Kepri Mampu Bersaing di Era MEA, Maritim dan Pariwisata Bisa jadi Andalan

564
Pesona Indonesia
Gubernur Kepri HM Sani (kiri) saat mengadukan soal penyusutan DBH Migas Kepri kepada Wakil Ketua DPR RI  Jazilul Fawaid. foto:humas pemprov
Wakil Ketua DPR RI Jazilul Fawaid (kanan) saat kunjungan ke Pemprov Kepri. foto:humas pemprov

batampos.co.id – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Jazilul Fawaid menaruh asa tinggi, bahwa Provinsi Kepri mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku sejak awal tahun ini. Hanya saja optimisme Jazilul bersyarat.

“Sejak hari ini dan jangan lagi tunggu besok, Kepri harus memulai untuk melakukan peningkatan mutu dan kualitas kerjanya,” ungkap Jazilul, ketika berkunjung ke Tanjungpinang, Selasa (2/3) lalu.

Sebagai daerah terdepan yang berbataskan langsung dengan negara jiran, sambung Jazilul, Kepri punya banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk bersaing di era MEA. “Di antaranya sektor investasi. Baik itu di bidang maritim maupun pariwisata, saya rasa Kepri sangat potensial di dua bidang ini,” ucap politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Sebelumnya, Kepala Seksi Statistik Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik Kepri, Purwo Astono, menandai bahwasannya Kepri memiliki potensi untuk tetap mampu bersaing dalam pemberlakuan pasar bebas ke depannya. Hanya saja dalam waktu yang relatif singkat ini, diperlukan terus menggali dan mengasah potensi-potensinya itu.

Berbagai potensi yang dilihat berdasarkan data yang dihimpun BPS yakni dari alat transportasi laut misalnya. Seperti kapal dan lain sebagainya yg masih dikembangkan. Juga berbagai penawaran pariwisata yang sangat bisa ditawarkan Kepri kepada pasar ASEAN nantinya. Juga berbagai produk maritim.

“Perikanan ini juga masih bisa kita andalkan. Namun pengawasan dan keamanan kekayaan laut juga perlu kian kita tingkatkan. Untuk menjaganya dari pengambilan oleh oknum yang tak bertanggung jawab,” jelas Purwo.

Sementara anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Rudy Chua menilai MEA sebagai peluang tersendiri bagi delapan profesi yang sudah mendapatkan kesepakatan pengakuan bersama yang tertuang dalam Mutual Recognation Agreement (MRA) dari negara-negara ASEAN.

Kedelapan profesi yang telah diratifikasi MRA adalah insinyur, arsitek, perawat, tenaga survei, tenaga pariwisata, praktisi medis, dokter gigi, dan akuntan. Yang artinya kedelapan profesi inilah yang punya keuntungan lebih di seputaran kawasan ASEAN, sebagaimana kesepakatan yang telah ditetapkan beberapa waktu lalu.

Dari kedelapan profesi ini, Rudy beranggapan wilayah Kepri memiliki keuntungan tersendiri dengan masuknya profesi tenaga pariwisata dalam daftar profesi MRA oleh ASEAN.

“Wilayah kita yang berada di perbatasan ini dan sumber daya manusia dengan bekal profesi tenaga wisata ini, membuat Kepri memiliki peluang untuk dapat memanfaatkan peluang MEA,” tutur Rudy, kemarin.

Rudy menambahkan, peluang ini merupakan awal yang baik bagi tenaga pariwisata yang ingin memiliki karir berskala internasional dengan memulainya di wilayah ASEAN. “Ini peluang yang baik sekali. Dan juga bisa dimanfaatkan bagi lulusan SMK dibidang pariwisata itu,” lanjut Rudy.

Dengan telah memiliki ijazah sekolah kejuruan di bidang pariwisata, sambung Rudy, yang perlu ditingkatkan yakni keahlian berbahasa asing. Selain melancarkan bahasa internasional bahasa Inggris, menambah pengetahuan berbahasa beberapa bahasa asing lainnya diyakini Rudy mampu meningkatkan nilai daya saing.

Untuk itu, Rudy menuturkan, Dinas Pendidikan Provinsi Kepri semestinya sudah mulai melirik peluang ini dengan terus memperbaiki kualitas jurusan pariwisata di sekolah-sekolah kejuruan. Dengan begitu, diharapkan anak-anak muda Kepri bisa turut mewarnai pemberlakuan MEA sebagai pemain utama. “Sedih sekali kalau nantinya kita hanya jadi penonton di daerah sendiri,” pungkas Rudy. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar