Illegal Logging Sebabkan Debit Air di Tiga Waduk di Pulau Bintan Menurun

443
Pesona Indonesia
Waduk Sei Jago, Bintan. foto:dok
Waduk Sei Jago, Bintan. foto:dok

batampos.co.id – Debit air di tiga waduk di Pulau Bintan mengalami penurunan. Kepastian ini diperoleh dari hasil kajian yang dilakukan Tim Satuan Kerja (Satker) Balai Wilayah Sungai Sumatera IV. Waduk yang mengalami penyusutan yakni Waduk Sei Jago, Sei Gesek dan Kolong Enam. Pengujian yang dilakukan dari Februari-Maret 2016, didapati debit air yang tersedia mengalami penurunan setiap jamnya. Disebabkan banyaknya pembalakan hutan secara ilegal. Sehingga tali air yang membantu pasokan air ke waduk tersebut tertutup atau mulai musnah.

”Aliran-aliran parit atau tali air yang membantu pasokan air bersih ke waduk dari lingkungan sekitar hutan lindung tertutup akibat maraknya illegal logging,” ujar Perwakilan Satker Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Muri, Rabu (9/3).

Agar ketersediaan air tetap terjaga dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Bintan. Tiga waduk ini harus dilakukan tata kelola dengan baik melalui pembangunan penyangganya baik dari sumber mata airnya yang berasal dari hutan sekitar hingga berbagai infrastruktur pendukungnya. Namun pihaknya akan melakukan kajian lapangan secara mendalam dan mengumpulkan berbagai data dari masyarakat terlebih dahulu. Karena lokasi setiap waduk memiliki berbagai perbedaan baik luasnya maupun kadar tanahnya sehingga pola pembangunannya harus disesuaikan.

Pembangunan kawasan penyangga di waduk atau sering disebut sabuk hijau ini, lanjutnya akan dilaksanaakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jendral (Dirjen) Sumber Daya Air melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 dengan besaran miliaran rupiah.

”Tiga waduk ini akan dibangun sabuk hijau. Semua ini harus dilakukan dan waduk juga harus ditata kembali agar ketersediaan air tetap terjaga baik di musim kemarau melanda. Sehingga masyarakat Bintan tidak akan merasa kekurangan pasokan air sepanjang waktu,” katanya.

Konsultan dari PT Rahma Seta Indonesia, Indrias, mengatakan pihaknya harus melakukan diskusi dengan masyarakat terlebih dahulu. Dengan data yang diperoleh dari masyarakat inilah yang dipergunakannya untuk menyusun dokumen perencanaan studi konservasi daerah untuk pembangunan sabuk hijau di tiga waduk Bintan.

”Data dari masyarakat ini akan disinkronkan dengan data lapangan terhadap studi konservasi kawasan waduk. Dengan data ini baru bisa diketahui pembangunan sabuk hijau yang tepat untuk setiap waduk,” akunya.

Dari studinya, tiga waduk memiliki perbedaan. Jadi perbedaan yang ada itulah menjadi titik fokus yang kembali dikajinya untuk disusun dalam dokumen perencanaan. Hasilnya, sesuai dengan perencanaan setiap waduk akan dibangun sabuk hijau yang berbeda. Namun tujuannya sama, untuk meningkatkan ketersediaan air. “Kami membangun sabuk hijau sesuai dengan kebutuhan waduk-waduk tersebut,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar