Jadi Urat Nadi, Normalisasi Sungai jadi Prioritas di Lingga

657
Pesona Indonesia
Sungai Daik yang mengalami pendangkalan. foto:hasbi/batampos
Sungai Daik yang mengalami pendangkalan. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Sungai memiliki peran penting bagi warga di Kecamatan Lingga. Selain menjadi sumber penghidupan, sungai di sini juga merupakan jalur transportasi warga nelayan maupun petani sagu. Namun kini sungai tersebut mengalami pendangkalan.

Dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) 2017 mendatang, sepanjang aliran sungai di Daik tersebut menjadi prioritas pembenahan secara menyeluruh oleh Pemkab Lingga.

Kepala Desa Merawang M Zahid, menuturkan, normalisasi sungai telah lama menjadi usulan pemerintah desa sejak 2012 lalu. Dangkalnya aliran Sungai Budus membuat puluhan nelayan di desanya tidak bisa lagi melintasi jalur sungai saat akan pergi melaut. Begitu juga akses bagi petani sagu di Desa Merawang untuk mengirim sagu ke pabrik pengolahan di Daik.

”Kami minta segera dilakukan normalisasi sungai, ini sangat penting. Karena akibat pendangkalan sungai menjadi hambatan bagi nelayan maupun masyarakat,” ungkapnya.

Selain Sungai Budus, kata Zahid, kondisi serupa juga terjadi di Sungai Tanda dan Sungai Daik yang semakin dangkal. Saat musim hujan kedua aliran sungai tersebut tidak mampu menyerap air hujan yang berasal dari Gunung Daik, sehingga mengakibatkan pemukiman warga terendam banjir. ”Belum lagi banyaknya sampah yang menyumbat sungai,” ujarnya.

Sementara di Desa Panggak Laut, disampaikan Ahmad, Kepala Desa setempat, kuala sungai beberapa kali dilakukan pembersihan oleh warga desa. Namun tetap tidak maksimal. Warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan saat air laut surut tidak bisa melintasi aliran sungai.

“Dari desa kita, sudah kita usulkan juga normalisasi. Kita butuh pelebaran dan pendalaman aliran sungai. Kondisinya sekarang, nelayan dan petani sagu sulit beraktifitas,” jelas Ahmad.(mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar