Lingga Masih Defisit Anggara, Daya Beli Menurun, Pasar Sepi

582
Pesona Indonesia
Pedagang ayam di Pasar Rampai Rezeki di Daik sepi pembeli. foto:hasbi/batampos
Pedagang ayam di Pasar Rampai Rezeki di Daik sepi pembeli. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Defisit yang terjadi di kabupaten paling selatan Provinsi Kepri ini, ternyata tidak hanya dikeluhkan oleh jajaran pemerintah daerah. Lebih parah lagi, hal ini membuat daya beli masyarakat menurun. Akibatnya pasar sepi.

Pantauan dilapangan, salah satu pasar tradisional, Pasar Rampai Rezeki di Daik, ibukota kabupaten Lingga sepi dan semakin suram. Sebabaya beli menurun. Sementara harga kebutuhan semakin tinggi. Kondisi ini jelas diakibatkan minimnya perputaran uang di Daik Lingga.

Atan, salah seorang pedagang ikan dan daging ayam mengaku kewalahan dengan kondisi ini. Pasar dikatakannya selalu sepi sejak beberapa tahun terakhir. Jam sibuk hanya terjadi mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB pagi.

“Kita sewa meja 1 tahunnya Rp 4 juta, tapi tengoklah pasar sepi betul,” tutur Atan, Minggu (13/3).

Diakuinya, rata-rata pembelinya di Pasar Rampai Rezeki adalah para pegawai dan honorer pemerintahan. Sebagai pusat ibukota, Daik menjadi tempat tinggal oleh masyarakat yang notabenenya pekerja di pemerintahan. Baik itu PNS, maupun honorer. Mau tidak mau, kondisi defisit keuangan Pemkab Lingga ini juga berdampak besar terhadap keberlangsungan pasar. Ditambah lagi, minimnya lapangan pekerjaan dari pihak swasta yang membuat ekonomi di Lingga stagnan dan lumpuh.

“Harga ikan Rp 35 sampai Rp 40 ribu perkilogram. Ayam pernah naik sampai Rp 40 ribu. Kita juga tidak berani ambil banyak dari nelayan dan peternak ayam. Daya beli benar-benar turun. Kalau ambil lebih, malah kita yang merugi,” tutupnya.(mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar