Farah Wardani, Kurator Indonesia yang Berkiprah di National Gallery Singapore

716
Pesona Indonesia
Art Historian dan assisted director National Gallery Singapore Farah Wardani, seat berkunjung bread di Ubud, Bali, Minggu (6/3/2016). foto: Dian Wahyudi/jawapos
Art Historian dan assisted director National Gallery Singapore Farah Wardani, saat berkunjung ke bread di Ubud, Bali, Minggu (6/3/2016). foto: Dian Wahyudi/jawapos

Ilmu, pengetahuan, dan pengalaman Farah Wardani mengantarkannya ke salah satu posisi penting di National Gallery Singapore. Berusaha mengawinkan kultur seni rupa Indonesia dengan Singapura.

WANGI kopi yang sedang diseduh lamat-lamat tercium mengisi udara. Dari sudut Sika Gallery tempat aroma itu berasal, sejumlah pelaku seni tengah meriung santai.

Farah Wardani ada di antara mereka pada Minggu petang lalu (6/3/2016) itu. Berbincang hangat tentang berbagai hal. Mulai rencana gelaran sampai rasan-rasan tentang menyeruaknya diskursus soal lukisan palsu. Kendati beberapa kali bising sepeda motor yang melintas di dekat galeri di Ubud, Bali, itu menginterupsi.

”Bisa nongkrong seperti ini ngangenin. Ini yang sulit saya temui dalam dunia seni rupa di Singapura,” tutur Farah.

Hari-hari Farah selama setahun terakhir memang lebih banyak dihabiskan di Singapura. Sebab, per 23 Maret 2015 dia resmi tergabung dengan National Gallery Singapore.

Di galeri yang ditopang pemerintah Singapura tersebut, Farah menjabat asisten direktur. Tanggung jawabnya besar. Membawahkan resource center department.

Farah harus bekerja dengan 16 kurator resmi yang juga direkrut dari sejumlah negara. Selain dari Singapura, para kurator itu, antara lain, berasal dari Australia, Filipina, dan Sri Lanka.

Tugas utama tim tersebut adalah melakukan riset dan pengembangan seputar seni rupa di Asia Tenggara. Galeri Nasional Singapura memang tak hanya mengkhususkan perhatian pada seni rupa lokal. Melainkan telah menancapkan tekad menjadi sentra seni rupa di kawasan Asia Tenggara.

”Bukan sebatas luasan dan jumlah koleksi karya. Tapi, juga berkaitan dengan informasi dan data yang dimiliki,” kata Farah.

Karena itu pula, meski baru diresmikan November tahun lalu, persiapan yang dilakukan sebelum benar-benar berdiri tidak main-main.

Selain dukungan dana triliunan rupiah, persiapan intensif telah dilakukan sekitar sepuluh tahun. Selain terkait infrastruktur, berbagai riset telah pula diadakan dalam rentang waktu tersebut.

Kepercayaan besar yang diterima perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1975, itu dari institusi negeri tetangga tersebut tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertai.

Lahir dan tumbuh dari keluarga yang tidak memiliki latar belakang seni atau budaya, Farah justru merasa seni rupa adalah dunianya. Kecenderungan itu makin kuat sejak dia lulus dari pendidikan S-1 jurusan desain grafis Universitas Trisakti, Jakarta, pada 1998.

Dia mulai banyak bersinggungan dengan berbagai komunitas seni. Sampai kemudian pada 2000 mendapat kesempatan beasiswa program master in art history dari Goldsmith College di London, Inggris.

Sepulang dari London, Farah semakin melebur ke dunia seni rupa. Dia sempat aktif di Ruangrupa Art Space, Jakarta, sekaligus mengajar di Universitas Paramadina.

Selain itu, jangkauan pergaulannya meluas. Dia intens bersinggungan dengan berbagai komunitas seni rupa di luar ibu kota. Terutama di Jogjakarta, kota yang memang dikenal sebagai gudangnya seniman.

Bahkan, sempat tebersit keinginan hijrah ke Kota Gudeg itu. Namun, karena pertimbangan kondisi kesehatan ibundanya, Nani Purwani, Farah memutuskan tetap berada di Jakarta.

”Akhirnya bolak-balik saja Jakarta-Jogja, meski ya nggak ngapa-ngapain juga sebenarnya. Nongkrong-nongkrong saja nggak jelas, makannya pun cukup nasi kucing hahaha,” kenangnya.

Saat itu Farah sebenarnya juga sudah mulai dikenal sebagai kurator independen. Sejumlah pameran sempat dikelolanya.

”Masih kurator dalam arti sempit sih, orang yang bikin-bikin pameran (seni rupa) begitu,” kata penulis buku Indonesian Women Artist: The Curtain Opens tersebut.

