Jadi Pimpinan KPK, Mantan Direskrimum Polda Kepri Harus Buktikan Dia Bukan Spionase Polri

343
Pesona Indonesia
Calon pimpinan KPK, Irjen (Pol) Basaria Panjaitan.
Pimpinan KPK, Irjen (Pol) Basaria Panjaitan.

batampos.co.id –  Publik terus was-was dengan formasi lima pimpinan KPK yang baru saja terpilih, Kamis (17/12). Terutama pada figur Basaria Panjaitan yang menjadi perwakilan Polri dan minim pengalaman.

Beberapa pihak pun menantang pimpinan KPK melawan tudingan itu dengan mengusut sejumlah perkara yang melibatkan aparat penegak hukum.

Salah satu yang menyuarakan kerisauannya ialah Indonesia Corruption Watch (ICW). Peneliti ICW Emerson Yunto mengatakan dari lima pimpinan KPK, Basaria perlu terus dikawal sepak terjangnya. Dia khawatir Basaria bakal menjadi sarana Polri untuk mengintervensi KPK.

”Apalagi kami mendapatkan informasi jika Polri ingin Basaria ada di penindakan,” ujar Emerson dalam diskusi di Jakarta, kemarin (19/12). Menurut dia untuk menjawab keraguan itu, Basaria harus menunjukan kinerjanya sesuai harapan publik.

Jika tidak stigma bahwa Basaria titipan Polri bakal terus ada pada publik. Hal itu menurut Emerson wajar karena selama ini publik tahu bagaimana hubungan KPK dan Polri semasa pimpinan jilid II dan III.

Para penggiat anti korupsi memang patut curiga pada Basaria. Sebab dibanding empat pimpinan lainnya, Basaria termasuk yang minim pengalaman dan kemampuan. Nah, padahal dari 10 calon yang menjadi fit and proper test kemarin, banyak yang lebih layak dibanding Basaria.

ICW mengaku sebenarnya telah mengirimkan tiga nama yang masuk daftar rapor merah ke panitia seleksi (pansel) saat mereka mengumumkan 8 nama calon pimpinan KPK ke Presiden. Namun aporan ICW itu tidak ditindaklanjuti dan malah diteruskan Presiden ke DPR. Sayangnya, Emerson enggan membuka tiga nama tersebut.

Namun menurut dia yang diberi rapor merah itu kini ada yang lolos menjadi pimpinan KPK. Dari pandangan ICW, lima capim yang dipilih saat ini merupakan mereka yang bisa memenuhi harapan DPR, bukan publik. Misalnya saja hampir semua pimpinan setuju dengan revisi UU KPK yang isinya banyak melemahkan KPK. Selain itu pimpinan KPK baru ini semua setuju tugas KPK harus mengedepankan pencegahan.

Pengamat sekaligus praktisi hukum Teuku Nasrullah setuju dengan pandangan ICW. Dia melihat pimpinan KPK yang dipilih DPR merupakan mereka yang punya kesamaan pandangan politik hukum. Dia mencontohkan Johan Budi Sapto Pribowo yang tidak dipilih DPR.

Nasrullah mengatakan saat ini politik hukum DPR ialah menginginkan adanya pimpinan yang setuju dengan revisi UU KPK dan mengedepankan pencegahan dari pada penindakan. ”Semua orang tahu lah kredibilitas dan integritas Johan. Tapi karena selama ini dia getol menolak revisi, ya tidak terpilih,” terang pria yang pernah menjadi pengacara Irjen Djoko Susilo ini.

Anggota Komisi III yang hadir dalam diskusi tersebut, Dwi Ria Latifa menyayangkan ICW tidak menyerahkan tiga nama itu ke DPR. ”Kami di PDIP ini sebenarnya telah berupaya memilih beberapa nama yang selama ini menjadi harapan publik, tapi kalah voting mau bagaimana lagi,” kilahnya.

Menurut dia, saat pimpinan KPK sudah terpilih. Publis harus memberi kesempatan mereka bekerja. Latifa berharap pimpinan KPK bukan lagi mereka yang banci kamera. ”Saya berharap pimpinan KPK baru ini tidak hanya senang tampil di media. Tapi mereka harus tampil di diskusi, seminar dan kegiatan publik lainnya untuk menanamkan pencegahan korupsi,” terangnya.

Sementara itu pimpinan KPK Saut Situmorang mengatakan prioritas pencegahan yang digagas para pimpinan baru bukan berarti meninggalkan fungsi penindakan. ”Kalau kita hanya penjarakan orang, hasilnya apa? Korupsi juga masih terjadi dimana-mana,” ujarnya. Saut mengaku siap kerjanya diawasi. Sebab dia merasa dirinya belum tentu bisa melakukan lebih baik dari pimpinan-pimpinan KPK sebelumnya.

Mengenai sejumlah perkara yang menjadi PR KPK, Saut mengaku perlu bertemu dulu dengan pimpinan lain. Dia berjanji akan menuntaskan sejumlah perkara yang memang memungkinkan diselesaikan. Termasuk saat ditanya soal perkara korupsi pengadaan Quay Container Crane (QCC) yang kini menjerat Lino.

“Pasti diteruskan, bagaimana bisa dihentikan? Mekanismenya kan tidak bisa,” ujarnya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar