Cerita tentang Emak

Oleh : Husnizar Hood

678
Pesona Indonesia

Kolom Oleh Husnizar Hood

“Setiap hari Sabtu kerja awak apa saja Tok?’, Tanya Mahmud kepada saya, selalu begitu ketika tiba akhir pekan seperti sekarang ini. Langit mendung, hujan akhir-akhir ini datang bertalu-talu, di laut ombak masih mengamuk. “Menjenguk Emak”, jawab saya.  “Ya, ya, ya,,,”, kawan saya yang baik hati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.  Nampaknya dia sadar betul jawaban saya itu sangat mahal harganya. Wajahnya tersenyum cerah, mungkin dia bahagia mendengar jawaban saya itu.

Untung jawaban saya benar, andaikan tadi saya jawab salah  misalnya menjawab dengan merenung apa yang terjadi selama sepekan ini, mencatat dengan menulisnya, misalnya kisah orang Batam di Kampung Lama yang masih geram, tanah mereka terjual, Orang Tanjung Uma tanahnya dipagar. Pengelolanya mau diambil alih pemerintah pusat, Walikotanya sudah habis masa jabatan tapi yang baru belum dilantik, Batam itu singkatan Bayangan Tetap Suram. Huh!

“Suram apa?”, sergah Mahmud. “Itu kota semakin hari semakin gemerlap tapi bagi mereka yang punya modal dan mereka sesuka hati saja membangunnya, merampasnya dan menjualnya”, masih suara Mahmud meninggi. Ho..ho..ho… dalam hati saya bersyukur, kalau jawaban saya itu tadi bukan dengan kalimat “Menjenguk Emak”, pasti suara kawan saya itu melenting lebih tinggi lagi.

Kadang-kadang kesibukan kita telah melupakan hal-hal yang begitu penting yang harus dan wajib kita lakukan kepada orang tua kita. Karena kita mengangap pekerjaan itu perkejaan muda dan sepele padahal sangat sulit kita lakukan. Kita inipun sebenarnya sudah tak muda juga saat ini. Kita selalu minta dihargai oleh anak-anak kita, mungkin anak-anak kita yang sudah berterbangan kemana-mana dengan jabatan dan pangkat yang diraih mereka, begitu juga orang tua kita kepada kita.

Rasanya waktu tak cukup, hari demi hari begitu cepat, sepekan kita lalui dengan rutinitas duniawi ini  bagai tak ada waktukah kita sekedar menjenguk Emak? itupun kalau dia masih ada. Emak saya masih ada, Alhamdulillah, bagi yang sudah tidak ada berziarahlah dan kirimlah Fatihah,

Kita datang untuk bertanya kabar kepada Emak, membawa bingkisan mungkin, menghibur dia dengan cerita-cerita bahagia, seperti kita dulu dihiburnya dengan dongeng sebelum tidur kemudian besoknya ada hadiah gula-gula sepulang dia dari belanja. Alangkah bahagianya.

Saya menulis cerita tentang Emak ini bukan ingin berbangga-bangga, Emak saya usianya sudah 83, sudah 14 tahun ia hanya terbaring atau tak kuat lama berdiri hanya sebentar duduk di kursi roda tapi tangannya masih lincah meminkan keypad handphonenya, “Dunia serba canggih” katanya. Kapan-kapan saja dia mau menelpon saya dia bisa yang penting pulsa masih ada. Ia bertanya kapan gajian, ia bertanya enaknya sop ayam itu dimana, itu ia pura-pura bertanya artinya kita harus cekatan segera membeli dan mengantar kepadanya.

Emak saya memang lahir dan dibesarkan pada zaman yang berbeda tapi dia sangat sadar apa yang harus dilakukannya kepada anak-anaknya hari ini. Dia selalu mengingatkan saya jangan menjual janji dia ingatkan saya kalau sudah berjanji harus dipenuhi dan dia bilang supaya tak ketinggalan zaman perabot rumah kita ganti setahun sekali. Kalau Emak miscall cobalah dipahami. Wow!

