Ini Alasan ATB Batam Enggan Jajaki SWRO (1)

Tarif Air Bisa Lima Kali Lipat Lebih Mahal

1081
Pesona Indonesia
Intake ATB di Dam Duriangkang.  SWRO yang tidak ekonomis, membuat ATB tetap memilih memanfaatkan air baku dari lima dam tadah hujan untuk diolah sebagai air bersih.
Intake ATB di Dam Duriangkang. SWRO yang tidak ekonomis, membuat ATB tetap memilih memanfaatkan air baku dari lima dam tadah hujan untuk diolah sebagai air bersih.

Batam sedikit berbeda dengan kota lain di Indonesia. Untuk urusan air, Batam hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air baku yang nantinya diolah menjadi air bersih dan didistribusikan kepada pelanggan.  Tak ada mata air.

Akibatnya, saat curah hujan menurun signifikan, air baku di dam otomatis berkurang secara drastis. Hal tersebut seperti yang terjadi pada 2015 lalu saat El Nino melanda kota yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa tersebut. PT. Adhya Tirta Batam (ATB) selaku pengelola air bersih di Pulau Batam bahkan terpaksa harus melakukan penggiliran suplai air (water rationing) agar air baku di Batam cukup hingga El Nino berlalu.

“Saat El Nino melanda Batam, beberapa pelanggan sempat ada yang menyarankan agar ATB memanfaatkan air laut untuk diolah sebagai air bersih. Apalagi Batam merupakan daerah pesisir yang tidak akan kekurangan air bila memanfaatkan air laut,” ungkap Corporate Communication Manager ATB Enriqo Moreno.

Ia menegaskan, mengolah air laut menjadi air bersih sangat memungkinkan untuk dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Air limbah saja bisa diolah menjadi air minum, apalagi air laut. Hanya saja, ada beberapa konsekuensi apabila kita mengolah air laut menjadi air layak konsumsi.

“Salah satunya adalah konsekuensi biaya yang tidak murah untuk membangun instalasi pengolahan. Sebagai contoh adalah pengolahan air laut menjadi air tawar di Tanjung Pinang. Untuk membangun instalasi pengolahan berkapasitas 50 liter/detik membutuhkan biaya hingga Rp50 miliar. Bila Batam membangun instalasi untuk 3.610 liter/detik berapa biaya yang harus dikeluarkan?,” tegas Enriqo.

Ia menegaskan, besarnya biaya untuk membangun instalasi pengolahan air, nantinya pasti akan berpengaruh terhadap tarif air kepada pelanggan. Saat ini tarif air ATB untuk Kategori Domestik adalah Rp3.500/m3, nanti setelah mengolah air laut tarif air pasti akan lebih tinggi dari saat ini.

“Apakah pelanggan rumah tangga siap membayar tarif air dengan harga lebih tinggi dibanding saat ini? Hal tersebut seperti yang akan dilakukan di Kota Tanjung Pinang. Ibukota Provinsi Kepri sudah membangun Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan melalui beberapa media sudah mencanangkan akan menjual air olahan SWRO Rp19.500/m3, atau lima kali lipat lebih tinggi dibanding tarif domestik ATB saat ini,” terangnya.

Enriqo melanjutkan, saat ini mengolah air laut menjadi air layak konsumsi belum ekonomis. Perusahaan air minum terbaik di Indonesia tersebut masih memilih untuk mengolah air hujan menjadi air bersih. Apalagi bila pola konsumsi pelanggan sama seperti saat ini, cadangan air baku yang ditampung di lima dam diperkirakan masih cukup untuk dua tahun kedepan.

“Jika Dam Tembesi beroperasi tahun depan, akan ada tambahan cadangan air baku. Saat ini cadangan air baku di Batam 3.850 liter/detik, setelah Dam Tembesi beroperasi, diharapkan cadangan air baku di Batam menjadi 4.450 liter/detik. Bila cadangan air baku bertambah dan penggunaan air di Batam sama seperti pola konsumsi saat ini,  air baku di Batam akan cukup hingga tahun 2022. Dengan kata lain, bila jumlah penduduk bertambah tanpa menambah jumlah air baku, kenyamanan penggunaan air akan mulai terganggu pada tahun 2023,
tutupnya. (*)

Respon Anda?

komentar