Sebanyak 93 Karyawan PT LA Engineering Tak Terima Gaji

1556
Pesona Indonesia
Sebanyak 93 karyawan PT LA Enginnering yang berada di PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji belum menerima gaji. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Sebanyak 93 karyawan PT LA Enginnering yang berada di PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji belum menerima gaji.
Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Sebanyak 93 orang karyawan PT LA Engineering terlantar menjelang datangnya Natal dan Tahun Baru. Pasalnya gaji bulan November dan tunjangan Natal belum dibayarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. ”Kami hanya tuntut pembayaran gaji bulan November yang seharusnya dibayarkan 10 Desember lalu,” kata koordinator aksi karyawan, Wim Dion, Rabu (16/12).

Mereka juga menuntut kejelasan status mereka. Awalnya 93 orang karyawan ini adalah pekerja dari perusahaan subkon Forward Marine yang kemudian dipekerjakan di perusahaan subkon PT LA Engineering untuk bekerja di sebuah proyek di tempat milik PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batam.

”Pada awalnya PT LA bayar gaji bulan Oktober, artinya mereka ada itikad baik, namun sampai sekarang ada ketidakjelasan status,” ungkap Wim.

Dengan kata lain, surat pengesahan mereka sebagai karyawan PT LA belum diterima sama sekali. ”Untuk apa jika kami bekerja tapi tak dibayar,” kata Wim lagi.

Mereka sudah mencoba ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam untuk mengadukan nasibnya, tapi hanya mendapatkan surat anjuran. ”Kata Disnaker sebenarnya tak boleh disubkon dua kali, makanya kami hanya ingin tahu status kami,” jelasnya.

Jika tidak diindahkan, para pekerja ini akan melaksanakan mogok kerja pada Jumat (18/12) besok.

Sedangkan perwakilan dari PT ASL Shipyard yang ditunjuk mewakili PT LA Engineering untuk menjembatani penyelesaian permasalahan ini, Roni mengatakan sebenarnya para pekerja ini salah alamat jika ingin menyampaikan tuntutan.

”Sebenarnya mereka harus menuntut Forward Marine bukan PT LA, karena mereka dari Forward Marine,” katanya.

Namun, Roni mengatakan sampai sekarang belum ada itikad baik dari pemilik Forward Marine untuk menyelesaikan masalah ini. ”Namun, saya juga membuka pintu bagi para pekerja untuk bermusyarawarah tentang masalah ini, lagipula mereka sudah dapat surat anjuran dari Disnaker, silahkan diproses secara hukum,” ujarnya. (leo/bpos)

Respon Anda?

komentar