Menyibak Jalan Ideal Pendidikan Anak TK

708
Pesona Indonesia

Sampai saat ini masih terdengar perbincangan serius. Bahkan perdebatan antara pihak sekolah dengan orangtua siswa mengenai definsi serta penerapan belajar di Taman Kanak-kanak dengan memberikan pelajaran calistung (Baca, Tulis dan Hitung). Alasannya sangat klise, anak TK tidak boleh ‘dibebani’ dengan target calistung. Argumennya, karena belajar di TK masih sebatas bermain dan bukan belajar formal.

Kita sudah tahu, pandangan selama ini Taman Kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di Taman Kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif.

Bahkan ada pandangan lebih ekstrim lagi, anak TK belum saatnya diajari calistung Karena akan membebani otaknya. Akibatnya, anak menjadi ‘alergi’ dengan pelajaran setelah duduk di bangku SD. Sebenarnya, biang persoalannya adalah perbedaan dalam mendefinisikan ‘arti belajar’. Belajar kerap diistilahkan mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi.
Karena yang menjadikan rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum adalah Teori psikologi perkembangan Jean Peaget. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun.

Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur. Sehingga dipandang tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK.
Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Jangankan ingin mencerdaskan anak, akhirnya malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka masuk SD.

Mengajarkan anak baca, tulis dan berhitung (calistung) sejak dini menurut para ahli, hal itu dapat merusak tatanan otak anak. Dalam artian ketika mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras. Anak yang berumur di bawah tujuh tahun atau sebelum masuk ke Sekolah Dasar (SD) seharusnya bisa membentuk garis lurus, menggaris, membentuk gambar bangun sederhana dan sebagainya.

Karena hanya digenjot belajar calistus sesuai dengan target evaluasi, akibatnya anak belum tentu bisa menggambar garis lurus. Anak memang bisa pintar karena bisa calistung sejak dini, tapi perilakunya tidak runtut dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal itu karena sirkuit di otaknya tidak ‘by order’. Anak tidak mengerti urutan. Calistung sah-sah saja diajarkan kepda anak usia TK, asal tidak menjadi evaluasi prestasi.

Namun, model belajar konvensional di TK malah menjadi persoalan sendiri bagi orangtua saat ini. Karena untuk masuk sekolah di SD favorit harus melalui tes seleksi. Standarisasi tesnya pun sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, tes kemampuan bahasa inggris. Bayangkan, bagi anak yang ketika di TK belum dipelajari calistung, pasti tidak bisa mengerjakan tes.

Bagi anak yang sudah dikenalkan calistung sejak dini, ada dua kemungkinan. Pertama, bisa calistung karena mengerti caranya dan kedua, anak tersebut bisa karena menghafalkan caranya. Salah kaprah pandangan orang tua itu disebabkan oleh cara menilai prestasi anak dari dilihat dari akademik dan melupakan prestasi non akademik.

Akibat dari salah pemahaman tersebut, saat ini di sejumlah kota besar di Tanah Air marak muncul kursus les membaca yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masuk dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Persoalan ini menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Awalnya memang pelajaran baca tulis mulai diajarkan pada tingkat pendidikan SD. Pada perkembangan terakhir, hal itu menimbulkan sedikit masalah. Ini sangat realitistis, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung.

Rata-rata materi pelajaran kelas satu sudah diajarkan soal cerita, mengarang. Juga membuat analisa sederhana dari sebuah peristiwa. Apalagi bagi sekolah yang mematok target prestasi menuju sekolah bertaraf internasional.

Bisa dibayangkan, agak sulit mencapai target tersebut jika seleksi awal tidak memenuihi standar. Sekali pun kurikuklum dan metode belajarnya bagus, guru-gurunya berkualitas, dan infastrukturnya lengkap namun inputnya lemah, maka akan kesulitan menghasilkan output sesuai dengan standar.
Akhirnya bisa dipahami jika muncul kekhawatiran para orang tua. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak naik kelas”, “tidak lulus”, kini semakin mencemaskan. Sebab akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak kalau akhirnya harus mengulang kelas.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Mau tak mau sekolah-sekolah TK harus berani melakukan inovasi metode belajar. Hingga akhirnya, metode belajar pakem yang konotasinya anak TK hanya belajar bernyanyi dan bermain lambat laun dinilai tidak efektif lagi.

Beberapa anak mungkin berhasil menguasainya, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan. Oleh karena itu, wajar jika sekolah TK jika ingin maju harus terus berani dan cerdas melakukan pengembangan. Termasuk menerapkan belajar calistung.

Bagaimana jika anak yang usianya sudah memasuki wajib belajar namun belum bisa membaca?
Jangan khawatir. Beberapa literatur menunjukan, bahwa tidak ada jaminan anak yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat. Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Tentu saja mereka tidak bisa menjadi patokan mutlak.
Di buku Right Brained Children in a Left Brained World disebutkan, tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca. Anak-anak di Rusia misalnya, baru membaca di usia 7 tahun, tapi mereka cerdas-cerdas.

Melihat realitas seperti itu, tentu harus disikapi dengan bijak. Setiap pertemuan dengan guru dan Kepala TK pihak Dinas Pendidikan agar diberi pemahaman agar tidak menjadikan calistung sebagai evaluasi prestasi bagi anak TK. Kita sebagai orang dewasa mari memahami tugas-tugas perkembangan anak, baik secara emosi maupun intelegensi, dengan tidak merusak masa-masa usia emas mereka.***

Mahmud-Syaltut

Respon Anda?

komentar