Belum Berhasil Tangkap Santoso, Kapolda Sulteng Dimutasi

631
Pesona Indonesia
Santoso Cs, gembong terororis paling dicari Polri. Foto: istimewa
Santoso Cs, gembong terororis paling dicari Polri. Foto: istimewa

batampos.co.id – Gerbong perwira tinggi dan menengah di tubuh Polri kembali bergerak. Ada tiga kapolda yang dimutasi: Kapolda Sumatera Utara, Bangka Belitung, dan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Yang paling mencolok adalah pergantian Kapolda Sulteng Brigjen Idham Azis. Ada indikasi pergantian Idham karena kegagalan menangkap gembong kelompok bersenjata Santoso cs.

Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST/476/II/2016, total 28 perwira tinggi dan menengah yang dimutasi. Pergantian posisi paling tinggi diantaranya, Kapolda Sumut Irjen Pol Ngadino dimutasi ke jabatan Pati Polda Jateng dan posisinya digantikan oleh Irjen Raden Budi Winarso yang saat ini menjabat sebagai Kadivpropam.

Selanjutnya, Brigjen Idham digeser menjadi Irwil II Itwasum Polri dan digantikan oleh Brigjen Rudy Sufahriadi. Kapolda Bangka Belitung Brigjen Gatot Subiyaktoro digantikan oleh BrigjenYovianes Mahar. Gatot menduduki jabatan baru sebagai Widyaiswara Utama Sespim Polri Lemdikpol.

Pergantian Kapolda Sulteng masih menyisakan pekerjaan rumah, yakni belum tertangkapnya kelompok Santoso cs. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menentukan target penangkapan Santoso akhir 2015, namun hingga kini tak kunjung dipenuhi. Padahal, operasi penangkapan Santoso cs sebelumnya tidak hanya melibatkan polisi tetapi juga anggopta TNI.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menampik penggantian Kapolda Sulteng terkait dengan belum tertangkapnya Santoso cs. Mutasi tersebut sebagai penyegaran di internal Polri. ”Tidak terkait itu, yang agar tidak jenuh. Ya penyegaran,” paparnya singkat.

Badrodin memahami bagaimana sulitnya pengejaran Santoso cs. Sebab, dia juga pernah menjadi Kapolda Sulteng. ”Kondisinya di sana berbukit-bukti, memang susah mengejar. Alam dan cuaca sering tidak mendukung,” jelasnya.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) M Nasser menuturkan, pergantian Kapolda Sulteng itu dikarenakan Polri sadar betul bahwa upaya penangkapan Santoso cs belum memenuhi target. ”Sebab, sudah berulang kali presiden meminta agar Santoso segera ditangkap,” paparnya.

Namun begitu, memang faktor alam menjadi penghadang yang luar biasa di Poso. Apalagi, masyarakat juga ketakutan karena diancam Santoso cs. ”Ini seharusnya bisa dilakukan evaluasi terhadap metode Polri dalam mengejar Santoso cs,” ujarnya.

Dengan adanya Kapolda Sulteng yang baru tentunya, langkah lain bisa dilakukan. Tentunya, tetap berdasar pada perkembangan yang telah dibuat Kapolda sebelumnya. ”Ya, tugas Kapolda baru ini berat,” terangnya.

Saat ini, banga ini perlu lebih sadar dan menjadikan pengejaran Santoso cs sebagai prioritas. Sebab, berhasil dan tidaknya pengejaran terhadap kelompok yang terafiliasi dengan ISIS ini menjadi indikator keamanan nasional. ”Bahkan, sangat disayangkan, walau telah didukung TNI, kelompok ini belum juga tertangkap,” jelasnya.

Apalagi, jumlah kelompok bersenjata ini hanya 30 orang hingga 50 orang. Hal tersebut tentu mempengaruhi pandangan masyarakat internasional. ”Karena itu, ini tidak hanya tugas Polri dan TNI, namun semuanya, termasuk masyarakat,” tuturnya.

Namun, perlu juga untuk memahami bahwa Polri ini sudah mati-matian dalam mengejar Santoso. Selama pengejaran dalam beberapa tahun ini, sudah ada tujuh anggota Polri yang harus gugur di medan perang itu. ”Jadi, jangan sekali-kali untuk meragukan niat dari Polri mengejar kelompok ini,” paparnya.

Gugurnya anggota Polri itu bukan hal biaa. Sehingga, Polri tetap harus diapresiasi dalam menjalankan tugas. ”Mereka bertaruh nyawa untuk menjaga NKRI,” tegasnya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar