Ketika Gerhana Mampir di Batam

Oleh: Husnizar Hood

741
Pesona Indonesia

“Kenapa Mud, awak menunggu gerhana lewat ? gerhana tak lewat di sini”, sergah saya kepada Mahmud. Kawan saya itu serta merta menoleh, untung dia tak terkejut kalau dia terkejut bisa fatal jadinya. Saya katakan kepada Mahmud hal itu karena sejak usai solat Subuh tadi saya lihat kawan saya itu wajahnya terus menerus mendongak ke langit dengan kacamata gelapnya. Saya memang agak menjauh darinya  karena balkon lantai 17 hotel berbintang di Batam itu kalau kita lihat ke bawah membuat gerun juga hati saya ini.

Mahmud terkekeh, “Awak takut berada diketinggian ya?”, Mahmud terkekeh lagi dan semakin di ujung semakin kuat kekehnya. “Macamana awak nak jadi orang hebat, berada posisi yang tinggi saja awak takut, tak dapatlah awak posisi yang tinggi yang diperebutkan banyak orang tu”, Mahmud menggurau saya.

Kawan saya yang satu ini sebenarnya sudah tau lama kalau saya itu memang takut berada di ketinggian, menurutnya itu sejenis phobia atau trauma atau juga penyakit, entahlah, kadang Mahmud itu lagaknya bagai dokter saja tau segala penyakit, sayapun tak pernah memeriksanya atau berkonsultasi ke dokter misalnya, malu juga, takkanlah laki-laki takut  berada di ketinggian, laki-laki itu harus pemberani.

Bagi saya bagaimana saya yang penting bagaimana bisa menghindar melihat ke bawah dari ketinggian itu saja yang saya jaga, jika tidak alamat telapak tangan berkeringat, jantung berdebar, rasanya ingin terjun dan melayang. Aduhai indahnya. Mual.

“Huh..”, tak ada hubungan takut dengan ketinggian dan berada pada posisi jabatan yang tinggi, Mud, awak merapek, tapi ambil sisi hikmahnya saja kalau kita berada pada posisi yang tinggi jikalau jatuh bekecai badan kita, terasa sakitnya dan mungkin tamat makanya ketika berada posisi yang tinggi kita harus berhati-hati”, itu nasehat saya pada Mahmud. Kawan saya yang satu ini mencibirkan mulutnya sambil kembali mendongak ke langit, di langit mulai datang benderang.

Hanya kota-kota tertentu saya yang dilintasi gerhana matahari ini Mud, salah satunya itu di Pangkal Pinang Provinsi Bangka Belitung sana, alangkah beruntungnya orang rumah saya yang kebetulan sedang berada disana,  Insha Allah dia dapat menyaksikan secara langsung peristiwa penting alam fenomena ini, menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan merasakan nuansa sensasi sambil memuji kebesaran kuasa Illahi.

“Bangka Belitung itu punya romantisme sejarah dengan negeri kita ini Tok, dulu ada gagasan mendirikan kawasan namanya Baberi atau Bangka Belitung Riau, kemudian antara Karimun dan Singkep yang bertaut erat dengan Bangka di zaman kejayaan Timahnya. Lalu perjuangan pembentukan provinsinya juga kita waktunya sama meskipun Bangka Belitung lebih dulu di sahkan dibandingkan kita yang bertelagah berdarah-darah”, Kawan saya Mahmud bercerita. “Tapi gerhana melewati Bangka dia tak mampir di Batam”, tambahnya lagi dengan sedih.

“Sebentar lagi kita bisa menyaksikannya juga Mud, walau tak setotal dilintasan gerhana seperti yang akan lewat di Bangka itu”, ujar saya. Mahmud menganggukkan kepalanya dia nampak gelisah karena waktu berjalan terus dengan cepat sementara dia belum melihat apa-apa hanya silau yang ia dapatkan, ia menyipitkan matanya setiap membuka kacamatanya mungkin matanya letih.

