kaos dan uang kepada saksi di Bengkong Aljabar. Padahal disitu ada Babinsa serta Polri,” ungkapnya.

Selain itu, Alex juga tak terima namanya dicemarkan melalui media online maupun facebook.”Saya tidak terima,” ungkapnya. (hgt/bpos)

Respon Anda?

komentar