”Loriaux”, Aku Budak Sini!

579
Pesona Indonesia

Berkorban apa saja

Harta ataupun nyawa

Itulah kasih mesra

Sejati dan mulia….

TIBA-TIBA kawan saya Mahmud itu tubuhnya lunglai. Saya yang sedang mengendarai mobil dan duduk tepat di sebelahnya merasa setengah panik. Jalanan Jakarta yang tak kami kuasai ini pun sebenarnya telah membuat saya lebih daripada panik. Selalu saja begini, kadang-kadang saya merasa begitu benci dengan kota bernama Jakarta, entah sudah berapa kali ketika saya sedang berada di ibukota negara yang bagai tak beribu dan tidak bersifat keibuan ini selalu saja ada teman dekat yang pergi. Ah… “Ya, dia sudah pergi, dia sudah jalan duluan, sudah sampai janjinya…sudah sampai janjinya Tok…” dari mulut kawan saya itu terucap istighfar lalu melafadzkan “innalillahi wainailahi rojiun”. “Siapa Mud?” tanya saya gugup.

Kaki saya tak sengaja menginjak rem dengan mendadak, saya lihat kawan saya yang sedang duduk lunglai di sebelah saya itu terhuyung ke depan, dia istighfar sekali lagi, kemudian dia mengucapkan surah Al Fatihah, saya mengikutinya juga, untung tidak terjadi apa-apa dengan Mahmud, misalnya wajahnya melantak dashboard, aduh mak, meskipun kemudian ketika kami maju beberapa meter ke hadapan mobil kami dipersalahkan oleh oknum polisi lalu lintas karena, katanya, mengambil jalur yang salah.

Sungguh kami tak tahu, saya coba membela diri. “Saya orang Kepri, kami tak tahu ada aturan jalur menjalur ini,”  kata saya dengan menghiba, kemudian oknum polisi itu menjawab ketus. “Di mana-mana rambu dan jalur itu sama aturannya, apa itu Kepri?” tanyanya. “Kepulauan Riau,” pekik Mahmud di sebelah saya. “Apa itu?” tanya oknum polantas itu tak kalah sengit. Tak perlu menunggu ia mengerti, cukup seratus ribu saja. Kami langsung jalan lagi.

Di dalam dada saya gemuruh. Pertama gemuruh berita yang diterima Mahmud, kedua gemuruh kepada oknum Polisi Lalu Lintas yang menggunakan masker dan kaca mata hitam itu tadi, seperti begal. Rasanya saya ingin cepat-cepat bertemu dengan anak saya melewati macet ini. Mungkin dengan terbang, misalnya. Seandainya bisa dan kemudian minta ia mengantarkan kami selekas mungkin, ya, saya dan Mahmud ke bandara, mencari penerbangan kesempatan pertama, kemudian tiba kembali di Kepri, negeri yang tidak dikenal oleh oknum polisi lalu lintas itu, padahal negeri ini telah banyak memberi, menyumbang, bersedekah, mengikhlaskan apa saja untuk bangsa ini.

“Puih…” kawan saya Mahmud itu meludah ke luar jendela, saya lihat ia bukan hanya meludah saja tapi secepat kilat ia menyeka air matanya. Mungkin ia malu kalau terlihat menangis, selalu ia bilang sebagai lelaki ia tak boleh menangis. Ah, mungkin juga ia sedang geram atau menyesal dengan apa yang sedang kami alami tadi, bisa saja.

“Kita sangat pantas untuk menangis Mud,” suara saya gemetar, lutut dan tangan saya juga gemetar, itu pertanda hati saya juga gemetar. Bayangan saya melompat ke kemarin sore. Itu SMS terakhirnya kepada saya sehari yang lalu, “berkorban apa saja/harta ataupun nyawa/itulah kasih mesra/tak peduli siapa saja, kata P. Ramlee…ha ha ha…”. Ia menulis tawa di ujung SMS-nya, meskipun saya tahu ia sudah agak sulit tertawa sebenarnya.  Karena sehari sebelumnya lagi saya sempat bertemu dengannya, ia mengaku tak sehat, ia sedang sakit. Ah, begitu mudahnya kita menuliskan tawa daripada tertawa yang sesungguhnya.

Saya ingat, dengan kenangan yang jelas, ia keluar ke ruang tamu dengan bersarung seperti kebiasaannya, kami bertukar cerita, ada urusan yang harus kami selesaikan berdua, dan besoknya ia meminta saya pergi ke Jakarta membawa surat yang harus tiba secepatnya dan sudah ditunggu guna lahirnya dari negeri ini pemimpin yang baru. Pemimpin yang kita tunggu-tunggu.

“Awak harus berangkat!” tulisnya di SMS kemudian masuk lagi SMS seperti  lirik lagu P. Ramlee itu, berkorban apa saja, harta ataupun nyawa…begitu sempurna ia ingin menyelesaikan tugasnya.

