Ini Mimpi Armeizir Nurgulama, Pengusaha Cokelat Asli Batam

707
Pesona Indonesia
Armeizir Nurgulama, Pengusaha Cokelat Asli Batam menunjukkan produk cokelat buatannya. Foto: batampos
Armeizir Nurgulama, Pengusaha Cokelat Asli Batam menunjukkan produk cokelat buatannya. Foto: batampos

Mengedepankan prinsip keunikan rasa dan kualitas produk, Armeizir Nurgulama yakin cokelat buatannya, Rocklate, akan terus mendapat tempat d hati konsumen. Bahkan dia punya mimpi, cokelatnya itu akan menembus pasar Asia.

YULIANTI, Batam

Armeizir Nurgulama tak pernah menyangka dirinya bakal menggeluti bisnis cokelat. Mengapa? Karena dia sendiri bukanlah penyuka cokelat.

Namun gara-gara makan cokelat dari Australia, bapak satu anak ini menjadi kesengsem dengan cokelat. Ya, waktu itu istrinya baru saja pulang dari Negeri Kanguru, Australia, dan membawakannya oleh-oleh cokelat.

“Saya sebenarnya tidak suka coklat, tapi yang dibawa sama istri kok beda rasanya,” ujarnya Armeizir saat ditemui di rumahnya di Komplek Hawai Garden Blok E No 10 Batamcenter, beberapa waktu lalu.

Rasa suka Armeizir terhadap cokelat Australia ini semakin menjadi-jadi. Namun celakanya, oleh-oleh dari istrinya itu sudah habis. Kelimpungan lah dia.

Sambil membayangkan rasa cokelat itu, Armeizir pun mencoba berburu cokelat yang sama di beberapa toko oleh-oleh di Batam. Namun dia tak pernah menjumpainya meski sudah menelusuri seluruh penjuru Kota Batam.

Namun Armeizir tak patah semangat. Demi memenuhi hasrat makan cokelatnya, dia melanjutkan perburuan hingga ke Singapura. Sayangnya, di Negeri Singa itu pun dia tak menjumpai cokelat yang dicari.

“Sampai di Singapura pun cokelat itu tidak ada,” kenangnya sambil tertawa.

Kondisi ini ternyata justru menjadi titik balik bagi Armeizir untuk menjadi seorang pengusaha. Selain karena penasaran dengan cokelat Australia itu, sang istri juga mendorongnya untuk membuat cokelat sendiri yang rasanya sama dengan cokelat Australia itu.

“Akhirnya kami bereksperimen sendiri,” katanya.

Cokelat hasil eksperimennya itu dibawanya ke tempat kerja. Setiap teman kantornya menikmati cokelat buatannya itu, dan tak disangka mereka menyukainya. Karena melihat peluang serta dorongan dari teman-temanya, Armeizir pun serius memproduksinya dalam jumlah besar.

Tahun 2012 adalah tahun dimana ia mulai merintis usahanya itu. Hasil kreasinya tersebut diberi nama Rocklate. bersama sang istri ia menyulap dapurnya sebagai rumah produksi serta dibantu peralatan sederhana yang ia miliki. “Ini masih usaha rumahan yang bantupun hanya keluarga,” ungkapnya.

Dalam seminggu, pria 31 tahun itu mampu menghasilkan 200 bungkus Rocklate. Bahan utama cokelat Rocklate-nya adalah dark chocolate yang dicampurkan marsmallow yang lembut, kacang mete yang gurih, biskuit yang crunchy dan choco chips. Kombinasi semua bahan itu menghadirkan satu sensasi rasa yang unik.

Cokelat Rocklate itu dibagi dua pilihan, mini ikon dan kroka. Kedua produk tersebut punya rasa, kemasan serta harga yang berbeda. Mini ikon punya tiga varian rasa yaitu strawberry chocolate, milk choco chip dan dark chocolate yang dibenderol dengan harga Rp 20 ribu.

Sedangkan kroka hadir dengan empat varian rasa, crunchy milk choco chip, crunchy milk chocolate, crunchy dark chocolate, crunchy strawberry chocolate, dibanderol dengan harga Rp 55 ribu.

“Produknya punya tujuh varian rasa.”

Hasil ide kreatifnya tersebut pun ia titipkan di tiga toko oleh-oleh di wilayah Nagoya. Meskipun harus bersaing dengan produsen coklat besar, produknya sampai saat ini masih mendapatkan tempat di hati konsumen, yang katanya kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Batam.

“Selain di toko oleh-oleh, saya memasarkan di dunia internet,” jelasnya.

Peluang produknya menjadi oleh-oleh Batam sangatlah besar, sebab Batam adalah kota dengan destinasi wisata terbesar setelah Jakarta dan Bali. Meskipun menurutnya, sebagian masyarakat Kota Batam hanya menikmati cokelat yang diimpor oleh negara Singapura maupun Malaysia.

“Yang diproduksi oleh negeri sendiri kurang,” ungkapnya.

Untuk itu bapak berkulit putih ini menaruh harapan untuk bisa bersaing dengan industri cokelat kelas kakap seperti Asia Cocoa yang merupakan industri pembuat cokelat milik Malaysia. Produsen cokelat terbesar di Asia itu berada di Kawasan Industri Tunas, Batamcenter, Batam.

“Bahak cokelat yang mereka ambil kan dari Sulawesi dan Sumatera, masa kita yang punya, kita nggak bisa kelola?” ujarnya.

Armeizir pun akhirnya punya mimpi, ia ingin memajukan usahanya dengan mengembangkan pemasaran ke luar Batam. Namun dia mengaku masih kesulitan untuk memberikan harga yang lebih bersaing karena terkendala pada biaya transportasi bahan baku.

Meskipun begitu, ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan terus diminati masyarakat. “Ya meskipun saingan cukup berat,” pungkasnya.***

Respon Anda?

komentar