Mesin Pembangkit Listrik Rusak, Desa Air Asuk Gelap Berhari-hari

337
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Mesin pembangkit listrik 125 KW di Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, rusak. Akibatnya Desa Air Asuk dan sekitarnya kini gelap gulita. Sekitar 260 KK penduduk didesa tersebut hanya menggunakan alat penerangan seadanya. Mulai dari api lilin hingga menyalakan genset bagi warga yang memilikinya.

“Sejak Selasa kemarin mesin rusak, kita belum tahu apakah sudah dibetulkan apa belum. Kita juga belum tahu penyebabnya,” ujar Camat Siantan Tengah, Herry Fakhrizal saat menghubungi, Rabu (2/3).

Herry menjelaskan, Desa Air Asuk sebenarnya memiliki dua mesin pembangkit listrik yang berasal dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2011 lalu. Namun salah satu mesinnya sudah rusak karena kumparan dinamonya terbakar. Jadi selama ini yang beroperasi hanya satu mesin saja. Lalu satu mesin yang tersisa ini juga rusak, maka tidak ada lagi mesin yang dioperasikan.

Untuk mengganti kumparan dinamonya, kata Herry, membutuhkan biaya sebesar Rp 85 juta. “Operator pernah bilang kalau untuk membenahi kumparan dinamo yang terbakar membutuhkan biaya Rp 85 juta. Yang itu belum dibetulkan, yang satunya sudah rusak,” ungkapnya lagi.

Disinggung mengenai perbaikan yang dianggarkan melalui dana desa, diakui Herry, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui. Itu dikarenakan karena mesin tersebut pengelolaannya masih berada di kabupaten dalam hal ini dinas.

Kata Herry, pihak desa susah untuk bergerak sendiri membenahi mesin itu karena tidak punya wewenang terkait mesin pembangkit listrik itu. Karena mesin itu merupakan aset Pemkab dan tidak dihibahkan kepada pihak desa. “Kalau statusnya dihibahkan, tentunya kami pihak kecamatan dan desa akan mengambil langkah-langkah seperti membuat Peraturan Desa (Perdes,red) nya,” bebernya.

Listrik di Air Asuk memang belum beroperasi penuh 24 jam. Hanya kurang lebih 4 jam perhari terhitung pukul 17:45 hingga 00:00 WIB setiap harinya. Jadwal tersebut merupakan jadwal tetap namun bisa diubah sesuai dengan kebutuhan. “Jika ada warga yang tertimpa kemalangan, biasanya dinyalakan diluar jadwal itu,” ungkapnya.(sya/bpos)

Respon Anda?

komentar