Saya menulis cerita tentang Emak ini buka mengada-ada ceritanya kemarin saya terharu membaca cerita-cerita tentang Emak mereka, ada sahabat yang belum pernah mencium emaknya hingga kini karena mungkin dibesarkan dengan budaya yang keras tapi ketika dia mendengar curahan hati emaknya yang tak mau dicium oleh cucunya karena mungkin emaknya sudah tua dan baunya berbeda, sejak itulah ia rindu untuk terus menerus mencium emaknya. Mengajak anaknya juga.

Juga cerita seorang sahabat yang lain yang sudah tak bisa mencium emaknya, karena emaknya sudah tiada tapi menurutynya ia sudah menyelesaikan semua janji dan cita-cita emaknya dan setiap cita-cita itu tercapai ia selalu mencium emaknya. Ada juga seorang sahabat ketika ia bimbang ingin menentukan arah hidupnya tiba-tiba Emaknya pergi dalam usia yang relative masih sangat muda untuk selamanya. Dia seperti kehilangan cahaya dan hidup dalam kegelapan selama-lamanya. Ia menulis setiap hari ia rindu yang sangat kepada Emaknya.

Emak memang hebat, ada banyak lagu ada banyak puisi yang diciptakan oleh banyak seniman karena Emak menjadi inspirasi yang tak pernah ada habisnya, Termasuk inspirasi di Tanjungpinang ada yang bertanya bagaimana kalau Emak-emak saja yang kembali menjadi pemimpinnya? Emak-emak itu penyabar, lembut dan teliti dan tentunya Emak-emak seperti emak kita juga yang tak pernah berjanji.

Kawan saya Mahmud tertawa, kemudian ia menarik dalam-dalam nafasnya,  “Tapi emak selalu menangis walaupun tak ditunjukkannya kepada kita”, suara Mahmud datar. “Saya selalu melihatnya dalam diam-diam”, tambah Mahmud lagi. Saya tak mau bertanya yang dikatakan Mahmud itu adalah emaknya atau emak dari anak-anak mereka. Agak sensitive kalau saya bertanya.

“Apakah pemimpin tak boleh menangis?”, dalam hati saya bertanya. Saya kira boleh pemimpin itu harus menangis bila apa yang dikerjakannya tak menghasilkan seperti yang diinginkannya, ia harus menangis bila masyarakatnya tak berganjak lebih sejahtera selama ia memimpin, pemimpin harus menangis  jika masyarakatnya tak lagi mencintainya. Itu pertanda apa yang terjadi selama ia memimpin akan ia pertanggungjawabkan di hadapan sang Khalik.

Bukan menangis ketika masa kampanye saja, entah siapa yang meninggal dan kita tak tau susur galuhnya orang menangis kitapun ikut menangis juga, meraung biar nampak meyakinkan.  Berjumpa dengan timses yang dulu pernah membantu perjuangan kita dan kita lupakan begitu bertemu kembali mengongoi kita memeluknya dan bersuara dengan terbata-bata : “Maafhlah tak ada manusia yang sempurna”.

Semua sudah tau manusia itu tempatnya salah, khilaf dan pendusta hanya kalau ingin jadi pemimpin paling tidak kitalah yang paling sedikit salahnya dan tau akan makna kebenaran yang harus kita letakkan  menjadi yang paling utama.

EMAK

Mak, ini tulisanku
Yang selembar inipun aku tergurat-gurat
Hanya pada kertas tak berwarna
Penuh sketsa dan buram

Aku telah menulisnya di hutan pinus
Kekerdilanku nyata
Waktu mengapai dahan-dahannya

Aku sudah berlari ke setiap sudut
Tapi pada siapa aku akan bertanya
Dongeng yang kau ceritakan
Sebelum tidurku dulu
Kini berakhir tak bahagia lagi

Mak,
Hanya engkau yang mau mendengarkanku
Cinta adalah perjanjian palsu
Dari hidup yang terus kalah
Dan hanya kasihmu yang seperti telaga
Aku ingin berenang dan lemas
Di dsarmu

Itu puisi yang sudah lama saya tulis, semoga Emak dan Emak anak-anak saya tak menangis lagi adanya.

Respon Anda?

komentar