Hanya gumam dan dengung Fatihah yang keluar dari mulut saya dan Mahmud di dalam mobil itu. Uh, perjalanan menuju Bandara kali ini terasa begitu lama, hujan berderai seperti pecahan kaca yang menancap ke seluruh lubang pori-pori kulit ini, ngilu dan basah darah. Begitu mungkin yang dirasakan istri dan anak bungsunya yang juga tampak lunglai dan sudah duluan tiba di ruang tunggu Bandara. Di dalam dada saya penuh. Sebak yang melambak. Saya tahu istrinya juga sedang sakit dan saya tak tahu harus mulai darimana untuk menyapanya. Hanya mendengarkan tangisan menyatu dengan hujan yang saya dan Mahmud bisa lakukan.

Robert-Iwan-Loriaux“Aku budak sini, karena aku budak sini aku tetap di sini, ia menunjuk dadanya,” itu yang pernah dikatakannya kepada saya, maknanya dalam, ia menunjuk dadanya itu artinya ia takkan berubah, hatinya tetap kepada Melayu. Dalam derai tangisan istri dan anaknya kalimat dari Loriaux itu terngiang di telinga saya. Saya berabang-abang dengan dia, saya memangilnya Bang Robert. Tapi ada nama fam Loriaux di belakang namanya. Ada yang bilang itu fam orang Belanda, ada yang bilang itu Perancis, ada juga yang bilang itu fam orang Portugis.

“Tidak, aku budak sini…” katanya pasti. Kemudian ia menyalakan rokoknya, asap membumbung, dia tak suka dibilang keturunan Belanda namun demikian saya tetap mengusiknya dengan memanggilnya dengan teriakan “Loriaux!” Dia segera menoleh sambil tertawa kemudian mengepalkan tinjunya ke arah saya. “Mabuk!” balas saya. Sebenarnya itu juga saya masih mengusiknya, setiap kali kami bertemu dia selalu saja berteriak “Mabuk aku…” padahal dia bukan seorang pemabuk, saya sangat tahu. Itu artinya kalau kerjanya sedang banyak, tugasnya juga banyak, tanggung jawabnya sangat banyak, menjaga perasaan orang banyak, menyenangkan hati orang banyak dalam melayani orang banyak.

Kenangan itulah yang melintas-lintas ketika saya dan Mahmud bersandar di kursi pesawat yang menerbangkan kami, saya masih melihat istri almarhum yang duduk di sebelah gang itu terus membaca ayat-ayat suci, bibirnya bergetar, nafasnya tersengal-sengal karena memang ia masih dalam keadaan sakit, saya terus saja coba menghiburnya, tapi hiburan apakah yang dapat jadi penawar luka ketika ini, saya kira tak ada, jangankan ia sebagai kekasihnya kita yang menjadi kawan bertengkarnya saja tak bisa menghibur diri sendiri.

“Awak nikmati ajalah hidup ini, jangan yang macam-macam, nanti susah diri sendiri,” itu juga selalu diucapkannya kepada saya, kalau tiba muaknya kepada saya yang kadang mungkin terlalu banyak merengek dengannya. “Tapi ikhtiar harus, berusaha mencobanya tetap kita lakukan,” katanya lagi. “Betullah yang awak lakukan ini…” ia coba mengambil hati saya.

Karena itu mungkin ketika saya minta ia berperan untuk main dalam sebuah film sinetron di RCTI berjudul Dongeng Pasir sekitar 12 tahun yang lalu, ia langsung menjawab, “Jadi! Siapa takut?” Ia layani tantangan saya, dia bermain dengan apik. “Cemana?” tanyanya. “Mana honor aku main film?” dia tertawa lepas. “Dasar Belanda…” pikir saya.

Dia tertawa lagi. “Aku budak sini…aku budak sini!” Kemudian siang itu ketika saya kirim gambar bukti kalau saya sudah melakukan kerja seperti apa yang diarahkannya, ia tak membalasnya lagi, tidak seperti biasa, hingga siang, sore dan kemudian malam yang datang hanya kabar demi kabar penuh debar hingga keesokan harinya, saya melihat kawan saya Mahmud lunglai duduk tepat di sebelah saya.

“Kakak harus kuat,” ucap saya, ketika pesawat mendarat dan sesak nafas istri alamarhum itu kambuh, saya lihat Mahmud mencari-cari pramugari untuk pertolongan oksigen, hingga turun pesawat, sampai ke ruang tunggu, kemudian pelabuhan lalu kapal membawa kami ke Tanjungpinang.

Senja turun, azan Magrib memanggil, masjid sesak, doa bergobang-gobang dan ketika azan Isya terdengar, meski dari kejauhan saya yakin pipimu telah menyatu dengan tanah. Mereguk Al Fatihah. Maafkan Bang, saya simpan SMS Abang ini, agar mereka mengerti dan harus mengerti bahwa kita budak sini… (selamat jalan Bang Robert). ***

Oleh: Husnizar Hood / Ketua Dewan Kesenian

Respon Anda?

komentar