Waspada! Moncong Senjata di Ring 1

497
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Kasus penembakan istri yang dilakukan oknum Brigade Mobil (Brimob) di Bekasi, menjadi catatan buruk perdana kepolisian tahun 2016 di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Kasus tersebut mencoreng wajah korps kepolisian. Apalagi, peristiwa itu terjadi di tengah upaya mengembalikan citra positif polisian.

Miris. Disaat polisi tengah gencar mengkampanyekan pukul mundur kejahatan (Turn Back Crime), peristiwa kejahatan justru datang dari internal kepolisian. Tak tanggung-tanggung, korban kejahatannya adalah orang terdekat. Istri, anak atau kerabat.

“Senjata api yang sejatinya digunakan untuk melumpuhkan pelaku kejahatan, kini moncongnya semakin dekat dengan orang-orang terdekat (ring 1),” ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane kemarin, Sabtu (12/3/2016).

Menurutnya, ada gejala psikologis yang harusnya dicermati. Sebab, mudahnya petugas keamanan menyelesaikan masalah dengan melepaskan timah panas, menunjukan ada perubahan psikologis pada diri pemegang senjata. Apalagi pelurunya justru menyasar orang terdekat.

“Istri itu kan orang terdekat. Kalau dia sampai menembak, tentu ada gejala kejiwaan sebelumnya. Lalu terakumulasi sampai melakukan yang diluar batas kemanusiaan. Yang pasti ini memprihatinkan,” katanya.

Peristiwa di Bekasi itu juga mengundang tanya. Khususnya soal efektifitas ujian psikologis saat rekrutmen calon polisi. Menurut Neta-sapaan akrabnya- peristiwa penembakan istri oleh oknum Brimob sepatutnya menjadi momentum evaluasi pihak kepolisian. Evaluasi itu harus dilakukan menyeluruh. Mulai dari perekrutan maupun setelah jadi Polisi.

Pihaknya sudah berkali-kali menyampaikan usulan itu. Salah satunya agar materi tes psikologi diperbaiki atau di sempurnakan.

“Nah, ini masalahnya. Selama ini setelah jadi polisi, nggak ada lagi pembinaan psikologis. Padahal tekanan kerjanya tinggi. Apalagi Brimob,” ujarnya.

Dia mengatakan, penembakan istri oleh oknum di Bekasi itu tak bisa di teolerir. Itu merupakan kasus terkejam kedua setelah kasus mutilasi anak di Kalimantan beberapa waktu lalu. Keduanya melibatkan petugas yang sehari-harinya terbiasa dengan senjata.

“Dalam dua minggu saja, sudah dua kasus. Keduanya juga korbannya orang terdekat,” katanya.

Sementara itu, anggota Kompolnas Edi Saputra Hasibuan menambahkan, kasus oknum Brimob menembak istri lalu mencoba bunuh diri di Bekasi itu mencoreng citra Polri. Karena itu, harus kasus tersebut harus jadi bahan introspeksi kepolisian.

Dia mengatakan, apapun motif pelaku, penggunaan senjata dalam menyelesaikan masalah tidak tepat. Apalagi, semua anggota kepolisian tahu persis aturan penggunaannya.

“Introspeksi itu menjadi keharusan. Harus. Karena kasus semacam ini terua berulang,” ujarnya.

Disisi lain, psikolog Forensik Sarlito Wibowo justru berpandangan lain. Menurut dia, kasus penembakan di Bekasi, bisa terjadi pada siapapun. Penembakan yang dilakukan oknum Brimob tidak bisa dijadikan dasar untuk mengeneralisasi kasus. Karena itu, kasus yang satu dengan yang lain tidak bisa dibuat satu kesimpulan yang sama. Meskipun pelakunya sama-sama aparat.

“Penembakan orang terdekat itu bukan khas polisi. Bisa menimpa siapa saja. (Yang bukan polisi) Nggak ada pistol kan bisa saja¬† ambil pisau lalu membunuh,” ujarnya.

Meski begitu, dia mendukung, pelaku kejahatan menggunakan senjata api harus dihukum berat. (bad/jpgrup)

Baca Juga:
> Ini Kasus Polisi Bunuh Keluarga hingga Atasan
> Oknum Brimob Tembak kepala Istrinya, Lalu Tembak Kepala Sendiri

Respon Anda?

komentar