Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Kolposkopi, Teknologi 3 Dimensi

955
Pesona Indonesia
Dokter Gumilang Wiranegara saat melakukan pengecekan mulut rahim pasiennya menggunakan kolposkopi di RS Awal Bros Batam belum lama ini. Foto: istimewa
Dokter Gumilang Wiranegara saat melakukan pengecekan mulut rahim pasiennya menggunakan kolposkopi di RS Awal Bros Batam belum lama ini. Foto: istimewa

Kanker mulut rahim yang juga disebut kanker serviks menjadi momok yang menakutkan bagi setiap perempuan. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia. Pemeriksaan dini penting dilakukan, salah satunya dengan kolposkopi.

YUSUF HIDAYAT, Batam

“Takut juga terutama terkait hasilnya, berdoa semoga hasilnya bagus. Waktu nunggu hasilnya itu tangan dingin, kaki dingin,” ungkap Mery, 50, saat diminta komentarnya saat pertama kali duduk di kursi kolposkopi, Selasa (8/12) lalu.

Mery harus duduk di kursi tersebut untuk pemeriksaan pap smear. Usianya kala itu baru 35 tahun. Sejak itu, setiap tahun dia mengaku rutin periksa diri. Alasannya kalau ada apa-apa bisa diantisipasi sejak dini. “Periksa dini paling tidak setahun sekali, kalau ada apa-apa bisa diantisipasi secara cepat,” kata survivor Kanker Informasi Support Centre, Batam, tersebut.

Sama dengan yang dirasakan oleh Ummi, 42. Perempuan karir ini juga deg-degan ketika akan duduk di kursi kolposkopi. Ummi akan melakukan pap smear untuk pertama kalinya. Deg-degannya meredah setelah dokter bisa menenangkan hatinya, dan pap smear tersebut berjalan lancar. “Yang bikin resah itu saat nunggu hasilnya, bagus gak ya..atau jangan-jangan ada yang gak beres,” tuturnya, pekan lalu di Batamcentre.

Apa kolposkopi itu? dr Gumilang Wiranegara, SpOG FMIS, mengatakan kolposkopi merupakan pemeriksaan menggunakan binocular/teropong stereoscopic dengan sumber pencahayaan yang cukup rendah untuk memeriksa secara visual dengan pembesaran terhadap organ mulut rahim bertujuan untuk mendeteksi kelainan prakanker di mulut rahim.

“Indikasi umum dari kolposkopi adalah tes skrining yang positif, contohnya tes pap smear positif, tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) positif,” terang dokter berkacamata itu.

Hasil tes pap smear yang abnormal, lanjutnya disebabkan oleh infkesi virus seperti human papillomavirus (HPV) atau beberapa jenis infeksi lainnya seperti bakteri, jamur dan protozoa (trichomonas).

Pada beberapa kasus hasil tes pap yang tidak normal dapat menyebabkan perubahan ke arah pra kanker. Hasil sitologi skrining berupa high grade cervical neoplasia (NIS 2 dan NIS 3) sering berkaitan dengan temuan kanker serviks stadium awal. Sehingga sangatlah diperlukan pemeriksaan kolposkopi pada setiap hasil skrinning berupa NIS 2 dan NIS 3.

“Akan tetapi pada beberapa kasus terdapat variasi dimana wanita dengan kelainan NIS 1 juga diperlukan kolposkopi,” kata Gumilang.

Menurutnya perlu ditekankan pada setiap wanita dengan hasil skrining pap smear NIS 1/low grade bahwa mereka memiliki kemungkinan yang cukup tinggi 15 persen hingga 20 persen ternyata memiliki sel atipik (curiga keganasan) dari hasil kolposkopi. Sehingga pada negara berkembang sangat dianjurkan pada setiap kelainan hasil pap smear segera dirujuk untuk dilakukan kolposkopi.

Dokter Gumilang-Wiranegara, SpOG. Foto: yusuf hidayat/batampos
Dokter Gumilang-Wiranegara, SpOG. Foto: yusuf hidayat/batampos

Kolposkopi sendiri memiliki beberapa bagian yakni bagian kepala berupa teropong binocular dan diletakkan 30 centimeter di depan vagina, kemudian sumber cahaya beserta filter lensa hijau untuk menilai pola pembuluh darah di mulut rahim/cervix.

Kolposkopi dapat digerakkan ke segala arah sehingga memungkinan fleksibilitas yang tinggi dalam memeriksa kelainan mulut rahim dan dengan penggunaan teropong binocular dapat memberikan gambaran stereoscopis 3D (tiga dimensi).

Pada alat kolposkopi modern memberikan pembesaran gambar dari mulut rahim mulai dari 6 kali hingga 40 kali. “Sehingga permukaan jaringan yang diperiksa jauh lebih detail, begitu juga dengan pola pembuluh darah,” terangnya.

Kolposkopi seringkali memiliki beberapa alat tambahan seperti CCD video camera untuk relay gambar dan video printer, dimana alat tersebut sangat penting dalam mendokumentasikan hasil temuan kolposkopi dan sebagai penunjang infomasi terhadap pasien.

Gumilang mengatakan tujuan utama dari pemeriksaan kolposkopi ini adalah mencari apakah ada perubahan warna asetowhite dari dinding permukaan sel mulut rahim, dimana perubahan tersebut dapat menjadi salah satu ciri perubahan awal dari bibit suatu kanker mulut rahim.

Dokumentasi temuan kolposkopi merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari pemeriksaan kolposkopi dan harus sesegera mungkin didokumentasikan setelah prosedur dilakukan. Jika ditemukan kelainan pada mulut rahim, maka akan dilakukan segera tindakan biopsi atau mengambil contoh jaringan di lokasi yang dicurigai. “(Jaringan) diiris sekitar dua centimeter dengan kedalaman lima milimeter, kayak disunat,” katanya.

Biopsi dapat berupa satu bagian kecil atau biopsi luas seperti LEEP ataupun LETZ, dimana seluruh bagian kelainan di permukaan dinding mulut rahim diambil. Dan prosedur ini dilakukan dalam anestesi lokal. Seluruh tindakan kolposkopi dan biopsi ini biasanya memakan waktu 15 sampai 25 menit.

Menurut Gumilang, hasil kolposkopi dan biopsi yang normal, hasil tes asam asetat dan iodine tidak menunjukkan adanya jaringan mulut rahim yang abnormal. “Vagina dan mulut rahim tampak normal, atau hasil biopsi tidak menunjukkan adanya sel abnormal.”

Sedangkan yang abnormal, hasil tes asam asetat dan iodine menunjukkan adanya gambaran asetowhite dan permukaan jaringan yang tidak normal. “Kelainan lain seperti kutil kelaminan atau infeksi ditemukan di vagina dan mulut rahim,” terang dia. “Dan dari hasil biopsi menunjukkan adanya sel yang tidak normal yang dapat merupakan bibit kanker,” imbuhnya.

Dengan pemeriksaan kolposkopi ini akan membantu meningkatkan akurasi deteksi dini terhadap kelainan pra kanker mulut rahim. Bersama-sama dengan tes pap kolposkopi memberikan treatment secara dini terhadap kelainan pra kanker mulut rahim sehingga menurunkan kemungkinan risiko berkembang menjadi kanker mulut rahim.***

Respon Anda?

komentar