HIPPI Kecewa Tak Diundang Menko Perekonomian

889
Pesona Indonesia
foto: seizin purnomo andiantono
foto: seizin purnomo andiantono

batampos.co.id – Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Kepri, menyesalkan secara tersurat tak diundang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam sosialisasi pengembangan kawasan Pulau Batam di Grand Ballroom Hotel Swissbell Harbour Bay hari ini, Senin (14).

Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian, Lukita Dinarsyah Tuwo yang menandatangani undangan tersebut dalam surat undangan nomor UND-21/SES.M.EKON/03/2016 yang diundang adalah Apindo Kepri dan Batam, Kadin Kepri dan Batam. Lalu Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri dan Batam, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kepri dan Batam, asosiasi terkait perdagangan dan industri Kepri dan Batam.

Secara tersirat memang ada disebutkan asosiasi terkait perdagangan dan industri Kepri dan Batam. Namun secara tersurat tak jelas siapa asosiasi yang dimaksud. Padahal, ada tiga anggota luar biasa dalam Kadin yaitu Apindo mewakili pengusaha besar, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) mewakili perempuan. “Dan HIPPI mewakili pengusaha menengah ke bawah dan pribumi,” ujar Ketua HIPPI Kepri, Insyah Fauzi kepada wartawan di Jodoh, Minggu (13/3).

Dalam sosialisasi tersebut, ada 12 pemateri terdiri enam menteri dan setingkat menteri lainnya yang menjadi narasumber. Ke-12 narasumber tersebut yakni Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Mendagri, Menkeu, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Perdagangan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional, Sekretaris Kabinet, Kapolri, Panglima TNI, Gubernur Kepri, Ketua DPRD Kepri, dan Wali Kota Batam.

Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk membenarkan HIPPI termasuk anggota luar biasa Kadin. Tapi, pihaknya tak bisa berbuat apa-apa karena hanya menghadiri undangan dari Kemenko Perekonomian saja. “Ya, datang saja. Anggap saja itu masuk dalam asosiasi terkait dan perdagangan industri,” kata Jadi.

Insyah berpandangan, untuk memajukan Batam harus dimulai dari persiapan infrastruktur dan hiburan. Ia mencontohkan Singapura dan Johor Bahru, sudah mempersiapkan infrastruktur yang bagus dan berbenah dunia hiburan.

“Lihatlah Singapura punya Universal Studio, Johor Bahru Malaysia punya Legoland. Indonesia punya Dunia Fantasy (Dufan) Ancol, tapi kalah tenar dibandingkan dengan Universal dan Legoland. Nah, untuk pengembangan Batam pun harus dibenahi dulu infrastrukturnya baru dunia hiburan,” saran Insyah jika pada saat sosialisasi ini pihaknya ikut hadir.

Untuk itulah, kata Insyah, perlu keikhlasan hati pemimpin negeri ini untuk memajukan Batam. “Sangat mirislah, Batam dulunya tempat negara lain belajar Free Trade Zone (FTZ). Tapi, sekarang Batam entah mau jadi FTZ atau kawasan ekonomi khusus (KEK) pun kami masih bingung. Jadi, tolonglah singkirkan kepentingan dan hati yang ikhlas memajukan Batam,” sarannya lagi. (ash/bpos)

Respon Anda?

komentar