Jangan Jadi Bangsa Beo

398
Pesona Indonesia

Belakangan ini saya rasa banyak masyarakat di Negara kita yang semakin “Membeo”, Membeo saya artikan dengan berprilaku layaknya seekor burung beo. Anda tau sendiri, Beo itu bisanya hanya meniru, ikut-ikutan, apa yang ia dengar itu yang ia sampaikan, tidak ada filter sama sekali. Sama halnya dengan beo, masyarakat kita kini seolah bertuhan dengan dunia luar (Negara Selain Indonesia), dimulai dari masuknya genk ISIS ke Indonesia sampai LGBT yang lagi ngehits saat ini. Yakinlah bahwa mereka telah menjajah Pemikiran kita, contohnya saja ISIS, mereka melakukan brandstroming terhadap anak-anak bangsa kita sehingga menjadi nekat Ngebom di kawasan Sarinah, padahal yang dibom itu adalah Negaranya Sendiri. Massallah.

Sama kasusnya dengan LGBT, karena meniru prilaku tidak senononya orang-orang barat, kini LGBT di Indonesia mulai menampakkan batang hidungnya. LGBT telah berani terang-terangan memperlihatkan kepada dunia Bahwa Indonesia juga bagian dari LGBT dunia. Tak tanggung-tanggung demi melegalkan LGBT di Indonesia, UNDP (United Nation Development Program) rela menggelontorkan pundi-pundi uangnya (108 M) ke Indonesia agar kita menjadi bangsa beo.

Sebenarnya telah lama kita terjebak dalam pemikiran-pemikiran orang luar namun dengan dua aliran Gila ini, maka wajib bagi kita untuk mulai menginstrospeksi diri kembali. Bukan hanya Negara dengan sistem kepemerintahan saja yang wajib diintrospeksi , namun secara kepribadian maupun cara kita hidup sehari-haripun harus menjadi perhatian agar kita tidak disebut bangsa beo.

Meniru Bangsa Lain
Dalam banyak kasus, saya tidak ingin mengatakan bahwa dunia barat adalah satu-satunya dunia yang mempengaruhi pemikiran bahkan tingkah laku kita sehari-hari. Hemat saya ada dua kutub aliran yang masuk ke Indonesia yang sangat berpengaruh bahkan sudah sejak lama mempengaruhi bangsa kita.

Pertama Budaya Arab maupun timur tengah (kearab-arapan), dan kedua Budaya Barat (kebarat-baratan). Namun hemat saya selama ini kita cendrung lebih akrab dengan pemikiran barat (orientalism). Pertama masalah kearab-arapan, pernahkan kita sadar bahwa banyak sistem dalam organisasi di Negara kita yang mengatasnamakan Islam sebagai landasan ideologinya sesungguhnya telah mentah-mentah mengadopsi gaya arab sebagai karakter organisasinya, mulai dari management organsasi itu sendiri sampai pada cara bersosialisasi pada sesamanya, misalnya memanggil dengan sebutan, antum, akhwat, akhi, ukti, dan lain sebagainya. Saya yakin Islam tidak menganjurkan kita berbudaya kearab-arapan, melainkan substansinya terletak pada akidah.

Sedangkan yang paling gilanya lagi menurut saya itu adalah kebarat-baratan, kenapa? Karena budaya barat jelas jauh melenceng dari koridor kita yang kental dengan nilai normatif Ketimuran. Orang-orang di dunia barat jelas lebih menuhankan demokrasi liberal ketimbang agamanya walaupun memang tidak bisa dipukul rata. Awalnya kita meniru gaya berpakaian ala barat, stlye barat dinilai lebih modern istilah bekennya “modis”, lalu kita bawa demokrasi kita menjadi kebarat-baratan yang tentunya kental dengan sistem liberal, contohnya sistem multipartai adalah ciri-ciri dari demokrasi liberal. Kemudian yang paling gilanya lagi kita seolah menuhankan pemikiran barat, lagi-lagi demokrasi liberal disalahgunakan.

Jika gaya berpakaian dan segala macamnya yang berkaitan dengan fashion lalu kita berkiblat ke barat menurut saya oke oke saja, begitupun jika sistem pemerintahan yang cendrung liberal, karena benang merah dari demokrasi yang kita anut adalah Constitutional Democracy (Demokrasi berlandaskan Hukum).

Dalam Cosntitutional Democracy, Hukum menjadi pagar yang membatasi kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga pemerintah tidak dapat tergelincir dalam tirani kekuasaan. Jika kita merujuk Plato yang diakui sebagai bapak ilmu politik secara universal walaupun plato sendiri seorang pemikir politik barat, maka beliau telah mengatakan bahwa demokrasi yang berlandaskan hukum adalah “the second best state” yakni bentuk pemerintahan terbaik kedua setelah pemerintahan yang dipegang oleh The Fhilosphers King. Plato mengeluarkan pernyataan ini berdasarkan landasan bahwa The Filoshoper King mustahil dilahirkan pada zaman-zaman berikutnya, oleh karena itu dalam bukunya yang berjudul “Nomoi” (hukum) ia menyampaikan alternatif terakhir sebuah pemerintahan yang baik. Maka daripada itu Indonesia telah dapat dikatakan cukup baik dalam pelaksanaan pemerintahan Negaranya selama ini yakni dengan menggunakan konsep Negara hukum yang demokratis.

Namun jika pemikiran kita dijajah atas nama liberal maka sulit bagi kita mempertahankan nilai-nilai luhur yang ada, padahal hemat saya banyak bangsa di dunia yang telah kebablasan dalam berdemokrasi itu bukan lagi liberal namun telah masuk pada ranah neoliberal. Dalam konteks neoliberal tersebut, nilai-nilai yang ada selama ini dalam Negara kita perlahan-lahan mulai diruntuhkan. Peruntuhan tersebut salah satunya dilakukan oleh media. Karena itu literasi media menjadi salah satu agenda wajib menghadapi tantangan kekinian. Keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan LGBT adalah contoh bahwa kita telah dijajah secara pemikiran.

Saya sendiri secara personal terkadang cenderung terjebak dalam lingkaran orientalism, namun hendaknya dalam konteks ini kita mampu mengambil manfaat pemikiran barat sehingga sari dari pemikiran tersebut dapat terserap dengan baik. Saya sepakat dengan istilah ”Dengarkan nasihat dari siapapun. Bahkan jika itu dari seorang penjahat sekalipun, bila baik untukmu, maka ambillah hikmahnya”. Salah satu pernyataan yang paling menarik dari para pemikir politik kontemporer kini yakni tentang benturan kebudayaan di masa depan.

Samuel P Huntington sebagai seorang ilmuwan politik menyatakan bahwa di masa depan, benturan-benturan yang akan terjadi bukan lagi masalah ekonomi maupun politik melainkan benturan kebudayaan. Jika tidak tegas menunjukkan identitas kebudayaan serta tidak berpegang teguh pada nilai-nilai yang ada maka perlahan-lahan nilai-nilai kebudayaan akan menjadi usang lalu hilang ditelan perdaban barat yang mendominasi.

Seharusnya jika kita berpedang teguh kepada Pancasila maupun nilai-nilai kebangsaan kita lainnya mungkin saja ISIS ataupun LGBT tidak mampu masuk ke Indonesia. Andai saja jika kita memahami Pancasila dengan lebih inklusif saya yakin kita akan menjadi bangsa yang kuat di tengah dunia ini, bukan menjadi “bangsa beo”yang hanya bisa ikut-ikutan saja.

Lebih Baik dan Baik lagi
Sebenarnya akar dari permasalahan ini adalah salahnya kita dalam membangun Negara, dimana dulu pada masa pemerintahan orde baru, Presiden Soeharto yang kita kenal sebagai bapak pembangunan lebih memprioritaskan pembangunan fisik ditimbang membenahi masyarakat. Lalu masyarakat terbungkam dalam kebohongan-kebohongan Negara, di ruang yang gelap masyarakat menikmati murahnya harga segala macam kebutuhan namun dilain sisi masyarakat sedang dibodohi. Bayangkan saja, pada saat itu oligarkhi politik begitu kental, siapa yang merapat keistana akan mendapat kemudahan, jika membangkan maka siap-siaplah untuk hilang malam.

Dalam Konteks Pembangunan Politik, untuk membangun sebuah negara (state) maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah membangun bangsa (nations) itu sendir. Bangsa dalam konteks pembangunan politik adalah masyarakat di dalam sebuah negara.

Kesalahan orde baru dulu sepertinya harus segera kita lupakan, reformasi yang kita inginkan harus kita manfaatkan untu merubah bangsa menjadi lebih baik. Silahkan belajar dari bangsa manapun namun ambil nilai kebaikannya saja lalu tinggalkan hal yang buruk, kita harus semakin merubah Negara kearah yang lebih baik dan lebih baik lagi istilah jepangnya “Kaizen” atau dalam bahasa inggris Suistenable Development .

Gunakanlah akal sehat, lalu filter apapun kebudayaan yang datang dari luar, percuma jika kita punya Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI (Empat Pilar) jika hanya menjadi pajangan tanpa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan lagi mau dikatakan bangsa beo. ***

Delly-Ferdian

Respon Anda?

komentar