606 Kilogram Buah Ilegal Asal Tiongkok Terindikasi Mengandung Telur Berbahaya, Dimusnahkan

787
Pesona Indonesia
Stok buah Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan buah untuk masyarakat. foto: beku subechi / jawa pos
Stok buah Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan buah untuk masyarakat.
foto: beku subechi / jawa pos

batampos.co.id – 606 kilogram (kg) buah ilegal asal Tiongkok masuk Indonesia. Buah yang berada di dalam 34 peti kemas itu tidak memiliki jaminan kesehatan itu langsung dimusnahkan dan dibakar. Pemusnahan itu karena mengandung telur lalat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, buah-buah ilegal tersebut tidak disertai surat jaminan kesehatan.

”Jika buah-buah impor ini masuk tanpa syarat kesehatan bisa teridikasi membawa telur, atau larva penyebab penyakit.” ujar Amran Sulaiman saat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Perak, sebagaimana dilansir Indopos, Senin (7/3).

Amran menyebutkan pengamanan terhadap buah impor itu saat petugas melakukan pengecekan surat-surat sebagaimana yang diatur pada Permentan No 42/2012 yang dapat menimbulkan penyakit baik bagi kesehatan manusia atau menimbulkan wabah penyakit tumbuhan.

Disebutkannya, penyitaan ini belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan oleh Jepang pada 2012, ketika itu ada jeruk asal Tiongkok membawa organisme penggangu tumbuhan dan menyebabkan gagal panen hingga mencapai 50 persen.

Menurutnya, penyitaan ratusan kg buah asal Tiongkok tersebut dilakukan karena mengandung bibit penyakit. Dari cara penanaman, hingga pengemasannya tidak memiliki standarisasi tanaman buah.

”Kami tidak mau meracuni masyarakat akan keberadaan buah ini,”katanya

Amran pun menjelaskan, stok buah Indonesia sebenar masih mampu memenuhi kebutuhan buah untuk masyarakat.

Apalagi kualitas buah lokal di tanah air tak kalah saing dengan buah impor.

”Masyarakat harus lebih mencintai buah lokal ketimbang mengkonsumsi buah impor,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Karantina, Kementan, Banun Hartini menambahkan, penahanan dan pemusnahan buah import ilegal sebanyak 609.986 buah merugikan negara sebesar Rp2,2 triliun.

Terhadap pelanggaran dikenakan pasal 5 No 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan dengan ancaman paling lama tiga tahun, dan denda Rp50 juta. (cok/iil/JPG)

Respon Anda?

komentar