Catatan Dahlan Iskan: Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang

2628
Pesona Indonesia

Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional pula. Di depan hampir semua tokoh pers se Indonesia. Pun di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari lalu.

Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengena. Dan lucunya.  ”Yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi di Indonesia,” kata sang gubernur. ”Ini di Mesir.”

Sang gubernur memang pernah bertahun-tahun sekolah di Mesir. Di universitas paling hebat di sana: Al Azhar. Bukan hanya paling hebat, tapi juga salah satu yang tertua di dunia. Dari Al Azhar pula sang gubernur meraih gelar doktor. Untuk ilmu yang sangat sulit: tafsir Al Quran. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Al Qur’an. Dengan artinya, dengan maknanya dan dengan tafsirnya.

Mesir memang mirip Indonesia. Di bidang politik. Dan persnya. Pernah lama diperintah secara otoriter. Lalu terjadi reformasi. Bedanya: demokrasi di Indonesia mengarah ke berhasil. Di Mesir masih sulit ditafsirkan.

”Di zaman otoriter dulu,” ujar sang gubernur di depan puncak peringatan Hari Pers Nasional itu, ”tidak ada orang yang percaya berita koran.” Gubernur seperti ingin  mengingatkan berita koran di Indonesia di zaman Presiden Soeharto. Sama. Tidak bisa dipercaya. Semua berita harus sesuai dengan kehendak penguasa.

”Satu-satunya berita yang masih bisa dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10,” ujar sang gubernur. Di halaman 10 itulah, katanya, dimuat iklan duka cita.

Gerrrrrrr. Semua hadirin tertawa.

Termasuk Presiden Jokowi. Tepuk tangan pun membahana.

Bagaimana setelah reformasi? Ketika pers menjadi terlalu bebas?

”Masyarakat Mesir malah lebih tidak percaya,” katanya. ”Semua berita memihak,” tambahnya. ”Halaman 10 pun tidak lagi dipercaya,” guraunya.

Meski hadirin terbahak lebih lebar, sang gubernur masih perlu klarifikasi. ”Ini bukan di Indonesia lho, ini di Mesir,” katanya. Hadirin pun kian terpingkal. Semua mafhum. Ini bukan di Mesir. Ini di Indonesia. Juga.

Saya mengenal banyak gubernur yang amat santun. Semua gubernur di Papua termasuk yang sangat santun. Yang dulu maupun yang sekarang. Tapi gubernur yang baru mengkritik pers ini luar biasa santunnya. Itulah gubernur Nusa Tenggara Barat: Tuan Guru Dr. KH Zainul Majdi. Lebih akrab disebut Tuan Guru Bajang.

Gelar Tuan Guru di depan namanya mencerminkan dia bukan orang biasa. Dia ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok. Sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit Arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid. Di Mekah sang kakek dihormati sebagai ulama besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir. Juga di Libanon. Jadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Mekah.

Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW. Di Lombok tidak ada NU. NU-nya ya NW ini.

Kini sang cuculah yang jadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya.

Maka Di zaman demokrasi ini dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih jadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula ia terpilih jadi gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua sekarang ini.

Dengan karirnya itu ia memiliki track record yang komplit. Ulama sekaligus umaro’. Ahli agama, intelektual, legislator, birokrat, dan santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runtut.

Kelebihan lain: masih muda: 43 tahun. Ganteng. Berkulit jernih.

Wajah berseri. Murah senyum. Masa depannya masih panjang.

Pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna.

”Bapak Presiden,” katanya di forum tersebut, ”saya mendengar pemerintah melalui Bulog akan membeli jagung impor 300.000 ton dengan harga Rp 3000/kg.” Lalu ini inti pemikirannya: ”Kalau saja pemerintah mau membeli jagung hasil petani NTB dengan harga Rp 3.000/kg, alangkah sejahteranya petani NTB.” Selama ini petani jagung di pusat produksi jagung Dompu, Sumbawa, NTB, hanya Rp 2.000 sampai Rp 2.500/kg.

Sang gubernur kelihatannya menguasai ilmu mantiq. Pelajaran penting waktu saya sekolah di madrasah dulu.

Pemahamannya pada pentingnya pariwisata juga tidak kalah. ”Lombok ini memiliki apa yang dimiliki Bali, tapi Bali tidak memiliki apa yang dimiliki Lombok,” motto barunya. Memang segala adat Bali dipraktekkan oleh masuarakat Hindu yang tinggal di Lombok Barat.

Demikian juga pemahamannya tentang vitalnya infrastruktur. Dia bangun jalan by pass di Lombok. Juga di Sumbawa. Dia rencanakan pula by pass baru jalur selatan. Kini sang gubernur lagi merancang berdirinya kota baru. Kota internasional. Di Lombok Utara.

Sebagai gubernur, Tuan Guru Bajang  sangat mampu. Dan modern. Sebagai ulama Tian Guru Bajang sulit diungguli.

Inikah sejarah baru? Lahirnya ulama dengan pemahaman Indonesia yang seutuhnya? ***

Respon Anda?

komentar