Belajarlah Ilmu Pariwisata di Kota Kecil, Banyuwangi

310
Pesona Indonesia
Berselancar, salah satu andalan pariwisata Banyuwangi yang digemari wisatawan asing.
Berselancar, salah satu andalan pariwisata Banyuwangi yang digemari wisatawan asing.

batampos.co.id – Menuntut ilmu tentang pariwisata tak harus jauh-jauh ke Negeri China. Cukup ke ujung timur Jawa, persisnya Banyuwangi! Kabupaten kecil dengan jumlah penduduk 2 juta, yang sering disebut kawasan Tapal Kuda itu. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di sana untuk menjadikan pariwisata sebagai leading sector!

“Banyuwangi itu contoh konkret, CEO-nya (baca: Bupatinya, red), menempatkan pariwisata sebagai lokomotif membangun daerahnya. Hasilnya setahun 1,5 juta wisatawan nusantara, 30 ribu wisatama manca negara yang datang ke sana,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di Jakarta.

Komitmen CEO-nya, menurut Arief, sangat jelas. Alokasi sumber daya manusia (SDM), dan budgeting APBD nya fokus menggarap pariwisata. Mereka memanfaatkan perjalanan wisatawan dari Jawa ke Bali dan sebaliknya. Mereka suguhkan atraksi yang “memaksa” pikiran orang untuk singgah satu dua hari sebelum atau sesudah ke Bali.

“UN-WTO(United Nation World Tourism Organization), atau lembaha PBB yang bergerak di bidang pariwisata pun menganugerahkan penghargaan khusus buat usaha keras dan konsisten Banyuwangi. Itu kebanggaan, dan semua bisa belajar dari kisah sukses kota kecil itu. Bagaimana membangun mimpi ke depan, apa yang dilihat saat ini, dan bagaimana cara mewujudkan impiannya itu,” kata Arief Yahya yang Mantan Dirut PT Telkom itu.

Menurut Arief, semua berawal dari leadernya. Bupati H. Abdullah Azwar Anas berani beda, membuat terobosan untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan warganya dari pintu pariwisata. Tidak banyak bupati atau walikota yang berani mengambil risiko seperti itu. Karena pariwisata itu investasi jangka panjang, berpikir futuris, dan harus konsisten.

“Penghargaan dari badan urusan pariwisata PBB itu mahal harganya. Itu kepercayaan besar bagi Banyuwangi. Dan kami punya kewajiban untuk menunjukkan pada dunia bahwa Banyuwangi memang layak mendapatkannya,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda.

Dari paparan Bramuda, wisata Banyuwangi, bisa jadi jawara lantaran getol menggelar berbagai festival pariwisata yang dikelola dengan baik. Karenanya, di 2016 ini akan ada lebih dari 35 festival.

“Bahkan implementasinya lebih dari 35 festival di 2016. Jumlahnya bisa mencapai 40 atau 45, tergantung tradisi dan kebudayaan lokal itu sendiri,” terangnya.

Salah satu andalannya adalah Banyuwangi Festival. Festival ini akan menawarkan sejuta pesona mulai dari seni dan budaya, olahraga dan pariwisata, sampai kearifan lokal yang dikemas dalam festival kreatif.

“Banyuwangi Festival tidak hanya digelar untuk mempromosikan pariwisata, namun juga untuk memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah,” kata Bramuda.

Untuk beragam festival tadi, Disbudpar Kabupaten Banyuwangi membagi ke dalam tiga kelas. Ada festival internasional, nasional, dan lokal.

“Festival internasional akan mengundang banyak negara di berbagai belahan dunia. Yang kita siapkan International Tour de Banyuwangi Ijen. Untuk nasionalnya, ada Banyuwangi Batik Festival. Sementara lokalnya ada Banyuwangi Ethno Carnival,” terangnya.

Festival juga akan menampilkan berbagai atraksi wisata terbaru di antaranya Green and Recycle Fashion Week, Festival Buah Lokal, Festival Kuliner Sego Tempong, Festival Permainan Anak Tradisional, Banyuwangi Kite Festival, Festival Perkusi dan Lare-lare Orkestra dan Kite and Wind Surf Competition.

Banyaknya festival itu menjadi berkah bagi pengelola wisata. Wisatawan mulai berdatangan ke kabupaten berjuluk Sunrise of Java itu. Bangsring Underwater misalnya. Sepanjang Januari 2016 kemarin, kewalahan melayani pengunjung yang menembus angka 1.000 orang. Mayoritas, memesan paket pemandangan terumbu karang, naik banana boat, dan melihat ikan hiu.

“Festival yang digelar memang punya efek domino yang bagus. Ekonomi tumbuh karena sehari bisa 1.000 orang. Kita sampai kewalahan menyediakan pelampung dan alat snorkeling,” terang Ikhwan Arief, pengelola Bangsring Under Water. (inf)

Respon Anda?

komentar