Begini cara melihat GMT supaya aman. Foto: istimewa
Begini cara melihat GMT supaya aman. Foto: istimewa

batampos.co.id – Kementerian Pariwisata sangat antusias mengkoordinasikan momen langka Gerhana Matahari Total (GMT) yang hanya terjadi 350 tahun sekali.

”Utamanya kita melakukan bantuan promosi atas event-event di daerah dan memberikan fasilitas-fasilitas,” jelas Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Kementerian Pariwisata Esty Reko Astuti saat dihubungi Jawa Pos (grup batampos.co.id), Sabtu (5/3/2016).

Jika event besar dan atraksi utamanya sudah tersedia oleh Tuhan Yang Maha Esa, maka Kementerian Pariwisata pun mendorong pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengadakan sub-event tambahan.

Fokusnya pada atraksi budaya dan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Seperti, sport tourism, edukasi, alam, budaya dan kuliner di wilayah masing-masing.

”Kalau mereka nyaman kan pasti akan memperpanjang tinggal,” ungkapnya.

Esty pun mencontohkan Kemenpar memfasilitasi daerah dengan mendatangkan aktor-aktor profesional untuk mendukung acara atupun sarana dan prasarana. Seperti, penyelenggaraan festival Laskar Pelangi di Bangka Belitung, konser musik SLANK di Palu, Glowing Night Run di Sumatera Selatan, dan Lomba Perahu Naga di Kalimantan Timur.

Sedangkan, dari sisi edukasi, pihaknya pun melakukan acara seminar terkait mitologi gerhana matahari sebagai sarana edukasinya. ”Gabung bersama dengan teman-teman peneliti dan industri juga,” paparnya.

Tak hanya itu, pihaknya pun menyelenggarakan kontes lomba foto, video dan tulisan untuk semakin menyemarakan momen langka tersebut.

”Lomba ini terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia saja tanpa pungutan biaya,” ujarnya. Range waktu lombanya pun 1 Maret hingga 30 April 2016. Adapun lomba ini pun bekerjasama dengan Panorama Media.

Penilaian dalam lomba tersebut pun dilakukan oleh para pakar profesional di bidangnya. Seperti, Barry Kusuma selaku fotografer, Bambang Wijanarko dari Kemenpar, Febrian Nurrahman selaku videografer, Trinity selaku penulis buku dan Agus Ryan dan Fransiska Anggraini dari Panorama Media.

”Ini juga mampu meningkatkan viral di media online dan mempromosikan wisata di Indonesia,” tuturnya.

Karya tersebut pun berkaitan dengan 12 provinsi yang dilewati oleh GMT. Yakni, Bengkulu, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimatan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan TImur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dam Maluku Utara.

Selain untuk mengabadikan GMT, Kementerian Pariwisata mengharapkan ajang ini mampu mempromosikan bentang alam dan budaya di Indonesia.

”Mendorong peserta untuk mengeksplorasi dan menyikapi kekayaan yang dimiliki Indonesia,” jelasnya. Hal ini sekaligus untuk mempromosikan pariwisata dalam negeri.

Estimasi pengunjung dari mancanegara pun cukup signifikan mencapai 100 ribu orang yang menikmati Gerhana Matahari maupun Gerhana Matahari Total. Sedangkan, wisatawan lokal mencapai 5 juta orang. Angka tersebut pun didapat dari perkiraan kunjungan setiap tahunnya dan ketetapan target kunjungan.

”Kalau yang menikmati total sekitar 10 ribu wisatawan mancanegara dan 500 wisatawan domestik,” tuturnya.

Sehingga, pihaknya pun memprediksi perkiraan anggaran pendapatan negara yang akan didapatkan sekitar 200 Milyar dan dari media value mencapai 400 Milyar.

”Media Value, menjadikan Indonesia sebagai viral dan perhatian dunia,” ungkapnya.

Harapannya dengan momen langka ini, target wisatawan hingga 2019 tercapai. Yakni, 20 juta wisatawan. ”Kita optimis sebelum 2019, mungkin 2018 sudah mampu mencapai angka tersebut,” tuturnya.

Lalu bagaimana cara melihat GMT suapaya aman? Berikut panduan yang bersumber dari langit selatan :

1. Bikin kamera pinhole melalui kardus bekas. Lakukan pengamatan dari proyeksi cahaya yang muncul di kertas putih.

2. Pengamatan tanpa modal, bisa berteduh di bawah pepohonan. Cahaya yang menembus sela dedaunan bisa menjadi sarana pengamatan. Di dokumentasikan juga bagus.

3. Beli film seluloid hitam putih, bukan film warna. Tarik filmnya keluar dan biarkan terpapar. Bawa ke tempat cuci film. Lantas, film yang tercuci tumpuk jadi dua sebelum digunakan untuk pengamatan.

4. Gunakan black polymer atau mylar ND5 dan bisa dikreasikan untuk membuat kacamata filter matahari. Kalau kesulitan mendapatkannya, coba hubungin komunitas astronomi di sekitar.

5. Tidak direkomendasikan menggunakan kaca mata las, atau kaca mata hitam, isi disket. Sebab, tidak bisa menyaring sinar ultra violet yang berbahaya

Cara Mendokumentasikan Gerhana Matahari:

1.    Gunakan kertas mylar atau black polymer ND5 sebagai filter lensa

2.    Untuk hasil maksimal, lebih baik menggunakan teleskop yang dihubungkan ke kamera

3.    Bagi pengguna kamera SLR, lebih baik tidak membidik lewat view finder

4.    Untuk kamera yang tidak dilengkapi filter, saat gerhana parsial jangan terlalu lama di arahkan ke matahari

5.    Pengguna kamera ponsel, bisa memanfaatkan gerhana matahari sebagai latar belakang panorama. Memotret langsung matahari hasilnya kurang maksimal karena terlalu kecil.

Tips hanya berlaku saat matahari masih nampak baik sebelum atau sesudah totalitas. Ketika totalitas atau bulan menutupi seluruh matahari, bisa menikmatii GMT secara langsung. (nur/jpg)

Respon Anda?

komentar