Hendra dan Glori, Pasangan Atlet Dansa Batam: Menari Bukan Sekadar Hobi

658
Pesona Indonesia
Pasangan atlet Ikatan Olahraga Danca Indonesia IODI) Kepri Hendra Glori menunjukan kebolehannnya dengan membawakan danca waltz, tango, quickstee dan slowfot pada acara lounching IODI di Swisbell Hotel, Jumat (26/2/2016). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Pasangan atlet Ikatan Olahraga Danca Indonesia IODI) Kepri Hendra Glori menunjukan kebolehannnya dengan membawakan danca waltz, tango, quickstee dan slowfot pada acara lounching IODI di Swisbell Hotel, Jumat (26/2/2016). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Bagi Hendra Sulaiman dan Glori, dansa buka hanya soal seni dan menari. Namun ini juga menjadi sarana edukasi untuk lebih menghargai dan memaknai hidup. Dan tentu, sarana meraih prestasi.

Ballroom di lantai 2 Swissbell-Hotel Batam mendadak gelap, Jumat (26/2) malam lalu. Seluruh peserta dan undangan yang menghadiri acara peluncuran Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Kepri malam itu terdiam sejenak. Suasana riuh berubah menjadi hening seketika.

Namun situasi ini tak berlangsung lama. Sorot lampu menyala tepat di tengah-tengah panggung yang luas di dala ruangan itu. Sejurus kemudian, dua orang penari, laki-laki dan wanita tiba-tiba muncul memecah keheningan bersamaan dengan sekumpulan asap mengelilingi panggung.

Kedua penari, Hendra Sulaiman dan Glori seperti sudah mengerti keinginan satu sama lain. Mereka bergerak dalam gerakan harmonis. Filosofi laki-laki yang selalu melindungi wanita tercitrakan dengan baik dalam setiap langkah-langkahnya.

Diiringi musik Mandarin, Tian Xia Wu Shand (dunia ini tidak ada duanya, red), Glori dan Hendra mampu memukau ratusan penonton yang menghadiri acara itu. Di tengah iringan musik bernuansa melankolis tersebut, kedua penari mampu menghibur dengan gerakan dansa Waltz dari Eropa.

Kedua penari ini mampu menciptakan sinkronisasi gerakan yang seirama. Mereka memulainya dengan langkah kotak, dimana langkah kaki pria dan wanita berlawanan. Jika Hendra melangkahkan kaki kiri, maka Glori melangkahkan kaki kanan, dan jika Hendra maju maka Glori mundur. Sehingga pada posisi terbuka, jarak keduanya terjaga dengan baik, dan ketika dalam posisi dekat, tubuh kedua penari tetap rapat.

Selanjutnya mereka meneruskannya dengan langkah keseimbangan untuk menjaga harmonisasi gerakan dan kemudian diakhiri dengan langkah paling indah, yakni langkah putaran. Pada langkah ini, wanita melangkah berputar di bawah lengan pria dengan tetap berpegangan. Gerakan ini menunjukkan filosofi laki-laki yang memperlakukan wanita secara romantis.

Setelah dansa Waltz, Hendra dan Glori berturut-turut menampilkan tiga dansa lagi, yakni dansa Tango yang berkarakter cepat dan enerjik. Kemudian, dansa quickstep yang ceria, dan terakhir, dansa slowfox yang mengalun pelan dan lembut.

Keempat dansa yang telah diperlihatkan tersebut sudah cukup untuk membuat para penonton memahami keindahan yang tercipta dari gerakan tari yang terkonsep dengan rapi dan anggun. Setelah acara selesai, Batam Pos mendapat kesempatan khusus untuk mewawancarai kedua penari ini.

Hendra, 31, pria bertubuh langsing tampak sangat kasual dengan busana tailcoatnya. Namun siapa nyana, pria yang mahir berdansa ini ternyata sehari-hari berprofesi sebagai dokter umum di Rumah Sakit Santosa Hospital, Bandung, Jawa Barat. “Saya mulai menekuni dansa sejak 2005 ketika masih kuliah,” katanya memulai pembicaraan.

