Pasar Senilai Rp 90 Miliar di Batam Sia-Sia

618
Pesona Indonesia
Pasar Induk Jodoh, Batam. Foto: Suprizal Tanjung/batampos
Pasar Induk Jodoh, Batam. Foto: Suprizal Tanjung/batampos

batampos.co.id – Pasar Induk Jodoh yang kini semakin kumuh dan mulai hancur. Pasar yang dibangun BP Batam (dulu Otorita Batam) sejak tahun 2000 yang menelan dana Rp 90 miliar itu sia-sia. Baik BP dan Pemko Batam tak pernah berhasil mengelola pasar tersebut.

Pengelolaan pasar tersebut sejak selesai dibangun memang diserahkan ke Dinas Pasar dan Kebersihan Kota Batam. Pemko Batam tersendiri sempat menggaet pihak ketiga (swasta) untuk mengelola namun tidak pernah berhasil.

Pengelola pasar Tos 3000 sempat menawarkan diri untuk mengelola pasar tersebut beberapa tahun silam, namun Pemko Batam memilih swasta lain yang tidak punya pengalaman mengelola pasar.

Hingga saat ini pasar inipun terbengkalau dan tak ubahnya kios liar berukuran jumbo. Jika tak direnovasi, pasar ini bakal ambruk.

Terkait hal ini, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (PMP-KUKM) Kota Batam yang punya niat menghidupkan Pasar Induk Jodoh menghadapi jalan buntu. Karena tak ada payung hukum untuk kerjasama dengan pihak swasta (KPS) membangun ulang pasar induk tersebut.

“Kita sudah konsultasikan ke Kementrian Keuangan, PJPK (penangungjawab proyek kerjsama) KPS harus satu. Tak bisa dua (Pemko dan BP Batam), aturannya tak ada,” kata Kadis PMP-KUKM, Febrialin, Selasa (1/3/2016).

Kenyatannya aset pasar Induk dimiliki beberapa instansi, diantaranya Pemko dan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Menyelesaikan permasalahan ini, salah satu pihak harus menghibahkan asetnya. “BP yang menghibahkan, atau Pemko,” kata Febrialin.

Febrialin menyangkal pihaknya membiarkan mangkraknya pasar induk. Berbagai upaya kilah Febrialin sudah dilakukan, namun tak mndapatkan titik temu.

“Kami sudah berupaya untuk mengoptimalkan ini,” katanya. Namun ditanya perjuangan PMP-KUKM meminta hibah aset BP Batam ke kementrian keuangan, Febrialin memilih bungkam.

Sebelumnya, PMP-KUKM berencana memebangun ulang pasar jodoh, melalui KPS.
Pengelolaan pasar Induk Jodoh berdasarkan prakarsa dari badan hukum usaha (swasta). “Berdasrkan Permen Bappenas, KPS bisa dilakukan dua pola. Prakarsa pemerintah atau swasta,” kata Febrialin.

Dengan kondisi yang ada saat ini, pemerintah lebih tertarik dengan pola prakarsa dari swasta. Mereka menyiapkan kajian akademik, dokumen lelang, hingga konsep pembangunan pasar induk. “Kini sudah masuk tahapan pra visibility studi,” kata Febrialin.

Pra visibility studi akan dinilai oleh tim dari Pemko Batam,  tim ahli dari Batam, serta melibatkan tim ahli profesional dari pusat. “Layak atau tidaknya pra visibility ini diteruskan menjadi visibility studi,” ungkapnya lagi.

Bila layak, tim akan merekomendasikan kepada Wali Kota Batam. Setelah itu, baru dilakukan pelelangan secara terbuka. “Pemrakarsa belum tentu jadi pemenang, cuman  diuntungkan dalam KPS ini,” katanya.

Pemrakarsa bisa memilih pembobotan dari tim penilai. Mendapatkan tambahan nilai 10 persen dari tim penilai, atau tektumes.”Misalnya kita mendapatkan penawaran yang lebih bagus. Kalau pemrakarsa sanggup melakukan pengerjaan dari penwaran terbaik, dia yang menjadi pemenang,” beber Febrialin.

Ditanya mengenai penghitungan aset pasar dengan BP Batam, Febrialin mengatakan Pasar Induk menjadi aset bersama. Begitupun pembagian keuntungan, akan dibicarakan melalui tim.

“BP-Pemko satu kesatuan, terkait pengelolaan aset bersama dituangkan dalam MoU (memorandum of understanding),” katanya.

Namun langkah yang dilakukan beberapa tahun lalu itu tak menemui hasil, PMP KUKM  buntu. Tak tau langkah yang hendak dilakukannya untuk menghidupkan kembali pasar induk. (nur/hgt)

Respon Anda?

komentar