Ini Alasan ATB Batam Enggan Jajaki SWRO (3)

Bahkan Singapura pun Andalkan Air Baku Alami

736
Pesona Indonesia
Air baku Dam Duriangkang diolah untuk memenuhi 70 persen kebutuhan air bersih di Batam.
Air baku Dam Duriangkang diolah untuk memenuhi 70 persen kebutuhan air bersih di Batam.

Warga Batam tak asing dengan Singapura, boleh dibilang mayoritas warga Batam pernah ke Singapura, bahkan mengenal baik. Tak heran mereka mampu membandingkan kualitas air di sana dengan di Batam.

Beberapa orang menyarankan agar PT Adhya Tirta Batam (ATB), selaku operator air bersih, di Batam, mulai memanfaatkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Apalagi Batam merupakan daerah pesisir yang kaya akan air laut dan hanya mengandalkan air hujan sebagai satu-satunya air baku yang akan diolah sebagai air bersih. Masyarakat berpendapat, bila ATB mulai menyuling air laut untuk dijadikan air bersih, Batam tidak lagi terlalu tergantung dengan air hujan.

“Ada beberapa konsekuensi bila kita menyuling air laut untuk dijadikan sebagai air minum. Pertama adalah konsekuensi biaya yang tidak murah untuk membangun instalasi pengolahan air. Investasi IPA yang memerlukan biaya tidak sedikit nantinya akan berimbas pada harga jual air yang lebih mahal berlipat-lipat dari saat ini. Belum lagi kandungan SWRO yang tidak memiliki mineral yang diperlukan oleh tubuh,” jelas Corporate Communication Manager ATB Enriqo Moreno.

Ia melanjutkan, Singapura saja yang memiliki dana tidak terbatas untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi tetap memilih mengambil air baku dari Johor, Malaysia. Air sulingan dari laut tetap mereka gunakan, namun sifatnya hanya cadangan, bukan sebagai konsumsi utama.

“Karena air olahan SWRO kurang eknomis, pemerintah sebaiknya mulai memikirkan untuk membangun dam baru atau mengambil cadangan air baku dari daerah lain. Sebenarnya, dengan tambahan Dam Tembesi yang berkapasitas 600 liter/detik, Batam akan memiliki sumber air baku sebanyak 4.450 liter/detik. Kebocoran air ATB saat ini sekitar 15 % hingga 16%. Itu berarti ATB hanya menggunakan air 3.100 hingga 3.200 liter/detik. Bila penggunaan air di Kota Batam sama seperti pola konsumsi saat ini. Air baku di Kota Batam cukup hingga tujuh tahun ke depan. Dengan kata lain, bila jumlah penduduk bertambah tanpa menambah jumlah air baku, kenyamanan penggunaan air akan mulai terganggu pada tahun 2023,” tegasnya. (*)

Respon Anda?

komentar