Penyesalan Terdalam Karin, Perlakukan Suami bak Pembantu

933
Pesona Indonesia

 

ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Karin, 45, merasa hidupnya terkekang karena pernikahan perjodohan dengan Donwori, 50, 15 tahun silam. Dia pun merasa bahwa rumah tangganya selama itu tak pernah bahagia. Maka dia pun memperlakukan suami seperti babu. Disuruh ke sana dan ke mari.

“Saya masih ingat. Saya memperlakukan suami dengan sangat tidak terhormat,” kata Karin di sela-sela kepengurusan warisan di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Jalan Ketintang Madya, Jumat (4/3).

Tampil berbusana muslim, Karin tampak anggun dengan wajah cantik. Meski sudah ditinggal meninggal tujuh tahun lamanya, Karin masih sangat terawat. Dia pun masih pantas menikah lagi. Dia mantan model. Pastinya banyak pria yang ngebet untuk menikahinya.

Sayangnya, hingga saat ini dia tak ingin menikah lagi.

“Saya cuma ingin merawat anak-anak,” katanya seperti yang diansir Radar Surabaya, Minggu (6/3).

Seakan menaruh penyesalan, Karin menjelaskan dia tak ingin pernah melupakan wajah suaminya.

Bahkan, dia merasa hingga kini Donwori masih menemaninya di saat-saat dia susah menghadapi persoalan hidup.

Padahal, dulu saat suaminya masih hidup, selalu diisi dengan pertengkaran. Karin selalu menuduh suaminya selingkuh atau kadang menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, merawat anak dan lainnya.

Bak ratu dalam rumah, Karin hanya menyuruh ini itu. Kalau kesal, Karin kadang menyuruh almarhum suaminya tidur di teras.

Perlakuan yang demikian tak pernah dibalas oleh Donwori. Karin pun merasa bangga bila memperlakukan suami demikian karena merasa tak mencintainya.

Namun, sikap itu berubah menjadi penyesalan untuk selamanya. Waktu itu, Karin yang lagi asyik spa ketinggalan dompet di rumah.

Akhirnya, Karin marah dan menyuruh suaminya untuk mengambilnya di rumah. Padahal, waktu itu suaminya sedang bekerja.

Karena tergesa-gesa, suami pun naik mobil begitu kencang hingga terjadi terjadi kecelakaan yang membuatnya meninggal seketika.

“Saya terima telepon kalau suami meninggal, begitu tak percaya. Saya stres banget,” kata Karin.

Saking shock-nya, Karin sampai tak keluar rumah empat bulan lebih. Dia baru sadar dan harus berjuang sendiri, ketika kedua anaknya yang masih sangat kecil menangis dan meminta dia tak bersedih lagi.

“Saya tidak boleh sedih lagi. Saya harus bekerja untuk masa depan anak-anak,” kata warga Keputih tersebut.

Dengan modal S1 dan tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali, Karin pun menjual perhiasannya untuk membuka butik di rumahnya.

“Awalnya sering rugi. Lha selama ini suami yang kerja dan bisnis. Kolaps benar,” kata Karin.

Suaminya waktu itu bekerja sebagai kontraktor dan bisnis properti. Waktu berjalan. Kesendirian dan perjuangannya untuk bertahan akhirnya membawa berkah. Butik kecilnya kini kian besar.

Karin memang memiliki keahlian di dunia desainer dan juga menjahit. Seakan mendapatkan durian jatuh dari pohonnya, awal Januari 2016 lalu, seorang pengacara datang ke rumahnya.

Dia menyerahkan surat wasiat dan beberapa sertifikat warisan beberapa rumah dan tanah di Pasuruan atas namanya. Karin pun shock lagi. Tapi, kali ini shock yang luar biasa. Antara menyesal, sedih, terharu.

“Seperti tahu dulu sebelum meninggal, suami memberikan wasiat kalau harta warisan itu memang untuk dia dan anak-anak,” jelas Karin dengan mata berkaca-kaca.

Dalam surat warisan itu, suaminya meminta Karin menjaga anak dan menyekolahkannya ke luar negeri.

“Pengacara baru memberi tahu karena emang tahun ini anak-anak harus melanjutkan sekolah. Saya tidak menyangka suami saya bisa sangat perhatian sama kami,” kata Karin menangis tersedu-sedu. (Umi Hany Akasah, Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar