Izin Berobat, SDA Sempat Rapat Politik, KPK Akui Kecolongan

2480
Pesona Indonesia
Suryadharma Ali (SDA). Foto: istimewa
Suryadharma Ali (SDA). Foto: istimewa

batampos.co.id – Izin berobat yang diberikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada Suryadharma Ali (SDA), ternyata dimanfaatkan juga oleh SDA untuk rapat tentang politik di luar Rutan Cabang Pomdam Jaya Guntur.

Akibatnya, KPK pun dinilai kecolongan karena tak semestinya SDA diberi waktu rapat tentang politik diluar rutan.

Pimpinan KPK pun mengakui mereka kecolongan menyusul penyalahgunaan izin berobat mantan Menag itu.

Tak ingin hal seperti itu terulang, Wakil Ketua KPK La Ode M Syarief menyatakan pihaknya akan mengevaluasi aturan pengawalan tahanan sehingga izin keluar tidak dapat digunakan untuk kegiatan lain, termasuk rapat politik.

“Iya (kecolongan),” kata La Ode kepada JawaPos.com (grup batampos.co.id) saat dihubungi, Minggu (6/3/2016).

Menurut mantan lektor Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar itu, seorang tahanan yang meminta izin berobat tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan lain.

Sebab, pengawal tahanan (waltah) senantiasa mengawasi pengobatan yang dijalaninya tersebut.

Oleh karena itu, kata dia, KPK bakal berkoordinasi dengan pihak rutan Guntur untuk mengevaluasi kembali aturan pengawalan tahanan sehingga tak ada lagi waltah yang kecolongan dan mendapati tahanan menyalahgunakan izin.

“Aturannya tidak boleh. Makanya pengawalan tahanan harus dievaluasi juga,” ujar La Ode.

‎Pada 2 Maret 2016, SDA mengajukan izin berobat di RSPAD Gatot Subroto selama delapan jam. Dia mengaku akan menjalani fisioterapi untuk sakit punggung yang selama ini dideritanya.

Belakangan, SDA ketahuan menggelar rapat politik serta menandatangani SK Islah DPP PPP. Perbuatan ketua umum PPP Muktamar Bandung itu pun disorot pengurus partai berlambang Kakbah.

Pengurus DPP PPP mempertanyakan sistem pengawalan tahanan di KPK lantaran terdakwa korupsi dana haji di Kemenag itu menggunakan izin berobat untuk melakukan manuver politik. (put/jpg/nur)

Respon Anda?

komentar