Berbincang dengan Ficky Supit dan Novita Octaryani, Petenis Meja Batam

974
Pesona Indonesia
Ficky Supit (kiri),  atlet tenis meja putra dan Novita Octaryani (kanan) atlet putri bersama manager di sela-sela latihan di GOR CBN Temenggung Abdul Djamal Muka Kuning, Rabu (24/2).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Ficky Supit (kiri), atlet tenis meja putra dan Novita Octaryani (kanan) atlet putri bersama manager di sela-sela latihan di GOR CBN Temenggung Abdul Djamal Muka Kuning, Rabu (24/2).
Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Tim muda tenis meja Indonesia ternyata diisi oleh pemain-pemain muda berbakat, baik tim putra maupun tim putri. Di putra, Ficky Supit menjadi andalan dan di tim putri, petenis meja muda, Novita Octaryani menginspirasi rekan-rekannya untuk mengharumkan nama bumi pertiwi.

”Menjadi pemain tenis meja sejak tahun 2001 karena papa juga atlet tenis meja. Dan sampai tahun 2013 saya berlatih terus di klub Gudang Garam,” kata Ficky Supit memulai pembicaraan, Rabu (24/2) di sela-sela pelatnas di Gedung Olahraga (GOR) Stadion Tumenggung Abdul Jamal, Mukakuning, Batam.

Ayahnya adalah pemain tenis meja terkenal Indonesia, Sinyo Supit yang pernah meraih medali perak beregu di Asian Games 1988 di Bangkok, Thailand. Sedangkan untuk SEAGames, mantan atlet yang kini menjadi pelatih itu telah menyumbangkan emas sebanyak empat kali.

Jadi tidak heran, jika bakat bermain tenis meja mengalir deras dalam jiwa pria berusia 25 tahun asal Jawa Timur ini. Ficky pernah mewakili Jawa Timur pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau dengan raihan dua emas di nomor ganda dan beregu.

Sedangkan di SEAGames, Ficky telah berpartisipasi sebanyak dua kali yakni pada tahun 2011 di Indonesia dan 2015 di Singapura. ”2011 saya dapat medali perunggu di nomor single dan 2015 dapat perunggu di nomor beregu,” jelasnya.

Mahasiswa yang mengaku ambil jurusan manajemen di Unika Surabaya ini, merupakan potret atlet murni. Walaupun begitu, rasa khawatir masih menghinggapinya, dimana ia berharap pemerintah mampu menjamin nasib para atlet setelah pensiun.

Makanya, Ficky yang telah turun dua kali di Kejuaraan Internasional Tenis Meja ini selalu berusaha menampilkan permainan optimal. Pada kejuaraan dunia tahun 2008 silam, di Guangzhou, Tiongkok, Ficky menjadi pemain cadangan.

Namun, saat ini ia menjadi pemain utama dalam timnas yang akan berangkat menuju Malaysia. ”Saya hanya akan berusaha untuk bisa membawa Indonesia naik ke divisi dua dan melampaui prestasi papa saya,” tegasnya.

Senada dengan Ficky, Novita Octaryani sangat optimis menghadapi kejuaraan dunia pertamanya ini. Gadis manis berusia 17 tahun ini merupakan potret atlet berprestasi Indonesia.

Ia tengah mengenyam pendidikan di SMA Ragunan Jakarta. Di sekolah khusus atlet itu, ia banyak belajar. Awal mula ketertarikannnya kepada tenis berkat kakaknya yang juga seorang atlet.

”Awalnya iseng ikut-ikut kakak main tenis meja. Namun malah menjadi hobi,  sedangkan kakak hanya sampai di tingkat provinsi saja,” jelas gadis kelahiran Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Walau lahir di NTB, Novita merantau ke ibukota dan mewakili DKI Jakarta di berbagai ajang. Ia pernah menduduki peringkat 17 dunia, peringkat tertinggi untuk petenis meja wanita junior dari Indonesia. ”Itu berkat kemenangan di kejuaraan dunia tenis meja junior di Bangkok, Thailand, 2013 silam,” kenangnya.

Namun, sayangnya setelah itu ia cukup lama absen dari kejuaraan sehingga peringkatnya melorot tajam. Sekarang di tengah kondisi prima, ia berjanji untuk memberikan hasil terbaik bagi bumi pertiwi. ”Saya akan fokus naikin peringkat Indonesia ke divisi dua,” janjinya. (rifki)

Respon Anda?

komentar