Dalam hati saya sebenarnya kami inipun letih juga, kemarin kami ke Jakarta diajak kawan-kawan untuk bertukar pikiran tentang Dana Bagi Hasil Migas yang kita dapatkan, alamak, terasa malu mendengarnya, kita bangga dengan cadangan minyak dan Gas kita di Natuna dan Anambas luar biasa besarnya kenapalah hasilnya yang diterima oleh negeri ini semakin hari semakin terasa gelap bagai sedang dilanda gerhana juga, “Gerhana Cinta Luka”, seru Mahmud. “Itu lagu grup band negeri jiran”, balas saya.

Saya masih ingat betul bagaimana kawan saya Mahmud memainkan jari jemarinya ketika dia bicara dalam kami berdiskusi soal dana bagi hasil itu, yang jauh menurun pada tahun ini yang akan kita terima, gaya Mahmud memainkan jari jemarinya itu mengingatkan saya bagaimana pengacara Hotman Paris Hutapea sedang berbicara.

Mahmud kawan saya itu mamang pandai berbicara, itu akting katanya, kalau pengacara kondang itu bicara meainkan jari jemarinya itu sambil menunjukkan harta yang melekat di jari dan tangannya, bagi Mahmud cukuplan ia ingin menunjukkan batu akiknya saja. Batu akik warisan. Meskipun musim batu sudah berlalu tetap saja kawan saya itu banga dengan batu yang dipakai sebagi cincinnya.

“Kalau begini terus menerus keadaan bangsa ini rasanya kami tak sanggup lagi menerima tawaran Batam itu menjadi kecamatan saja Bapak-bapak dan Ibu-ibu…”, ujar Mahmud ketus sambil memainkan jarinya layaknya seorang pengacara. Saya terkesiap mendengarnya, yang lain dalam rapat itupun terkesiap juga. Lintasan memori saya dengan cepat melwati garis lurus ke masa lalu, ketika masa sekolah dulu, tak pernah kami mendengar nama Batam yang ada hanya Sambu dan Belakang Padang saja.

Ah, ada-ada saja kawan saya Mahmud itu, Batam yang sudah metropolis ini kenapa hendak dijadikan sebagai kecamatan lagi, meskinya ia harus menawarkan yang lebih tinggi, menjadi Provinsi Khusus misalnya. Provinsi Daerah Istimewa Batam.

Ya, Batam itu layak, ia disebut-sebut sebagai penyangga ekonomi kawasan Barat merupakan pintu gerbang Indonesia dari Negara-negara yang berada disemenanjung dan Singapura yang jaraknya masih bisa kita jangkau dengan mata sambil menikmati gemerlap lampu warna-warninya setiap malam. Kalau Batam jadi kecamatan terus mau jadi apa Batam nantinya. Mahmud gila.

Mengapa kawan saya mengatakan itu? mungkin Mahmud sedang dilanda gelisah karena pengendali Batam itu kini diambil alih lagi oleh pemerintah pusat lagi, kembali seperti ketika masa Otorita Batam dulu, Batam yang otoriter, Batam yang tak mendengar teriakan orang Nongsa, Tanjung Uma, Batu Besar dan juga Bengkong serta banyak kampung-kampung tua lainnya.

“Ini semua gerhana Tok”, teriak Mahmud. Sayapun bergegas mendekat ke arah pagar balkon lantai 17 Hotel bernintang itu. Tidak sedetikpun melihat ke bawah karena bisa membuat saya muntah. Saya menggunakan kacamata hitam juga. Mendongak ke atas.

“Hanya sekerat matahari yang lekuk ditutup rembulan, hanya sekerat harapan hati yang ditakluk nafsu keserakahan”, suara Mahmud terdengar pelan.  Saya tak melihat apa-apa. Hanya gelap dan silau yang sulit saya membedakannya. Mungkin seperti Batam yang sekarang kita sulit untuk kita jawab bentuknya, gelap atau menyilaukankah nanti? Entahlah.

Dalam mencari gerhana itu saya takanyakan pada Mahmud darimana ide gilanya untuk menjadikan Batam ini ke kecamatan lagi? Kawan saya itu dengan lantang bersuara, kita terima saja Batam menjadi Kecamatan dari Singapura. Saya hampir terlompat mendengarnya. Dan saya rasakan benar gerhana itu memang benar-benar ada di atas kepala saya.

Respon Anda?

komentar