Tiga Lokasi di Desa Wisata Mepar Bisa Jadi Tempat Saksikan Gerhana Matahari

1436
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Fenomena langka gerhana matahari total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 dapat disaksikan di Daik Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tiga titik lokasi wisata Desa Mepar, Kecamatan Lingga, yakni Benteng Lekok, Taman dan Pelabuhan Tanjung Buton serta Pantai Pasir Panjang menjadi lokasi potensial melihat fenomena langka tersebut yang terjadi 300 tahun sekali.

Kabupaten Lingga, adalah satu-satunya wilayah Kepri yang di lintasi garis ekuator atau titik nol matahari. Sehingga jelas, fenomena ini dapat disaksikan meski tidak keseluruhan. Dari data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Kota Batam, Kepri, menjadi salah satu peta wilayah yang dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan magnitudo terentang antara 0,815 di Ranai hingga 0,936 di Daik, Kabupaten Lingga, Kepri.

Bagi para wisatawan luar, maupun wisatawan lokal yang ingin menyaksikan fenomena ini, ketiga lokasi tadi yakni Benteng Lekok, bekas peninggalan kesultanan Lingga yang bersejarah, taman dan pelabuhan Tanjung Buton serta objek wisata Pantai Pasir Panjang di Dusun Malar, Desa Mepar, boleh jadi lokasi yang wajib dikunjungi melihat fenomena alam ini. Fenomenan GMT ini, akan berlangsung lebih kurang 2 jam 11 menit dan 57 detik. Mulai kontak pertama pada pukul 06.22.08 WIB pagi pada garis 94,4 derajat dengan posisi bujur 104-36.00 BT dan Lintang 0-11 LS. Akses yang mudah di capai dan hanya berjarak 10 menit dari Kota Daik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari pusat ibukota pemerintahan sangat memungkinkan para wisatawan dengan mudah mendatangi ketiga loaksi wisata ini.

Sementara itu, fenomena alam yang langka ini dikatakan Lazuardi, salah seorang tokoh budaya di Bunda Tanah Melayu (BTM) Daik Lingga, lazimnya dilakukan kegiatan-kegiatan religi. Seperti sembahyang khusufain atau salat dua gerhana. Untuk gerhana matahari dilakukan salat khuuufi dua rakaat dengan 4 kali rukuk dan 4 kali sujud. Di Daik, kata Lazuardi atau yang lebih akrab di sapa Pukcu War ini, fenomena gerhana matahari bagi masyarakat kebanyakan juga memiliki berbagai kegiatan dan kepercayaan turun temurun. Seperti kaum perempuan yang sedang hamil, dilarang untuk keluar rumah dan kontak langsung dengan matahari. Sementara bagi wanita hamil yang terkena cahaya dari sinar gerhana matahari dikatakan lazuardi oleh orang-orang tua dulu harus mandi tolak bala.

Hal itu diyakini, lanjut Lazuardi, sebab zaman dulu dan sekarang jelas berbeda. Sekarang, sebelum terjadi gerhana orang sudah tahu jauh-jauh hari dengan adanya BMKG. Namun dulu, orang-orang melayu hanya mengacu pada ilmu Hisab dan ilmu Falaq. Untuk memberitahukan gerhana matahari pada masyarakat banyak, digunakanlah instrumen seperti gong, bedug maun kektok (instrumen kayu atau bambu) sebagai penanda.

“Gong, gendang ataupunkKektok digunakan untuk memberi informasi. Tapi sekarangkan sudah berbeda, ada TV, Internet yang dapat dengan mudah mendapat informasi. Kepercayaan orang melayu beragam. Anggapan masyarakat sifat matahari yang panas dipercaya sebagian orang memberikan aura panas, iblis, setan sehingga ada tolak bala. Tidak dapat juga kita simpulkan kepercayaan orang-orang di Daik, sebab bermacam-macam persepsi. Tapi ada juga yang menganggap peristiwa ini sebagai teguran dan kebesaran Allah,” tambah Pukcu.(mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar