Indonesia Masih Masuk Negara Layak Investasi

710
Pesona Indonesia
ilustrasi. Foto: dok.jpgrup
ilustrasi. Foto: dok.jpgrup

batampos.co.id – Upaya melakukan perbaikan ekonomi melalui paket kebijakan ekonomi yang digelontorkan berbuah manis. Indonesia akhirnya tetap masuk negara dengan kategori layak investasi.

Predikat itu dikeluarkan oleh lembaga rating internasional Standard & Poor’s (S&P) setelah melihaty fundamental ekonomi Indonesia berangsur membaik.

”Ada progres dan komitmen untuk menuju itu (investment grade),” Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo di Jakarta.

Agus menjelaskan, penilaian tersebut berdasarkan kondisi fundamental makro ekonomi dan kebijakan moneter serta fiskal. Dari sisi fiskal, ada peningkatan signifikan terhadap belanja modal dan pengeluaran pemerintah sejak awal tahun ini.

Sejalan dengan hal itu, subsidi yang tidak produktif pun telah dikurangi. Hal tersebut diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada tahun lalu.

Peluang tersebut akan makin terbuka lebar jika sektor swasta ikut mendorong peningkatan investasi. Penurunan bunga kredit single digit, lanjut dia, juga dapat mendorong terbukanya peluang investment grade.

”Diharapkan kuartal kedua dan ketiga tahun ini akan terlihat peningkatan investasi sektor swasta,” tambah Agus.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa peluang itu memiliki sejumlah catatan yang harus diperhatikan serius semua pihak, termasuk pemerintah. Di antaranya, adanya perbaikan pada aspek konstitusional, yaitu kepastian hukum.

Dia mendorong RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) segera disahkan sebagai salah satu bentuk kepastian.

Kini nasib RUU JPSK telah diajukan pemerintah ke DPR. Ke depan, fungsi RUU JPSK akan dijadikan dasar hukum untuk mengambil keputusan ketika ada ancaman krisis keuangan di Indonesia. ”Jadi, misalnya UU JPSK bisa segera terselesaikan, itu akan memberikan nilai tambah,” imbuhnya.

Indikator lain adalah capaian defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang juga menurun pada tahun lalu menjadi sekitar 2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tahun ini defisit transaksi berjalan mungkin lebih besar karena kenaikan impor bahan baku. Namun, Agus memproyeksikan defisit transaksi berjalan masih berada di bawah 2,7 persen.

Bukan hanya itu. Capaian inflasi tahun ini juga diprediksi bakal sesuai target yang mencapai 4 persen plus minus 1 persen. Dengan indikator-indikator yang menunjukkan perbaikan tersebut, sudah semestinya hal itu tidak menghalangi prospek ekonomi Indonesia yang lebih cerah ke depan. Karena itu, semestinya S&P dapat menaikkan rating Indonesia menjadi layak investasi.

”Brasil dan Tiongkok yang (rating-nya) downgrade. Kalau Indonesia bisa memperoleh upgrade (kenaikan rating), tentu suatu hal baik,” ujarnya.

Data menunjukkan bahwa kini sudah ada dua lembaga rating internasional yang memberikan peringkat layak investasi. Yaitu, Moody’s Investors Service dan Fitch Rating.

Bahkan, Januari lalu Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia, yaitu Baa3 dengan prospek stabil. Itu merupakan derajat (notch) terendah level investment grade yang sudah disematkan Moody’s sejak 18 Januari 2012.

Pada awal Januari 2012, Fitch memberikan peringkat BBB- dengan prospek stabil kepada Indonesia. Hal itu merupakan peringkat layak investasi pertama Indonesia dari Fitch dalam kurun 14 tahun terakhir. Namun, S&P hingga kini masih betah menaruh posisi Indonesia di bawah level layak investasi dengan peringkat BB+.

Fundamental Ekonomi Membaik

  1. Kurs         Rp 13.159/USD
  2. IHSG        4.850,88
  3. Inflasi       0,42 persen (ytd)
  4. BI rate      7 persen

(dee/c6/oki/jpnn)

Respon Anda?

komentar