Ia diajari oleh salah satu pelopor Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI), Robin. Hendra sangat tertarik dengan filosofi “Pria melindungi wanita” yang terkandung dalam setiap gerakan dansa. “Di dalam dansa, laki-laki dan wanita menari bersama, sama seperti dalam kehidupan, kedua-duanya juga harus harmonis,” paparnya.

Baginya, dansa ballroom sarat dengan makna kehidupan. Khususnya tentang bagaimana cara laki-laki memperlakukan seorang wanita, dan bagaimana wanita menuruti lelaki. Pria haruslah rendah hati dan wanita haruslah bisa mendengarkan dengan hati. “Kalau menari solo hanya menampilkan keindahan tubuh dan gerakan sendiri, namun berdansa menampilkan seluruh keindahan gerakan bersama dengan pasangan kita,” katanya.

Untuk bisa mahir seperti sekarang, Hendra membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berlatih. Dansa sangat membutuhkan komitmen kuat terhadap seni karena sifatnya adalah membawa seni kehidupan pasangan ke dalam sebuah tarian. “√Źnterpretasi terhadap lagu pengiring, kelenturan tubuh, dan ketekunan menjadi kunci untuk bisa menguasai dansa,” ungkapnya.

Dansa menjadi obat jenuh yang efektif bagi Hendra ketika tengah bosan dengan pekerjaannya. Ia berlatih rutin tiap malam selepas pekerjaannya. Pria lajang ini sudah menguasai banyak jenis dansa. Terutama 10 dansa yang sering digunakan pada saat pertandingan, seperti Waltz, Tango, Quickstep, Slowfox, Quickwalls, Chacha, Rumba, Jive, Paso Double, dan Samba.

Dansa juga sangat mengandalkan kebugaran tubuh. Pasalnya, dalam setiap kompetisi, penari harus menarikan empat atau lima dansa setiap satu menit setengah. Tuntuntan terhadap kondisi fisik optimal mutlak harus dikuasai mengingat dalam waktu sesingkat itu, kedua penari harus mengelilingi ruangan dansa yang sangat luas.

Ia juga berusaha untuk menghindari sisi negatif para penari yang sangat tertarik pada kehidupan malam. “Saya juga sangat menyesalkan, mengapa banyak atlet dansa tertarik ke situ. Makanya saya hanya berusaha fokus ke dansa,” tegasnya.

Pasangan Hendra, Glori, 33, tidak terlalu banyak bicara. Ibu rumah tangga ini mengaku menekuni dansa sejak 2008. Ia menyukai dansa karena indah dilihat. “Kami mulai berpasangan sekitar pertengahan tahun lalu sampai sekarang,” ungkapnya.

Saat ini dansa sudah dinyatakan sebagai cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak 2012 silam. Dan sejak berpasangan, Hendra dan Glori telah meraih banyak prestasi.

Pertama, mereka meraih dua emas dan dua perak di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) IODI Indonesia di Lombok, 12 September kemarin. Kemudian di tempat yang sama, pada ajang Lombok Open yang digelar oleh International Dance Association (IDA), mereka meraih satu emas dan satu perunggu.

Mereka juga memberikan sumbangsih yang membawa Indonesia meraih juara empat dansa pada ajang Tryout World Dance Dance Federation (WDF) di Singapura, Juli tahun lalu. Selanjutnya, kedua pasangan ini mampu membantu meloloskan Kepri menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat dengan torehan tiga emas dan satu perak. Dan masih banyak lagi prestasi lainnya.

“Target kami sebagai penari adalah berekspresi menampilkan keindahan tubuh manusia ciptaan Tuhan dalam suatu gerakan anggun dan harmonis. Dansa sebagai olahraga andalan Indonesia yang mampu menaikkan harkat bangsa,” kata Hendra mengakhiri. (RIFKI SETIAWAN LUBIS)

Respon Anda?

komentar