Wali Kota Batam Luncurkan Buku Sejarah Melayu di Singapura

706
Pesona Indonesia
Penulis Buku Sejarah Melayu, Dr. Ahmad Dahlan (dua dari kanan) foto bersama Ketua Persatuan Pencak Silat Singapura, Tok Zam, Presiden Pengagas Persatuan Kebajikan Zuriat Keturunan Bentan Malaysia, Datuk Nazri bin Kamal, dan Timbalan Presiden Persatuan Kebangsaan Melayu Singapura, Tuan Ismail Ahmad bin Yaacob. Foto: Ist
Penulis Buku Sejarah Melayu, Dr. Ahmad Dahlan (dua dari kanan) foto bersama Ketua Persatuan Pencak Silat Singapura, Tok Zam, Presiden Pengagas Persatuan Kebajikan Zuriat Keturunan Bentan Malaysia, Datuk Nazri bin Kamal, dan Timbalan Presiden Persatuan Kebangsaan Melayu Singapura, Tuan Ismail Ahmad bin Yaacob.
Foto: Ist

batampos.co.id – Buku Sejarah Melayu karya Dr Ahmad Dahlan diluncurkan di Istana Kampung Gelam yang terletak di Taman Warisan Melayu (Malay Heritage Centre) Singapura, Sabtu (19/12) lalu. Peluncuran karya Wali Kota Batam ini, untuk keempat kalinya setelah Jakarta, Batam, dan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Buku Sejarah Melayu ini, telah terbit cetakan kedua, setelah cetakan pertama habis terjual sebanyak 2.000 eksemplar tahun lalu. Dalam peluncuran itu, dihadiri tokoh masyarakat dan Cendekiawan Melayu Singapura, antara lain Raja Mohammad Khalid bin Raja Adnan dari Warisan Sejarah Kerajaan Riau Lingga Singapura, Datok Nazri Bin Kamal, Presiden Pengagas Persatuan Kebajikan Zuriat Keturunan Bentan Malaysia, dan ribuan masyarakat Melayu yang berada di Singapura.

Acara peluncuran buku ini dikemas dengan apik bernuansa Melayu diiringi Musik Pasola Group Musik melayu asal Batam, serta pertunjukan Pencak Silat oleh Persatuan Pekumpulan Pencak Silat Singapura. Tidak hanya itu, seluruh undangan terhibur dan berebutan untuk mendapatkan Buku Sejarah Melayu dan meminta tanda tangan serta berfoto bersama Penulis.

Timbalan Presiden Persatuhan Kebangsaan Melayu Singapura, Ismail Ahmad Yaacob mengajak seluruh anggotanya untuk bersama-sama melestarikan Sejarah Melayu. Baginya, sejarah Melayu merupakan warisan bangsa. “Hilang sejarah, hilanglah bangsa,” kata Ismail.

Dia menuturkan, sejarah melayu mulai mencapai puncaknya pada tahun 1511 ketika Kerajaan Melayu Melaka runtuh saat itu buku ditulis dengan judul Sulalatus Salatin karya Tun Sri Lanang. Buku ini juga diduplikat atau disalin ulang pada tahun 1612. ”Setelah itu mulai banyak versi-versi sejarah Melayu,” kata dia.

Untuk itu, Ismail sangat bangga akan adanya penerus-penerus cendikiawan terdahulu yang meluangkan waktu untuk mengabaikan sejarah melayu agar tak lekang dimakan waktu. ”Sekalung penghargaan saya kepada yang berbahagia Dato Ahmad Dahlan di atas usaha kuatnya dengan buku Sejarah Melayu ini,” ungkapnya.

Ia menilai, buku karangan Wali Kota Batam ini sangat luas, dimana digambarkan Melayu terdahulu hingga Melayu saat ini. Sehingga sangat menarik untuk didalami sebagai landasan bangsa Melayu. ”Banyak pengetahuan baru yang didapat dari buku ini (Sejarah Melayu). Sebagai Melayu serumpun mestilah bangga,” tambahnya lagi

Sementara itu, Ahmad Dahlan, mengatakan untuk meluncurkan buku itu di negara Singapura ini membutuhkan waktu empat bulan untuk mendapatkan persetujuan. Berbeda halnya saat diluncurkan di Malaysia. ”Di Malaysia hanya satu bulan dan mereka sudah setuju,” kata dia.

Dahlan menyebutkan lamanya mendapat persetujuan dari pemerintah Singapura untuk dapat menluncurkan buku setebal 621 halaman ini, dikarenakan sangat hati -hatiannya terhadap sejarah agar tidak memberikan informasi yang salah pada masyarakat.

Dahlan juga menyampaikan dengan kemajuan tekhnologi informasi yang semakin pesat ada kerisauanya akan orang melayu terhadap sejarahnya. ”Nasib orang Melayu tergantung dari orang Melayu itu sendiri “ ujarnya.

Dalam peluncuran buku Sejarah Melayu sebagai pengulas, Aswandi Syahri seorang Sejarawan Melayu, menuturkan buku Sejarah Melayu ini bila dikaitkan dengan historiografi (penulisan sejarah) maka sejak Tun Sri Lanang sampai Raja Ali Haji menulis Tufat Alnafis tahun 1860-an yang isinya sejarah melayu Riau Lingga atau Sejarah Melayu Islam, maka Ahmad Dahlan dengan buku Sejarah Melayunya melanjutkan tradisi menulis sejarah melayu.

Aswandi juga menerangkan hal yang menarik dari buku Sejarah Melayu ini dilengkapi foto fotonya yang dapat menunjuang diskripsi sejarah melayu itu sendiri. Dia juga mengatakan suatu saat nanti akan ada penulis yang akan menulis tentang buku sejarah melayu. “Buku ini ditulis sesuai dengan semangat zamannya. Ditulis secara modern menggunakan kaidah-kaidah penulisan pada masa sekarang,” sebutnya. (mta/bpos)

Respon Anda?

komentar