Hingga pada 2006 dia mendapat kontak dari Yayasan Seni Cemeti (YSC) di Jogjakarta. Farah diminta menyeriusi penyusunan arsip seputar seni rupa Indonesia.

”Awalnya sempat ragu juga meninggalkan Jakarta. Tapi, setelah saya sampaikan ke ibu, ternyata beliau justru mendukung,” ujarnya.

Dari situ, kemudian berdirilah Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Sebuah lembaga yang salah satunya memelopori pengadaan arsip digital pertama seni kotemporer Indonesia. Farah duduk sebagai direktur eksekutif, jabatan yang dipegangnya sampai sekarang.

Di antara sekitar 16 juta item data yang berhasil dikumpulkan, 11 ribu sudah di-online-database-kan. Mulai dokumentasi foto, rekaman audio visual, event seni, portofolio seniman, sampai koleksi video.

”Tiga tahun pertama, susah banget. Tapi, kami di IVAA sudah bertekad bahwa upaya pengarsipan harus jalan karena sangat penting,” lanjut Farah.

Konsistensi Farah dan para koleganya di IVAA itu berbuah. Lembaga tersebut sering menjadi jujukan mereka yang hendak mengetahui lebih dalam tentang seni rupa Indonesia.

Tak terkecuali para peneliti dari mancanegara. ”Salah satunya para kurator dari National Gallery (Singapore) yang ketika itu masih dalam proses persiapan. Jadi, saya sudah berhubungan lama dengan mereka,” imbuhnya.

Akhirnya, pada sekitar Oktober 2014, Farah diundang pimpinan National Gallery Singapore untuk bertemu di Singapura. Dia diajak bicara banyak hal bersama Direktur National Gallery Singapore Eugene Tan. Saat itu pulalah ajakan bergabung akhirnya kali pertama disampaikan.

Masa-masa awal setelah menerima tawaran bergabung di National Gallery Singapore adalah periode yang berat bagi Farah. Enam bulan pertama lebih banyak dihabiskan untuk adaptasi. Terutama berkaitan dengan pola kerja.

Maklum, di Singapura yang serbarapi itu, dunia seni rupa juga digarap seperti halnya korporasi. Semuanya formal. Standard operating procedure (SOP) pun diterapkan secara ketat.

Para pelaku dan pekerjanya dituntut harus pula mengakrabi paper work dan sebangsanya ketika sedang mengerjakan proyek seni. ”Stres, sudah pasti. Tapi, banyak pelajaran yang sangat berharga, suatu saat saya ingin bawa pulang (ke Indonesia, Red),” katanya.

Kultur yang ditemui di Singapura itu sangat berbeda dengan yang biasa dia alami dalam pergaulan seni rupa di tanah air. Di sini, dunia seni rupa lebih banyak disentuh dengan pendekatan komunitas.

Sistem kekeluargaan dengan ikatan yang longgar lebih banyak diterapkan ketika mengerjakan proyek-proyek seni. ”Jadi, kalau ada sedikit-sedikit korupsi, umumnya masih bisa ditoleransi lah hahaha,” kata Farah.

Meski demikian, dia menggarisbawahi, model ala Indonesia tersebut tidak sepenuhnya salah. Sebab, ada hal positif yang otomatis muncul. Dengan ikatan yang longgar, karya-karya yang tercipta umumnya akan lebih kreatif.

”Sebab, ada passion-nya. Walau kalau sudah ngomong manajemen mesti ambyar,” tuturnya, kembali tergelak.

Atas dua kontras tersebut, Farah menganggap yang paling ideal adalah mengawinkannya. Bisa lebih terstruktur rapi, tanpa individu di dalamnya menjadi kayak robot. Melainkan tetap punya gairah yang meluap-luap.

”Sampai sekarang saya belum tahu jawabannya. Sedang saya cari terus sambil jalan,” katanya.

Seraya masih dalam proses pencarian itu, Farah terus menjalin kontak dengan sejumlah komunitas seni rupa tanah air. Tiap kali pulang atau berkunjung ke Indonesia, sedapatnya dia berusaha mampir ke para sahabat dan kolega.

Misalnya, yang dilakukannya di Bali pada Minggu petang pekan lalu itu. Dia berkunjung ke Sika Gallery, menemui para sahabat yang hangat menyambut. Para sahabat langsung datang begitu tahu Farah akan datang.

Tanpa undangan, tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari. ”Dia (Farah, Red) ini sudah saya anggap seperti anak sendiri,” kata Wayan Sika, pemilik galeri. (DIAN WAHYUDI/jpgrup)

Respon Anda?

komentar