Harga Sembako Masih Tinggi di Anambas, Manfaat Tol Laut Belum Dirasakan

745
Pesona Indonesia
Tol Luat Caraka Niaga III. foto:syahid/batampos
Tol Laut Caraka Niaga III yang mengangkut barang-barang dari Jakarta ke Anambas. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Kapal tol laut itu sudah sekian kalinya tiba di Pelabuhan Tarempa mengangkut barang yang dibeli dari Jakarta. Tapi kenyataan dilapangan harga barang belum ada yang turun. Adanya biaya angkut murah yang dibantu oleh pemerintah pusat tidak berdampak banyak terhadap masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas.

Yang terjadi justru sebaliknya. Harga sembako di Tarempa justru kian mahal. Contohnya, beras merek Panda masih Rp14 ribu per kilo, Citra Mandiri Rp14 ribu, Rono Lele Rp 17 ribu, Buaya Rp 12 ribu dan Anggur Merah Rp 17 ribu per kilonya. Sedangkan harga gula Rp 13 ribu per kilo, Tepung terigu mencapai Rp 9 ribu hingga Rp 18 ribu per kilo dan minyak goreng dijual oleh pedagang sekitar Rp 70 ribu per drigen ukuran lima liter, semuanya masih patokan harga lama.

Hal ini pun mengundang reaksi masyarakat. Sejumlah masyarakat Anambas mengeluhkan kondisi ini. Mereka menilai pemerintah daerah khususnya Disperindakop seolah-olah menutup mata dan tidak mau perduli persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Masyarakat berharap pemerintah bertindak tegas terhadap pedagang yang tidak mengikuti aturan dan tidak mau menurunkan harga barang.

”Jangan-jangan oknum Disperindag sudah bekerja sama dengan sejumlah pengusaha besar di Kota Tarempa,” kata Rudi, salah seorang warga Tarempa Kamis (3/3).

Menurutnya, masyarakat sudah mengetahui mengenai kapal tol laut sebagai pengangkut bahan sembako yang biaya angkutnya sangatlah murah. Apalagi belanja barangnya di Jakarta, tentu harga barang jauh lebih murah dibanding dengan kota besar lainnya. Patut dicurigai para pedagang telah melakukan penimbunan barang.

Kepala Bidang Perdagangan, Suhaimi, mengatakan sejauh ini belum ada laporan dari masyarakat terkait mahalnya harga barang yang beredar di pasar. Harga barang masih di kategori normal, namun tidak di pungkiri ada sebagian barang yang belum turun harganya. Besar kemungkinan barang yang dijual oleh pedagang yang masih mahal, pasokan barang yang lama yang belum habis terjual. Sebelumnya barang tersebut mereka beli di Kota Tanjungpinang dan biaya angkut masih mahal, sebelum ada kapal tol laut.

“Tentu para pedagang harus menghabiskan barang yang tersisa sebelumnya. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, maka akan diberikan sanksi yang tegas dan jika perlu izinnya di cabut,” ungkapnya.(sya/bpos)

Respon Anda?

komentar