Penjualan Lahan di Pulau Buaya Sudah Berlangsung Sejak 1999

744
Pesona Indonesia
Pulau Buaya yang menjadi salah satu spot labuh jangkar wisata layar di Desa Batu Belubang. Lokasi pulau ini juga telah dikuasa pengusaha tambang. foto:hasbi/batampos
Pulau Buaya yang menjadi salah satu spot labuh jangkar wisata layar di Desa Batu Belubang. Lokasi pulau ini juga telah dikuasa pengusaha tambang. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Kepemilikan 1.000 hektar lahan di Pulau Buaya, Desa Batu Belubang, Lingga, ternyata telah terjadi sejak tahun 1996 hingga 1999. Saat itu, Desa Batu Belubang belum dimekarkan dan masih menjadi salah satu dusun yang tergabung dalam Desa Pasir Panjang, Kecamatan Senayang, Provinsi Riau. Sebelum kemudian dimekarkan lagi menjadi Provinsi Kepri.

Persoalan kepemilikan lahan ini, terkuak setelah baru-baru ini pengusaha tambang asal Tanjungpinang yang ingin memutihkan lahan tersebut untuk dibuka tambang Granit dan Batu Marmar. Namun, warga desa maupun pemerintah desa menolak keras, sebab tak ingin di hutan penyangga desa tersebut dilakukan aktifitas pertambangan.

Umar, mantan Kepala Desa Batu Belubang periode 2009-2015 kepada wartawan Batam Pos (group batampos.co.id) yang berhasil dikonfirmasi ulang membenarkan kepemilikan laha seluas 1.000 hektar di Pulau Buayaalah seorang pengusaha. Peristiwa hukum penerbitan surat tanah tanah tersebut, disampaikan Umar, telah terjadi jauh hari pada tahun 1996 sampai 1999. Saat itu, Batu Belubang merupakan dusun dari Desa Pasir Panjang.

“Pemekaran Desa Batu Belubang itu pada tahun 2007. Desa di pimpin Pjs selama 2 tahun. Saya terpilih pada 2009 sampai 2015. Dulunya, desa ini adalah dusun III Desa Pasir Panjang, Senayang. Soal lahan di Pulau Buaya yang 1.000 hektar itu, terjadi kira-kira 1996 sampai 1999,” terang Umar, Jumat (4/3).

Soal dikeluarkannya kepemilikan maupun penjualan lahan pulau Buaya, ditegaskan Umar, bukan pada masa pemerintannya. Meski mengetahui hal itu ada, ia mengatakan tidak pernah sama sekali menjual lahan di desanya.

“Yang jelas bukan dizaman saya. Peristiwa itu saat desa Batu Belubang belum dimekarkan. Masih dibawah desa Pasir Panjang Senayang,” tegasnya lagi.

Sementara itu, terkait kepemilikan lahan 1000 hektar ini secara tegas Bupati Lingga, Alias Wello yang dikonfirmasi Batam Pos, akan segera menindaklajuti dan memanggil pihak-pihak terkait.

“Dalam waktu dekat akan kita panggil,” tutup Awe. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar