Tanjung Buton Jadi Spot Menyaksikan GMT, Warga Daik Padati Taman

305
Pesona Indonesia
Warga Daik Lingga menyaksikan gerhana matahari di Tanjung Buton. foto:hasbi/batampos
Warga Daik Lingga menyaksikan gerhana matahari di Tanjung Buton. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Antusiasme masyarakat Daik Lingga menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total (GMT), meski hanya bisa disaksikan sebagian di langit Kabupaten Lingga, sangat tinggi. Mereka memadati taman Tanjung Buton. Ratusan warga berkumpul sejak pukul 06.00 WIB pagi. Lokasi yang dapat ditempuh hanya 15 menit dari Daik, ibukota kabupaten ini menjadi salah satu spot terbaik mengabadikan fenomena langka yang hanya terjadi 350 tahun sekali.

Pulau Lingga, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepri yang dilewati garis nol khastulistiwa atau ekuator. Sehingga jelas, fenomena ini dapat disaksikan. Ditambah lagi cuaca langit yang begitu cerah, memungkinkan sekali melihat detik-detik bulan menutupi garis lingkar matahari. Gerhana yang mulai berlangsung sekitar pukul 06.22 WIB ini puncaknya pada pukul 07.22 WIB dengan jelas terlihat dan berakhir pada pukul 08.00 WIB.

Hudhri, salah seorang penggiat fotografi dari komunitas Lingga Photography Community (LPC) bersama sejumlah rekan foto mengatakan, tak mau ketinggalan mengabadikan momen ini. Tanjung Buton dikatakannya adalah lokasi terbaik. Masalah pertama jelas soal akses yang mudah dicapai. Lokasi ini dikatakannya juga memiliki panorama yang luar biasa, dimana di sebelah timur terdapat Pulau Kelombok, arah matahari terbit. Sedangkan di selatan, adalah desa wisata Pulau Mepar, sedangkan di sebelah barat terbentang Gunung Daik yang dikelililingi laut sementara sebelah utara Taman Tanjung Buton.

“Jelas kita tidak mau ketinggalan momen ini. Walaupun Kepri khususnya Lingga tidak disebutkan salah satu dari 12 provinsi yang di lewati GMT, dengan foto yang kita ambil kemudian akan kita publikasikan dan yakinkan orang-orang fenomena langka ini, juga dapat dinikmati di Kepri,” kata Hudri yang mengaku sejak pukul 06.00 WIB pagi telah sampai di pulau Tanjung Buton mencari posisi terbaik dan aman mengabadikan momen tersebut dengan kamera profesionalnya, Rabu (9/3).

Selain Hudri, sejumlah awak media maupun warga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memanfaatkan momen tersebut untuk menyaksikan secara langsung. Dengan peralatan seadanya, karena sulit mencari kacamata khusus ND kacamata las, film rontgen maupun klise foto digunakan warga melihat gerhana.

Sementara itu, warga di Daik memanfaatakan momen tersebut juga menggelar salat gerhana berjamaah. Masjid Sultan Mahmud Jami’ Lingga dan Masjid Kampung Sawah Indah digunakan warga melaksanakan slata Khusufi atau salat gerhana matahari.

“Di masjid ada juga yang menggelar salat berjamaah. Menjadi perjalanan religi bagi warga momen ini. Namun tradisi-tradisi lama di bunyikannya keketuk, bedug dan gong sudah tidak lagi ada sebab tekhnologi mungkin sudah canggih. Jadi orang-orang sudah mengetahui hal ini dari media masa,” beber Hudri.(mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar